ISTRIKU, PENUTUP AIBKU

ISTRIKU, PENUTUP AIBKU
Part 30. TIDAK ADIL


__ADS_3

Syafea tampak memukul-mukul perutnya merasa tidak terima karena janin itu kini bersemayam di dalam rahimnya. Tentu saja semakin hari akan semakin berkembang. Seharusnya bukan janin dari Hyu Jin yang berada di dalamnya, tetapi milik Zayd.


Andaikan saja janin Zayd yang bersemayam di dalam sana, mungkin Syafea akan lebih bahagia dan tidak terluka seperti saat ini.


"Nggak boleh, semua ini nggak boleh terjadi, aku harus segera bertindak."


Ditambah lagi fisiknya sudah terluka. Kedua kakinya tidak bisa digerakkan sama sekali. Selama sisa hidupnya, Syafea harus bergantung pada kursi roda.


"Vonis dokter dan kenyataan ini sungguh menyiksaku!"


Sebuah vonis dari dokter yang mengatakan dia dia akan lumpuh selamanya, sungguh membuat semua harapan yang telah Syafea impikan sejak lama pupus sudah.


Tangannya mengepal, sudut matanya masih terlihat merah dan basah. Sayang, Syafea tidak juga sadar akan semua perbuatan yang telah dilakukan selama ini. Ego yang terlalu tinggi dan seolah memerintah sang suami membuat Tuhan murka.


Seharusnya, sebagai seorang istri tidak boleh memerintah suami. Seorang istri harus tunduk akan semua perkataan dari suaminya. Meminta ijin jika keluar rumah, menutup pandangan dari lelaki yang bukan muhrimnya.


Syafea telah mengubah semuanya. Syafea berlaku seolah ia yang menjadi pemimpin dalam keluarganya, sementara Zayd hanyalah boneka. Status sebagai seorang suami hanyalah sebutan pemanis yang tertulis di atas buku nikah, tetapi bukan menjadi pemimpin yang seutuhnya.


Lamunan Syafea pecah, ketika pintu kamar mandi diketuk dari luar. Ada banyak ketakutan yang terlihat di wajah sang suster karena sejak lama ia tidak mendapati pasiennya keluar dari kamar mandi.


Zayd kebetulan lewat depan pintu toilet tergerak untuk menyapa.


"Kenapa masih berdiri di situ? Apakah Nyonya belum keluar?"


Wajahnya menunduk, suster itu menggeleng perlahan. Ia sama sekali tidak mau melihat ke arah Zayd.


Raut wajah Zayd berubah panik. Lalu menggedor pintu tersebut.


"Syafea, cepat keluar!"


Syafea tampak mengusap bekas air matanya. Lalu ia segera menggerakkan roda kursi rodanya untuk menuju ke arah pintu. Ditatapnya suami dan juga suster yang berada di belakangnya.


"Kenapa kalian berdua di depan pintu apakah ingin menggunakan kamar mandi?"


"Kata suster kamu sudah terlalu lama berada di kamar mandi. Sehingga membuatnya khawatir. Apa kamu tidak bisa membuat orang lain tidak cemas terhadapmu lihatlah kondisimu sebelum kamu melakukan sesuatu hal yang berbahaya."


Bukannya berlaku lembut terhadap Syafea, Zayd justru terlihat marah dan berlalu begitu saja ketika melihat ia sudah keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


"Nyonya, mari ikut saya untuk beristirahat di kamar. Anda terlihat begitu pucat."


"Iya suster terima kasih banyak."


Kini kursi rodanya telah didorong menuju kamar pribadinya. Sebuah kamar yang dulu pernah ditempati Aletta ketika ia baru saja masuk ke dalam rumah tersebut.


"Kenapa aku berada di sini? Bukankah tempatku bukan di sini?" gumam Syafea.


Dilihatnya semua perabotan yang berada di dalam ruangan itu, tidak ada yang berubah sama sekali bahkan semua fasilitas yang ada di situ juga tetap sama.


Kini ia bertanya-tanya, kalau ia harus tidur di kamar Aletta lalu Aletta tidur di kamar mana? Sementara di dalam rumah itu hanya ada 3 tempat tidur dan satu ruang tamu. Tidak mungkin Zayd membiarkan istri mudanya yang sudah hamil itu tertidur di ruang tamu.


Hati Syafea rupanya tidak merasa lega karena ia diperlakukan bagaikan orang asing di rumah itu. Menyadari hal itu, sesaat kemudian Syafea segera memanggil suster yang merawatnya.


"Sus, kemari sebentar."


"Saya, Nyonya."


Suster tersebut tampak memicingkan matanya karena Syafea membisikkan sesuatu hal kepadanya.


"Kamu dengar ucapanku barusan, 'kan sus?"


"Iya."


"Kalau gitu cepat lakukan!"


"Ba-baik Nyonya."


Merasa jika suaminya terlalu banyak perhatian terhadap Aletta benar-benar membuat Syafea marah.


Sementara itu Aletta baru saja keluar dari kamar utama milik Zayd. Ia bergegas keluar karena ingin kembali ke kamarnya. Namun, hal itu sudah dilihat oleh suster yang merawat Syafea.


"Ya, ampun .... ternyata benar apa yang dikatakan oleh Nyonya," ucapnya setengah berbisik.


Dengan cepat ia kembali ke kamar lalu melaporkan hal tersebut pada Syafea. Mandapat hal itu tentu saja membuatnya marah. Tanpa menunggu bantuan dari suster, Syafea langsung menggerakkan kursi rodanya keluar dari kamar.


Tujuan utamanya saat ini adalah untuk menemui Aletta dan menanyakan tentang kedudukannya saat ini. Kenapa seolah-olah semua yang pernah ia dapatkan tergantikan.

__ADS_1


Melihat Aletta yang sedang berada di pantry, Syafea segera meneriakinya.


"Aletta!"


Sontak saja Aletta menoleh dan membuat tangannya menyenggol gelas susu karena ia begitu terkejut. Denting gelas kaca beradu dengan lantai keramik menimbulkan bunyi yang sangat berisik.


Tanpa mau bertanya tentang kebenarannya terlebih dahulu, Syafea justru langsung mencengkram erat pashmina yang dikenakan oleh Aletta hingga hampir saja membuatnya terjatuh.


Bunyi berisik tadi mampu membuat seluruh penghuni rumah keluar dari kamarnya dan menuju ke arah pantry. Zayd yang melihat jika tangan Aletta mengeluarkan cairan kental berwarna merah, segera mendekatinya.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa tangan Aletta sampai terluka."


"Mas, kamu nggak adil. Kenapa kita tidak tidur satu kamar lagi? Kenapa kamu justru tidur dengan wanita yang belum resmi menjadi istrimu ini!"


Syafea tampak mengarahkan jadi terwujudnya ke arah Aletta. Matanya tampak berkaca-kaca, bibirnya bergetar, mengisyaratkan jika Syafea benar-benar marah karena hal tersebut.


"Siapa yang kamu bilang tidur dengan Zayd, Syafea?"


Tiba-tiba saja Umi muncul dari arah belakang dan menegur apa yang dilakukan oleh Syafea barusan.


"Ada apa, apakah kamu tidak suka jika Zayd berdekatan dengan Aletta, bukankah ia juga istri sah-nya?"


Pertanyaan dari Umi seolah menjebak. Sehingga Syafea sama sekali tidak mengucapkan hal apapun. Saat ini mulutnya terkunci rapat karena Umi ikut tercampur dalam perdebatan mereka.


Umi mendekati kursi roda Syafea dan menatapnya dengan tajam.


"Perlu kamu ketahui Syafea. Jika saat ini tidak ada yang tidur bersama. Zayd tidur sendirian, sementara itu Aletta tidur denganku dan kamu aku tempatkan di ruang Aletta karena masih menghormatimu sebagai istrinya. Tahukah kamu Abah saja tidur di ruang tamu."


"Akan tetapi sepertinya apapun ucapan Umi tidak membuatmu sadar. Seharusnya kamu bersyukur meskipun Zayd amnesia, ia masih menerimamu sebagai istrinya dan membiarkan dirimu tinggal di dalam rumah ini."


"Ta-tapi Umi ...."


"Tidak perlu tapi-tapian. Apa yang Umi katakan kepadamu adalah sebuah kejujuran. Kalau kamu tidak percaya dengan Umi tanyakan saja pada Zayd ataupun Aletta."


Syafea saat ini hanya bisa menunduk, lalu menyalahkan sikapnya yang terlalu gegabah.


"Andai aku tahu semuanya akan seperti ini, lebih baik aku tidak mengenal Aletta!" ucapnya penuh rasa kebencian yang mendalam.

__ADS_1


__ADS_2