ISTRIKU, PENUTUP AIBKU

ISTRIKU, PENUTUP AIBKU
Part 35. SALAH


__ADS_3

"Aku nggak kenapa-napa, Abi. Coba lihat kondisi tangan Kak Syafea."


Aletta lebih memilih untuk melepas tautan tangannya yang terjadi antara dia dan Zayd daripada membiarkan Syafea marah. Seperti biasa, Aletta akan lebih memilih untuk menunduk daripada memandang ke arah suami Syafea tersebut.


"Maaf, Abi. Aku yakin Kak Syafea lebih membutuhkan kamu daripada aku," ucapnya lirih.


Aletta memilih mengubur perasaan yang telah tumbuh dari daripada membiarkan Zayd terus memperhatikan dirinya. Daripada memperhatikan istri sahnya, Zayd memang lebih suka berdekatan dengan Aletta. Entah mengapa semua terasa begitu indah saat bersama Aletta.


Tanpa Zayd diketahui, Aletta bisa mengetahui jika Syafea tidak suka ketika ia terus mendekat dengannya. Bagaimana pun kontrak sudah terlanjur turun, janin di dalam rahim Aletta sudah berkembang dan tumbuh. Namun, rasa cinta untuk sang ayah dari jabang bayi yang ia kandung tidak boleh tumbuh.


"Mas, apakah aku tidak berharga lagi di matamu?" tanya Syafea di dalam hati.


Dari raut wajah yang ditunjukkan Syafea, ia memang mengharap perhatian lebih dari suaminya. Terlebih lagi kondisinya saat ini ia sudah lumpuh. Meskipun ia mengandung janin orang lain, tetapi Syafea tidak akan membiarkan Zayd mengetahui hal tersebut. Ia tetap membutuhkan perhatian dari suami.


"Bagaimana keadaan tangan kamu?" tanya Zayd tiba-tiba sudah berada di hadapan Syafea.


Terkejut dan gugup itulah dua kata yang dirasakan oleh Syafea saat ini.

__ADS_1


"Alhamdulillah cuma lecet kok, Mas. Pussy sepertinya lagi sensitif makanya bertindak seperti itu."


Pussy adalah kucing kesayangan Syafea dan Zayd. Ia memilih untuk memelihara binatang daripada bersiap untuk program kehamilan. Sayang, saat Syafea mulai bermain hati, rupanya Tuhan langsung menghukum Syafea secara langsung.


"Hm, baiklah kalau begitu ayo kita kembali ke dalam! Aku akan memeriksa hal ini dengan lebih teliti."


Syafea mengangguk senang. Zayd menoleh ke arah Aletta. "Kamu juga, ayo ikut masuk!"


"Iya, Abi."


Mau tidak mau, Aletta turut mengekor langkah kaki Zayd dan kursi roda milik Syafea. Merasa jika dirinya sudah diperhatikan, Syafea akan mulai menjalankan aksinya.


Kemarin, saat orang di rumah tertidur, ia menyelinap keluar untuk bertemu dengan orang suruhan dari Hyu Jin. Sebelumnya kekasih gelapnya itu memberi tahu dirinya bahwa dia mempunyai sebuah rencana baru. Maka dari itu Syafea pun memilih untuk pergi.


"Apa yang kamu bawa itu?"


"Salam Nyonya, saya disuruh oleh Tuan Hyu Jin untuk mengantarkan barang ini pada Anda."

__ADS_1


"Hm, bawalah padaku."


Sesaat setelah orang itu memberikan barang padanya, Syafea segera membuka dan melihat isi di dalamnya.


"Surat kehamilan?"


Otak Syafea masih berusaha mencerna apa yang tertulis di atas surat itu. Dia membaca dengan teliti tentang isinya.


"Surat kehamilan jenis apa ini?"


"Kata Tuan ini akan membantu Nyonya ketika nanti dilanda sebuah kesulitan."


"Aku menerima bantuan darimu, dan tolong ucapkan terima kasih kepada Tuanmu."


"Baik Nyonya, kalau begitu saya permisi."


Saat mengingat hal itu, sepertinya Syafea tidak percaya tetapi jika melihat sebuah kesempatan, ia tidak akan menyia-nyiakannya.

__ADS_1


Berharap kepada sebuah keajaiban rupanya mampu untuk mengubah pandangan Syafea pada dunia. Sikap manja yang telah terbentuk sejak kecil mampu membuat sebuah ambisi untuk berbuat sesuatu hal yang lebih. Tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.


"Semoga rasa cinta untuk Kak Syafea segera kembali pulih, Aamiin," doa Aletta di sela-sela acara mencuci piring.


__ADS_2