
Dikarenakan Aletta mengalami morning sickness yang parah, hingga terasa begitu menyiksa, maka mau tidak mau hal itu membuat Aletta pingsan. Berakibat ia harus dirawat beberapa hari di Rumah Sakit karena kondisinya belum stabil.
"Aletta, bangunlah ... kamu harus kuat!" seru Zayd sambil meneteskan air mata.
Baru kali ini Zayd merasa tersentuh hatinya melihat seorang wanita begitu besar perjuangannya ketika hamil. Ia tidak menyangka harus melibatkan Aletta dalam kasus ini.
Ternyata perjuangan untuk mendapatkan seorang anak begitu besar, sehingga mau tidak mau Zayd menetapkan Aletta di dalam hatinya.
Seharusnya yang berada di atas brankar adalah Syafea yang mengandung putranya. Akan tetapi Tuhan berkehendak lain. Rupanya lewat tangan Tuhan ia dipertemukan dengan Aletta.
Buliran air mata itu terus mengalir dari kedua mata Zayd Abdullah. Hingga akhirnya tetes air matanya jatuh luruh mengenai jemari tangan Aletta.
Kedua mata indah milik Aletta itu mulai bergerak, hingga sesaat kemudian beberapa jemari lentik tangannya bergerak perlahan untuk memegang Zayd.
"Abi ...."
Suara lirih dari bibir Aletta mampu membuat Zayd sangat bahagia. Zayd tampak mendongakkan wajahnya mencoba untuk memastikan apakah Aletta benar-benar sudah siuman atau belum. Mengetahui jika istri kecilnya sudah siuman, Zayd mengucapkan rasa syukur kepada sang pemilik kehidupan.
"Terima kasih Ya Allah, akhirnya kau memberikan kesempatan kepadaku untuk mencintai anak dan istriku."
Tanpa menunggu waktu yang lebih banyak lagi ia segera memeluk tubuhnya tersebut. Aroma obat-obatan menguar di dalam indra penciuman Aletta membuatnya sedikit mual.
__ADS_1
"Di mana ini?"
"Kamu di Rumah Sakit, Sayang."
"Di Rumah Sakit? Kenapa?"
"Ada beberapa hal yang membuat kamu di rawat di sini, akan tetapi Sayang nggak usah khawatir karena sebentar lagi kamu pasti pulang."
"Yang terpenting kamu dan bayi kamu kuat!" ucap Zayd sambil mencium punggung tangan Aletta.
Tersentuh, tentu saja. Apalagi menyadari jika ada sesuatu yang membuat mereka semakin terikat satu sama lain. Akan tetapi ketakutan terbesarnya sunggu sangat terasa. Saat ini Aletta ketakutan jika kebahagiaan sesaat yang dirasakan saat ini akan membuatnya semakin berat melepas suami kontraknya.
Merasa jika istrinya banyak melamun, maka Zayd pun menegur Aletta.
"Sayang, jangan melamun. Orang hamil nggak boleh melamun."
"Astaghfirullah. Maaf Abi."
Meskipun hanya perhatian kecil tetapi Aletta bahagia. Di sisi lain Syafea mengabarkan jika ia sedang bersantai dan menikmati enaknya camilan untuk Ibu hamil. Sama seperti yang dimakan Aletta, Syafea juga ikut memakannya. Apalagi harga dan barang yang digunakan kedua istri Zayd itu sama.
Ketika Syafea sibuk dengan camilan, tiba-tiba terdengar dering telepon rumah. Dengan langkah terburu-buru, suster yang merawatnya segera mengangkat telepon. Beruntung suster sudah terlalu sayang dengan Syafea meksipun ia kini terkena disabilitas.
__ADS_1
"Maaf Nyonya, ada telepon dari Indonesia," ucap salah seorang asisten tidak sengaja mengangkat telepon.
"Iya, Sus. Tolong bantu saya ke sana."
Tentu saja makanan yang penuh tadi kini udah turun ke perut Syafea. Dengan diangkatnya telepon tadi, terpaksa ia harus menunda acara ngemil paginya.
"Kamu lapar nggak, Sayang?"
"Iya, A-abi."
"Jangan gugup ataupun takut, karena setelah kamu melahirkan di Negera ini. Aku akan menikahimu secara resmi."
Belum sempat Aletta berbicara rupanya, Zayd sudah berdiri.
"Tunggu, aku belikan makanan sehat untukmu."
Zayd berjalan dari luar pintu untuk mencarikan makanan untuk Aletta. Sehingga ia tidak bisa menjaganya setiap waktu. Tiba-tiba seorang laki-laki yang menatap Aletta dari kaki hingga kepala.
"Maaf, Anda siapa--?"
"Aku adiknya Zayd sehingga sejak Umi berada di Indonesia, maka aku yang akan menggantikannya menjagamu."
__ADS_1