ISTRIKU, PENUTUP AIBKU

ISTRIKU, PENUTUP AIBKU
Part 62. PENYESALAN


__ADS_3

Setelah mendapatkan telepon dari bibinya, Rafa segera datang ke kantor Kedutaan Besar untuk menjemput anggora keluarganya. Di antaranya tentu saja ada Umi dan Abah disana.


"Bagaimana pun mereka tetap saja harus segera diketemukan, kalau tidak pasti akan menimbulkan perdebatan di antara mereka."


"Oh, ya apakah pernikahan mereka itu diatur oleh Syafea?"


"Sepertinya begitu, makanya mereka tidak ada yang menentang dan justru menurut padanya."


"Tidak menyangka jika Syafea bisa bersikap seperti itu."


"Betul sekali."


Setelah beberapa saat rupanya ada sebuah mobil yang datang menghampiri sekumpulan orang tersebut. Mereka duduk di pojok bagian halaman depan kantor.


Melihat saudaranya di sana, Rafa segera turun dari mobil. Ia berjalan ke arah mereka dan menyalami satu persatu anggota keluarga Zayd.


"Nah ini lo keponakan Mas Danu yang tinggal di sini, gagah dan tampan, 'kan?"


"Iya, tampan persis sekali dengan suamimu itu."


Rafa hanya tersenyum ketika menanggapi pujian dari Tante-tantenya. Melihat wajah-wajah kelelahan dari mereka, Rafa segera mengajak mereka pergi.


"Mohon maaf sebelumnya, karena hari sudah hampir petang, sebaiknya kita segera pergi!"


"Oh, iya-iya, nggak apa-apa."


Tidak mau membuang waktu lebih lama lagi, Rafa segera mengajak mereka untuk bergegas naik ke dalam mobil dan melajukan arah mobilnya menuju rumah miliknya.

__ADS_1


Rafa adalah saudara sepupu Zayd. Akan tetapi karena ia sudah lama tinggal di Jepang, tentu saja mereka belum pernah bertemu lagi. Di tambah lagi saat ini ia harus tinggal menetap di Jepang karena urusan bisnis ayahnya.


Usia Rafa baru dua puluh tiga tahun. Akan tetapi wajahnya yang baby face membuat ia tampak masih remaja. Mungkin hal itu pula yang membuat Aletta jika bertemu dengannya merasa tidak nyaman karena sikapnya yang agak terlalu 'celengekan' ketika bertemu dengannya.


Padahal jika menilik lebih dalam lagi, sikap Rafa sebenarnya tidak jauh dari Zayd yang memiliki aura kepemimpinan. Sementara itu Althaf jauh lebih lembut ketika bersama wanita dan tangguh ketika menjalankan bisnis.


Jika saja Aletta tidak terikat benang merah dengan Zayd, mungkin Althaf akan memperjuangkan cintanya terhadap Aletta.


......................


Di Rumah Sakit.


Dokter Michael menoleh dan kembali memeriksa kondisi kesehatan Syafea sejak ia memanggil nama Zayd tadi. Meskipun samar-samar akan tetapi ia masih bisa memastikan jika pendengarannya tidak salah.


Kekhawatiran yang sempat menderanya, kini juga perlahan telah menghilang. Saat ini ia bisa memastikan jika Syafea sudah dinyatakan bangun dari koma.


"Terlepas dari semua kesalahan yang kau perbuat, itu sudah menjadi ranah rumah tangga kalian."


Namun, kondisi Syafea masih sangat lemah. Meskipun begitu saat ini dokter Michael masih menunggu di samping brankarnya.


"Michael, bisakah kau panggil Zayd untukku?" ucap Syafea lirih.


Dokter Michael tampak mengusap kepalanya berkali-kali. Syafea yang paham akan sikap dokter Michael hanya bisa menghela nafasnya.


"Apakah ia tidak mau datang ke sini?"


"Kalau kamu tahu hal itu, kenapa kamu masih bertanya padaku?"

__ADS_1


Syafea tersenyum masam lalu menatap langit-langit kamar inapnya. Secara reflek ia mengusap perutnya yang tiba-tiba saja rata. Panik, tentu saja iya. Apalagi saat ini ia sedang mengandung anak Hyu Jin. Jika ia tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya apakah ia bisa selamat.


Seketika kening Syafea mengeluarkan keringat dingin. Tangannya gemetar lalu menoleh ke arah dokter Michael.


"Di mana dia, Mich?"


"Dia siapa?"


"Kau tidak usah berbohong lagi, di mana bayinya?"


Bagaikan seorang ibu yang sangat mencintai calon anaknya, itu pula yang dirasakan oleh Syafea ketika menyadari jika perutnya sudah rata. Bukankah itu sama saja artinya dengan ia telah keguguran?


Dokter Michael tetap bungkam akan semua pertanyaan yang dilontarkan oleh Syafea. Maka dari itu ia pun lebih memilih untuk membiarkan Syafea sendirian. Ia pun beranjak pergi, tetapi sebelum ia keluar kamar dokter Michael menoleh ke arah Syafea.


"Setelah ini ada dokter Anisa spesialis kandungan yang akan datang ke sini dan menjelaskan semuanya padamu."


Perasaan Syafea sangat kacau. Di tambah lagi tidak ada seseorang yang sangat ia cintai di dekatnya. Itu sama saja dengan dirinya saat ini tidak berarti untuk siapapun.


"Tuhan, kenapa kau jahat sekali!" rutuk Syafea di dalam hatinya.


......................


..."Setiap perbuatan itu pasti ada balasannya. Sebentar apapun ujian yang mendera, jangan sampai kau menggadaikan imanmu."...


Oke sambil nunggu up yang agak lama dari othor, mampir dulu di karya teman Fany. Ditunggu ya, makasih.


__ADS_1


__ADS_2