
Rupanya apa yang ditakutkan Zayd terjadi. Kini Aletta terkena vonis dari dokter bahwa dirinya mengidap kanker otak stadium dua. Hal itu memang tidak terkedeteksi, tetapi saat kondisinya melemah sama seperti saat ini hal itu mudah untuk dideteksi.
"Dokter nggak salah kasih vonis, 'kan? Bukankah seharusnya orang sakit kanker itu bisa di deteksi sejak awal? Kenapa baru sekarang?" ucap Zayd pasrah.
Bagaimana pun ia baru saja mau merengguk kebahagiaan. Akan tetapi berita yang baru saja didengar menandakan jika ia harus banyak bersabar lagi. Wajahnya seketika pucat. Ia tidak bisa mengatakan secara langsung pada Aletta maupun keluarga besarnya.
"Apa yang harus dilakukan agar penyakitnya tidak bertambah parah?"
"Sementara ini harus mengkonsumsi obat rutin, akan tetapi hal itu akan sangat berpengaruh pada ASI yang akan diberikan kepada putranya."
Bagaimana bisa ia membuat Baby Noe kehilangan asupan paling berharga dari ibunya sendiri. Zayd mengusap gusar wajahnya.
Banyak pikiran yang berkecamuk menghantui dirinya. Ia tetap bisa bertahan asalkan Aletta bisa sembuh secepatnya. Sementara itu Aletta mengingat bahagiamana ia dulu pernah terkena mimisan.
Ayahnya sangat khawatir pada putrinya itu. Saat ini pun Aletta sangat merindukan ayahnya.
"Bapak, dimana Bapak sekarang?" ucapnya lirih.
Meskipun lirih, Zayd bisa mendengarnya. Hatinya bagai tersayat sembilu, ingin mengatakan kebenaran tetapi takut menyakitinya.
Dalam hati Zayd berdoa semoga indentifikasi dari dokter tadi salah, sehingga ia bisa bahagia bersama Aletta dan Baby Noe. Di sisi lain Syafea sudah keluar dari Rumah Sakit. Ia pun menyusul Zayd kembali ke tanah air.
Ia sudah tidak tahan tinggal menjauh dari keluarganya. Maka dari itu ia pun memutuskan untuk segera kembali ke rumah orang tuanya. Meski dengan rasa malu yang luar biasa.
Bagaimanapun Syafea hidup selalu bahagia. Memamerkan kehidupan yang terlihat bahagia bersama Zayd. Keluarganya bahkan tidak tahu jika putrinya itu cacat dan sudah bercerai dengan Zayd.
__ADS_1
"Bagaimana jika Mama dan Papa marah besar?"
Pertanyaan itu selalu menghantui Syafea, tetapi ia harus tetap bisa meyakinkan keluarganya jika ia baik-baik saja.
Safa yang sudah selesai bertugas kini melintas di lorong. Secara tidak sengaja ia melihat sosok wanita yang pernah dilindungi kakaknya.
"Bukankah itu wanita yang namanya Aletta? Apakah dia sudah kembali?"
Dengan segera ia meminta bagian informasi tentang pasien yang dirawat di Ruang Anggrek itu.
"Sus, maaf mau tanya siapa pasien yang dirawat di Ruang Anggrek itu namanya siapa?"
"Sebentar, dok."
Dalam beberapa saat kemudian akhirnya suster bisa menemukan data diri pasien.
"Alhamdulillah sudah. Nama pasien itu adalah Nyonya Aletta Kirana Dewi."
Deg
Seketika detak jantung Safa berdetak sangat kencang. Bahkan membuat telapak tangannya mengeluarkan keringat dingin.
"Akhirnya bisa menemukan wanita itu. Harus secepatnya memberi kabar ini pada Pak Rahmat," gumam dokter Safa sambil menekan nomor rumahnya.
"Terima kasih, Sus?"
__ADS_1
"Sama-sama, dok."
Benar saja setelah berpindah ruangan, kini dokter Safa segera menelpon rumah.
"Assalamu'alaikum, Pak Rahmatnya ada, Bik?"
"Ada, tunggu sebentar saya panggilkan."
Tidak berselang lama, Pak Rahmat lewat depan Bik Sumi. Lalu setelahnya ia pun meminta Pak Rahmat untuk mendekat.
"Pak Rahmat, maaf Bu Safa ingin berbicara dengan Anda."
"Oh, iya baik."
"Hallo, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, begini Pak Rahmat. Sepertinya putri bapak sudah saya temukan."
"Be-benarkah?"
"Benar, nanti saya suruh sopir untuk mengantarkan Bapak kesini. Sekarang bapak bersiaplah."
"Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah. Baik, Bu. Terima kasih."
Akhirnya penantian panjang itu berakhir. Sebentar lagi Aletta akan bertemu dengan Bapak nya. Semoga kebahagiaan mereka tidak akan terganggu dengan kebenaran yang akan terungkap setelah ini.
__ADS_1
Ehem, siapa yang penasaran? Maaf ya othor sakit beberapa hari, sehingga tidak bisa up teratur🙏