
Berita tentang kericuhan yang terjadi di dalam Rumah Sakit tempat dokter Hadi bekerja telah menjadi tranding topik hari itu. Raut kecemasan dan kekhawatiran terlihat jelas di wajah Aletta yang baru saja membaca artikel itu.
"Kamu pasti khawatir dengan keberadaan Bapak?"
Aletta tampak menggangguk, lalu kembali menyelipkan doa-doa setelah ia selesai membaca berita tentang kericuhan di Rumah Sakit tempat dokter Hadi bekerja.
"Maaf, rencana kepulangan kita ke Indonesia boleh dipercepat tidak?" tanya Aletta setengah memohon kepada Zayd.
Zayd menghela nafasnya, "Sebaiknya kita memang harus mempercepat kepulangan kita ke tanah air!"
Ia menggenggam tangan sang istri lalu mengecupnya, "Nanti biar dibicarakan dengan Iki dan Abah. Kamu tenang saja."
Aletta kini sedikit lebih tenang, entah mengapa ada kedamaian yang dirasakan ketika berdekatan dengan Zayd. Mungkin juga karena sudah terbiasa, sehingga mau tidak mau ia pun merasa sangat bahagia.
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja.
Aletta mengangguk, "Terima kasih Abi."
"Sama-sama, Sayang," Zayd mengecup kening Aletta lalu merengkuh ke dalam pelukannya."
"Selama ada aku disisimu, insyaAllah semuanya akan baik-baik saja."
Sesuai dengan perkataan Zayd kepada Aletta, selepas memastikan Aletta terlelap, ia keluar dari kamar lalu segera menuju kamar kedua orang tuanya.
"Assalamu'alaikum ...."
"Wa'alaikumsalam, masuk Nak!"
__ADS_1
"Maaf, menggangu waktunya sebentar."
"Masuklah!"
Tidak perlu menunggu waktu lebih lama lagi, kini Zayd langsung mengatakan semuanya. Umi dan Abah setuju dengan permintaan Aletta.
"Mungkin inilah cara yang diberikan Allah agar kita bisa segera pulang."
"Betul sekali, semoga saja semuanya baik-baik saja, Aamiin."
Setelah memastikan semuanya sudah siap, dengan didampingi oleh Umi dan Abah, kini Zayd, Aletta dan Baby Noe melakukan penerbangan kembali ke Indonesia. Mereka merasa jika ada sebuah hal yang harus dilakukan dengan sangat hati-hati.
......................
"Bagaimana dengan keadaan Anda, Pak?"
"Alhamdulillah baik," jawab Pak Rahmat dengan wajah yang masih letih.
"Enggak apa-apa," Pak Rahmat tampak sungkan mengatakan keinginan hatinya sekali lagi. "Akan tetapi bisa menolong saya sekali lagi tidak, Nak?"
Joko menyeruput kopi hitamnya, "Menolong tentang apa, Pak. Kalau soal materi saya tidak mempunyai apapun. Bapak bisa melihat sendiri keadaan rumah ini."
"Antar Bapak ke terminal, Bapak ingin pulang ke desa saja."
"Kenapa mendadak seperti ini, Pak?"
"Entah mengapa Bapak merasa jika harus mempercepat perjalanan ini."
__ADS_1
Jauh di dalam lubuk hatinya, Pak Rahmat tidak bisa jujur ataupun percaya begitu saja dengan pemuda yang baru saja ditemukan olehnya. Ditambah lagi ada amanah dari dokter Hadi membuatnya harus segera mempercepat langkahnya.
Di sisi lain, Zayd dan juga Aletta segera mengemasi barangnya. Sore hari nanti mereka akan segera terbang ke Indonesia.
"Semuanya sudah siap?"
"Sudah, kalau begitu bersiaplah."
Tiba-tiba saja Umi berlari dari arah belakang menyusul Zayd dan Aletta. Tentu saja Zayd mengerutkan keningnya karena terkejut.
"Ada apa, Umi?"
Umi menyodorkan sebuah bungkusan kepada Aletta dan mengusap beberapa kali kepala Baby Noe lalu meniup ubun-ubunnya.
"Itu apa?"
"Bawa aja, ini lemah batur (tanah tempat mengubur ari-ari). Wajib dibawa kemanapun Baby Noe pergi. Biar tidak rewel."
"Bukannya ini termasuk musy--?"
"Percaya atau tidak, saat kamu seusia Baby Noe, Umi juga melakukan hal yang sama."
Akhirnya mau tidak mau Zayd menuruti perkataan Umi. Begitu pun dengan Aletta yang sama sekali tidak protes terhadap apapun yang dilakukan Umi kepada babynya. Aletta beranggapan, jika orang tua itu lebih berpengalaman ketika merawat seorang bayi dibandingkan kepada kedua orang tua yang baru saja memiliki bayi.
"Percayalah jika Umi dan Abah sudah berpengalaman tentang hal ini."
"Hhh, baiklah."
__ADS_1
......................
Terkadang apa yang terlihat dan tidak terlihat itu mempunyai dunianya masing-masing. Sehingga sebagai manusia dan mahluk ciptaan Allah sebaiknya kita selalu menghormati setiap ciptaannya di manapun kita berada.