
Semakin lama kondisi Syafea semakin drop, karena kontraksi yang begitu hebat membuat bayi dalam kandungan Syafea terpaksa ia harus dibawa ke Rumah Sakit.
"Maaf dok, saat ini pasien tidak ada yang tahu keluarganya.”
"Tidak mengapa Sus. Lakukan yang terbaik."
Dokter Michael menatap temannya itu.
"Pasien harus dikiret, Sus. Cepat lakukan sesuai prosedur. Terlebih lagi jika ia terus mempertahankan kandungannya justru akan membahayakan dirinya."
"Bagaimana ini? Apakah kita harus menghubungi suami pasien dok?"
"Aku kenal dengan suaminya, suster lakukan sesuai prosedur kesehatan yang berlaku!"
"Ba-baik, dok."
Dokter Michael melihat Syafea dengan hati miris. Ia tidak menyangka jika mereka justru membuat Syafea seperti pesakitan. Akan tetapi sikap profesional sebagai seorang dokter menuntutnya agar tetap bisa segera menyelamatkan Syafea.
"Mungkinkah ini karma bagimu? Akan tetapi apapun itu semoga kamu baik-baik saja."
Setelah membiarkan semuanya berjalan sesuai dengan prosedur hukum, maka dokter Michael segera menghubungi Zayd. Tentu saja ia merasa tidak nyaman dan sangat khawatir padanya.
__ADS_1
"Bagaimana kalau aku tidak datang kesana? Aku takut jika semua ini justru membuat hubungan kami semakin renggang."
Dokter Michael tampak menghela nafasnya. Ia juga tidak bisa memaksa Zayd untuk melakukan semua hal yang tidak ia sukai. Bagaimanapun ia tahu bagaimana hubungan antara Zayd dan Syafea saat ini.
"Aku tidak akan memaksamu, tetapi hanya satu pintaku jagalah istrimu baik-baik. Aku takut jika nanti kamu harus menjaganya dengan ekstra."
"Baiklah."
Meski Syafea pernah berada di dalam hatinya selama bertahun-tahun, entah kenapa saat ini Zayd sudah tidak menganggapnya ada. Buktinya saat ini Zayd sama sekali tidak pernah mau tinggal satu atap dengannya lagi.
Jangankan cinta, mau memandang saja sudah alhamdulillah. Meskipun begitu Zayd memang belum datang kepadanya. Sejak ia menemukan surat keterangan kehamilan atas nama Syafea. Pada saat itulah Zayd berjanji akan menyelidiki kasus ini dengan sangat hati-hati.
Apalagi Zayd mempunyai seorang istri dan ia juga dalam keadaan hamil. Jika Zayd menolak, tentu ia akan merasa bahagia, karena dengan begitu Zayd tidak melukai hati Aletta.
"Abi, ini tehnya," ucap Aletta dengan perlahan.
Zayd segera menoleh ke arah istrinya dengan tersenyum. Ia menyentuh tangan Aletta dan mengecupnya.
"Aku ada pembicaraan penting, bisakah kamu menunggu di luar sebentar?"
Aletta mendongakkan wajahnya untuk bisa menatap wajah tampan suaminya.
__ADS_1
"Bisa, Abi. Tunggu sebentar ya."
Setelah itu, Aletta segera melangkah pergi. Namun, ia tidak serta merta pergi dan membiarkan mereka berdua mengobrol di dalam telepon dan ia menguping di belakang pintu.
Seolah tersayat, rupanya kenyataan yang baru saja dilontarkan Zayd pada Syafea harus sepadan.
Meskipun samar-samar, tetapi Aletta bisa mengetahui hal itu.
"Syukurlah kalau Kak Syafea sudah ketemu. Setidaknya mereka bisa bersama," gumam Aletta.
......................
Maaf belum bisa up full, tapi sambil nunggu up boleh dong baca novel karya teman Fany, makasih.
ARUMI
(MinNami)
Ditinggalkan di hari pernikahan dan berujung menikah dengan calon kakak iparnya. Takdir itulah yang membawa Arumi pada kehidupan pahit yang harus dia jalanin.
Arumi terus berusaha tegar meski banyak yang membencinya. Arumi harus menegakkan kepalanya meski banyak yang ingin dia jatuh.
__ADS_1
Lantas mampukah Arumi bertahan atau justru menyerah karena takdir tidak berpihak padanya?