
"Baiklah, biar coba beri waktu aku dan Aletta untuk bersama dalam beberapa hari ini sampai dimana ia bisa ikhlas jika Syafea harus kembali lagi di dalam hidupku."
"Terima kasih banyak, kau memang sahabat dan suami terbaik, Zayd."
Tidak berapa lama kemudian, dokter Rafa mendapatkan telepon dari rumahnya. Umi mengatakan jika ia ingin segera mencari jejak putra dan menantunya. Perasaan Umi mengatakan ada sesuatu hal yang mengganggu pikirannya saat ini.
"Ada banyak hal yang ingin dilakukan jika pertemuan kami bisa lebih cepat, Nak. Tolong usahakan, ya."
"InsyAllah, Umi."
Langkah Zayd tiba-tiba terhenti ketika ia mendengar percakapan antara keponakannya dengan seseorang di seberang sana.
"Umi, apakah beliau ada di negara ini lagi?"
Tanpa membuang waktu lebih lama, kini Zayd segera mendekati tempat dokter Rafa. Bahkan hampir membuatnya terkejut dan menjatuhkan ponselnya kalau tidak Zayd menangkapnya lebih dulu.
"Sorry," cicit Zayd.
"Astaghfirullah, kenapa Paman muncul tiba-tiba?" tanya dokter Rafa sambil mengusap dadanya yang bergemuruh.
Tentu saja bergemuruh karena ia benar-benar tidak menyangka jika Zayd sudah datang di sana. Seingatnya tadi ia meninggalkan mereka yang masih berbincang-bincang.
"Maaf, apakah yang berbicara denganmu barusan adalah Umi?" tanya Zayd dengan ragu-ragu.
Kedua pupil mata dokter Rafa terlihat membesar, seolah ia memang sedang menyembunyikan sesuatu saat ini. Maka dari itu Zayd pun semakin curiga kepadanya.
"Haruskah aku berterus terang akan hal ini?" tanya dokter Rafa dalam hati.
Tidak mau menduga-duga lagi, Zayd langsung menarik lengan dokter Rafa agar mengikutinya. Ia tidak mau membuat ibunya semakin khawatir akan keadaan dirinya. Apalagi saat beliau meninggalkan negeri itu mereka sedang baik-baik saja, tetapi berita tentang kepindahan dirinya pasti sudah beredar.
__ADS_1
Zayd semakin terlihat menyudutkan dokter Rafa. Hingga beberapa saat kemudian dokter Rafa pun berterus terang saat ini.
"Maaf, sebelumnya jika kejujuran ini akan membuat Paman semakin tidak tenang. Akan tetapi memang hal ini harus segera disampaikan pada Paman."
Dokter Rafa menghela nafasnya lalu berusaha mengatur kata-kata yang akan diucapkan olehnya. Di tatapnya wajah Zayd dalam-dalam.
"Paman, Umi, Abah dan para bibi ada di negara ini. Saat ini mereka tinggal di apartemen milikku. Tujuan mereka datang kemari karena mengetahui jika Paman sudah menikah untuk kedua kalinya dan hal itu sempat membuat pihak keluarga besar kita kurang setuju."
"Sudah aku duga. Semua ini pasti akan segera terbongkar."
"Bawa aku untuk menemui mereka."
"Ba-baik, Paman."
Setelah mereka bersiap dan sambil nunggu jam pergantian dokter, keduanya memutuskan untuk segera memperkenalkan dokter Rafa pada Aletta.
Di kamar Aletta, ia sedang mematut dirinya di depan cermin. Sudah beberapa hari ia tidak melakukan kebiasaan berhias, sehingga ada rasa tidak percaya diri yang menyerangnya.
"Assalamu'alaikum bidadari surgaku," sapa Zayd dengan tersenyum.
Siapa yang tidak tersipu ketika dipanggil dengan sebutan sangat manis seperti itu. Aletta bahkan tidak bisa menyembunyikan raut wajah bahagianya kali ini.
Zayd yang mengetahui jika istrinya sangat pemalu lalu mendekatinya dan membisikkan sebuah kata pada salah satu telinga Aletta. Setelah paham, Aletta menganggukkan kepala dan langsung mengenakan hijab lengkap dengan cadarnya.
Setelah dirasa aman, Zayd mempersilahkan dokter Rafa untuk masuk.
"Aletta, kenalkan ini dokter Rafa, keponakanku yang berhasil menjadi seorang dokter."
"Astaghfirullahaladzim, kenapa harus dia?" tanyanya dalam hati.
__ADS_1
Sama halnya dengan Aletta, dokter Rafa yang sudah hafal betul dengan harum wangi tubuh Aletta berserta hijab dan cadar yang biasa ia gunakan membuat detak jantung miliknya berhenti berdetak.
"Astaghfirullah, ternyata pemilik mata terindah itu adalah istri pamanku? Lalu apa yang harus dilakukan saat ini?"
Pikiran Aletta dan dokter Rafa terasa sangat cemas serta campur aduk. Ada banyak hal yang tidak bisa dilakukan ketika menyadari jika apa yang dicintainya, ternyata sudah lebih dulu menjadi milik pamannya.
"So, you, who at first looked like my uncle's mistress, turned out to be my uncle's second wife."
"Astaghfirullah," ucap dokter Rafa berkali-kali dalam hatinya.
Apa yang terlihat justru kini membuat doketer Rafa sakit hati. Oleh karena itu perasaan berkecamuk di dalam hatinya sudah pasti membuat ia tidak bisa berkata banyak.
Zayd yang menyadari hal itu dengan segera membuka suasana agar tidak terlalu canggung.
"Hei, kalian kenapa? Apakah kalian pernah saling mengenal satu sama lain? Kenapa terlihat sangat kaku?"
"Eh, tidak! Kami sama sekali tidak pernah saling bertemu. Lagipula bagaimana bisa, sementara ia wanita berhijab," ucap dokter Rafa beralibi.
"Oh, aku kira Paman terlalu berlebihan."
......................
Setelah beberapa saat, ternyata Zayd benar-benar datang ke apartemen dokter Rafa. Niat ingin segera bertemu dengan kedua orang tuanya sangat besar, lagi pula Aletta sudah mengijinkan dirinya pergi.
Prang
Sontak semua mata menoleh ke arah sumber suara tersebut. Rupanya kedatangan Zayd di rumah itu membuat Umi dan Abah berdiri dari tempat duduknya.
"Assalamu'alaikum ...."
__ADS_1
"Za-zayd?"