
Tidak ada hal yang lebih indah dari sebuah pernikahan. Akan tetapi jika di dalamnya dibangun dengan penuh kebohongan, maka jangankan untuk bisa terlihat sempurna, tidak hancur pun sudah merupakan sebuah keberuntungan.
Kini sepasang suami istri itu terluka parah. Syafea harus dirawat intensif di Rumah Sakit. Hal yang mengejutkan adalah ketika dokter mengatakan jika Zayd lupa mengalami amnesia retrograde.
"Lalu bagaimana dengan istrinya kalau sampai dia amnesia, dok?" tanya Umi terlihat khawatir.
"Tenang, amnesia jenis ini akan berangsur pulih setelah beberapa saat. Saya yakin seiring berjalannya waktu semua akan kembali."
"Kalau boleh tahu itu amnesia jenis apa, dok?" tanya Abah memastikan.
"Amnesia retrograde adalah jenis penyakit yang membuat pasien kesulitan untuk mengingat beberapa kejadian sebelumnya."
"Maksud dokter dia tidak akan mengingat semua hal yang sudah terjadi seperti istri dan keluarganya?"
Dokter Michael mengangguk perlahan. Ia tahu jika mereka sangat terkejut dengan hal yang terjadi saat ini. Akan tetapi inilah yang terjadi sesungguhnya. Tidak baik pula jika menyembunyikan kebenaran tentang hal ini.
Saat kedua mertuanya sedang menemui dokter, Aletta mencoba menghubungi seseorang yang sudah dianggap keluarganya sendiri.
"Assalamu'alaikum dokter Hadi, ini Aletta."
"Wa'alaikum salam Aletta, akhirnya kamu menelpon juga. Ayahmu sudah menanyakan kabarmu dari kapan hari."
"Maaf, dok. Tugas sekolah terlalu banyak."
"Ya, aku memaklumi itu, apalagi di sana kamu juga harus beradaptasi dengan baik. Akan tetapi kamu tidak perlu khawatir. Beruntung kesehatan beliau semakin membaik."
"Alhamdulillah, dokter. Terima kasih karena sudah menjaga ayah dengan baik."
Tangis Aletta pecah, ia tidak menyangka jika hal yang diputuskan secara sepihak kini membuatnya terjerat akan sebuah hubungan rumit. Jika ingin kembali tentu saja hal itu justru semakin sulit untuk dilakukan.
Bagaimana pun di rahimnya sudah ada janin antara dirinya dengan Zayd. Tangannya terulur untuk memegang perutnya yang masih rata itu.
Keheningan semakin terjadi. Dokter Hadi sempat mendengar jika ada suara isak tangis di seberang telepon, meski suaranya begitu lirih. Maka dari itu ia memilih untuk mengajak Aletta berbicara kembali.
"Aletta, apakah kamu baik-baik saja, apakah sekolahmu lancar di sana?"
__ADS_1
"A-alhamdulillah lancar, dok."
Semakin banyak pertanyaan yang diberikan oleh dokter Hadi semakin membuat sakit hatinya. Lututnya bergetar hebat. Tangannya mencari pegangan pada dinding Rumah Sakit. Aletta begitu rapuh.
Terlambat, kini tubuhnya luruh ke bawah. Beban yang menghimpit tubuhnya terlalu berat untuk Aletta. Bungkamnya Aletta dapat dimengerti oleh dokter Hadi. Beban seberat itu harusnya tidak dipikul oleh anak remaja seusia Aletta.
"Aletta, apakah kamu masih berada di sana? Kalau iya katakan sesuatu untukku."
Aletta tampak mengusap air matanya. Mencoba membuang nafas dengan perlahan agar sesak di hatinya kian berkurang.
"I-iya, aku masih di sini, dokter. Maaf, aku terlalu bahagia ketika mendengar kondisi Ayah yang semakin membaik."
"Iya, semua berkat doa-doa yang kau panjatkan untuk beliau."
"Kamu jangan terlalu bersedih. Ayahmu akan baik-baik saja di sini. Jangan menyia-nyiakan beasiswa yang kamu dapat, oke."
"Oke, dokter."
Demi memberikan kesan baik-baik saja, kini Aletta tersenyum manis lalu kembali berbicara dengan dokter Hadi. Akan tetapi secara tidak sengaja Umi melihat wanita menangis dari dinding dibalik ruangan tersebut.
"Kenapa seperti suara Aletta? Lalu ia berbicara dengan siapa?"
"Begitu besar beban yang kau pikul, Nak. Izinkan Umi dan Abah membantumu. Bagaimanapun caranya, Umi akan membuat Zayd mencintaimu."
Umi merasa tidak kuat jika terus mendengarkan percakapan Aletta, maka dari itu beliau memilih untuk pergi mencari suaminya.
Tidak berapa lama kemudian percakapan antara Aletta dan dokter Hadi terhenti. Beruntung Umi sudah pergi menjauh dari tempat itu, sebelum tindakannya diketahui oleh Aletta.
Setelah mengetahui keadaan ayahnya baik-baik saja, kini Aletta mengusap sisa-sisa air matanya.
"Alhamdulillah, Ayah sudah membaik. Semoga kesehatan selalu mengiringi langkah hidup ayah, aamiin."
Setelah merasa nyaman dan tenang, Aletta lebih memilih untuk kembali bergabung dengan keluarga Zayd. Langkah kakinya yang kecil mampu membuatnya kembali dan menemui mertuanya.
Melihat sisa air mata yang terlihat di wajah Aletta membuat hati Umi sakit. Namun, ia menutupi semuanya agar tidak terlalu kelihatan jika Umi sudah mengetahui rahasia Aletta.
__ADS_1
"Darimana saja, Nak. Kenapa lama, apakah kamu lupa jika jam segini waktunya kamu minum susu ibu hamil?"
"Astaghfirullah, maaf Umi, Aletta lupa," ucapnya dengan gaya anak muda.
Bagaimana pun Aletta memang masih sangatlah muda. Bahkan dirinya terlihat masih remaja meskipun sedang hamil muda.
"Ya sudah, untung Umi bawa kemasan sachet. Ayo ikut Umi untuk menyeduhnya."
Aletta mengangguk lalu mengikuti langkah kaki Umi. Ternyata Umi membawa Aletta ke kantin Rumah Sakit. Ia meminta air hangat untuk menyeduh susu.
"Nah, ini sudah siap, ayo kita duduk di sana!"
Aletta tersenyum lalu mengikuti Umi. Awalnya Aletta sangat mual meski hanya untuk meminum susu. Lama kelamaan hal itu masih terjadi. Hanya saja dengan telaten Zayd selalu menemani dan membuatkannya susu ibu hamil.
Tidak lupa Zayd dengan sabar menuntun Aletta agar lebih suka mengikuti senam ibu hamil. Kedekatan mereka semakin terjalin ketika Syafea selama satu minggu kemarin tidak pulang ke rumah.
Menyadari menantunya melamun, Umi menegur menantunya. "Aletta Sayang ...."
"Eh, iya Umi ada apa?"
"Kenapa bengong? Apakah kamu memikirkan suami kamu?"
Aletta tersipu dan hal itu sukses membuat Umi bisa mengetahui jika rasa cinta mereka sudah mulai tumbuh. Sayang, masih ada ujian yang terjadi di antara hubungan mereka.
"Maafkan Umi yang datang terlambat. Meskipun begitu, Umi juga bersyukur karena tahu jika takdir Tuhan untuk mempertemukan kalian sangat unik."
Aletta sudah menghabiskan susu ibu hamil tersebut. Entah mengapa bayangan Zayd yang menghapus sisa susu di sudut bibirnya membuat kerinduan terasa membelenggu jiwa.
"Baru kali ini aku merasakan sebuah hal yang aneh dan tumbuh di dalam hatiku."
"Jika rasa ini salah, maka hapuskanlah Ya Allah. Namun, jika ini adalah sebuah takdir baik untuk kami, tolong tumbuh suburkan rasa cinta ini di dalam hati."
"Selamatkanlah Mas Zayd, sama seperti karunia dariMu yang membuat dia tumbuh di dalam sini!"
Tangan mungil Aletta mengusap lembut perutnya. Umi yang melihat hal itu sangat bahagia.
__ADS_1
"Semoga kelak Aletta bisa menjadi istri Zayd yang sesungguhnya. Agar kelak aku bisa melihat putraku bahagia dunia akhirat karena memiliki istri yang Solehah, Aamiin."
Ternyata Umi selalu mendoakan kebaikan untuk menantu dan putranya.