ISTRIKU, PENUTUP AIBKU

ISTRIKU, PENUTUP AIBKU
Part 48. KANGEN


__ADS_3

Aletta bersyukur karena Kelarrga Althaf menyambutnya dengan nyaman. Sama seperti pagi ini ketika mereka semua mengajaknya sarapan, tampak keakraban yang ditunjukkan oleh mereka semua.


"Oh, ya Kak, gimana kalau kita pergi beraktifitas, lalu Kak Aletta dengan siapa?"


Althaf tampak berpikir sejenak. Lalu menoleh ke arah Aletta.


"Alleta kamu mau tinggal di rumah ini sendirian atau ikut aku ke kantor?"


Alletta tampak menggeleng, sementara itu Althaf yang sudah tahu akan ketakutan Aletta pun akhirnya mengiyakan permintaan Alletta kemudian.


"Baiklah kalau begitu. Nanti kalau kammu butuh apapun jangan lupa untuk telfon. Nomorr ponselnya sudah ditulis di buku telepon."


"Iya, terima kasih."


Setelah beberapa saat rupanya, mreka benar-benar meninggalkan Aletta sendirian di rumah. Awalnya ia merasa aneh, akan tetapi ketika melihat beberapa buku, Aletta pun berinisiatif untuk mengambilnya.


"Untung ada buku-buku ini, jadi tidak terlalu kesepian di sini."


Waktu berlalu dengan cepat, sehingga tanpa Aletta sadari sudah masuk waktu dzuhur. Ada jamm khusus di sana yang selalu berbunyi untuk memperingatkan waktu ibadah sholat.


"Beruntung sekali bisa bertemu dengan keluarga Mas Althaf, setidaknya bisa bersama dengan orang yang baik."

__ADS_1


Beberapa hari kemudian.


Entah sejak kapan, Aletta menjadi lebih sering murung. Di tambah lagi ketika ia melihat kehangatan yang diberikan oleh keluarga lelaki tersebut membuat pikiran Aletta semakin mengingat keberadaan suaminya Zayd.


"Abi, kamu sedang apa?" tanya Aletta pada udara yang berada di sekelilingnya.


Althaf yang baru saja datang dan ingin memberikan makanan pada Aletta secara tidak sengaja melihatnya melamun. Akan tetapi satu hal yang membuat Althaf tiba-tiba menghentikan langkahnya yaitu ketika melihat salah satu tangan Aletta mengusap perutnya.


Althaf pun menduga jika ia sedang hamil saat ini. Namun, bukan kapasitasnya untuk menanyakan di mana keluarganya saat ini ataupun suami Aletta.


"Apakah Abi masih juga merindukan kami? ucap Aletta sambil mengusap perutnya yang sudah mulai membuncit.


Aletta segera bangun dan mulai melangkahkan kakinya ke depan. Rupanya ia ada Althaf yang tersenyum manis ke arahnya.


"Mas Althaf sejak kapan di situ? Maaf karena tidak menyadari kehadiran Mas."


"Nggak apa-apa, kamu sudah makan?"


Aletta tampak menggeleng lalu mulai tersenyum pada Althaf. Kini ia sudah tidak terlalu menutup diri. Aletta yakin jika Althaf dan keluarganya adalah orang baik.


Di tempat lain, Zayd terlihat acak-acakan saat ini. Sudah satu Minggu ia berpisah dengan Aletta. Hal itu pula telah sukses membuat Zayd frustasi.

__ADS_1


Hari ini pula, terpaksa Zayd harus mengambil beberapa berkas yang tertinggal di dalam rumahnya.


"Rasanya malas sekali ketika harus berhadapan dengan dia."


"Bagaimana pun, saat ini kau sudah berhasil menjalankan misimu setengah langkah. Maka jangan pernah berniat untuk berhenti."


Dorongan dari sahabatnya membuat Zayd kembali bangkit lalu ia pun mengemudikan mobilnya hingga sampai di apartemen miliknya bersama Syafea.


Betapa bahagianya Syafea melihat suaminya sudah kembali. Namun bukannya menyapa Syafea, ia justru melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke ruang kerjanya tanpa memperdulikan keberadaan istrinya itu.


"Mas, kamu mau kemana?" tegur Syafea secara langsung.


Zayd benar-benar masih marah pada keluarganya sendiri. Di tambah lagi ketika langsung naik ke ruang kerjanya dan mengabaikan keberadaan Syefa.


"Zayd kenapa kau mengabaikan aku dan aku menganggap yang ada di dalam rumah ini tidak berarti..


Kemarahan Syafea terlihat memuncak manakala Zayd benar-benar mengabaikan dirinya dan lebih memilih menjawab pertanyaan dari asisten rumah tangganya. Meskipun begitu rasa cinta untuknya sudah hilang.


Tanpa yang bertegur sapa, Zayd hanya berniat untuk membahagiakan istrinya seorang yaitu Aletta. Kehilangan Aletta sama saja dengan kehilangan dua orang paling berharga di dalam hidupnya.


Oleh karena itu Zayd tidak membutuhkan cinta yang lain lagi. Setelah merasa cukup mengambil beberapa berkas lalu segera pergi meninggalkan Syafea yang masih marah.

__ADS_1


__ADS_2