
Setelah memastikan semuanya dan berbicara apa adanya kini Althaf dan juga Zayd berbaikan. Pada saat yang bersamaan, mereka saling mengucapkan terima kasih.
Tentu saja hal itu membuat Aletta tersenyum akan tingkah lucu mereka berdua. Althaf dan juga Zayd memandang Aletta yang sedang tersenyum riang. Dari kedua pasang mata terlihat pancaran cinta yang sangat besar.
Tidak mau terjebak lebih lama dengan perasaan yang salah, kini Althaf permisi. Ia akan menunggu di ruang sebelah sampai mereka selesai berbincang satu sama lain.
Althaf mengusap dadanya perlahan. Ada rasa tidak rela yang menghampiri. Meskipun begitu ia mencoba ikhlas. Tidak berselang lama, kini Althaf permisi ke kamar mandi.
Dari luar ia memang terlihat baik-baik saja. Akan tetapi sebenarnya Althaf sangat rapuh. Kehilangan cinta saat ia mulai bersemi, memang menyakitkan.
Di sisi lain, Aletta justru malu-malu saat mereka ditinggal berdua. Tangannya mer-em-as ujung hijabnya untuk menetralkan rasa kurang percaya dirinya saat ini.
"Kenapa kau masih malu-malu? Apakah kau tidak merindukan a-aku?"
Bukannya menjawab, Aletta justru terlihat mengangguk setuju. Setelah itu rupanya Zayd semakin menggodanya. Tidak banyak kata, kini Zayd justru terlihat agresif.
"Bagaimana jika nanti kamu membutuhkan banyak perhatian dariku, jika berdekatan seperti ini saja kamu justru menjauhiku?"
__ADS_1
Merasa malu dengan hal tersebut membuat Aletta mau tidak mau menerima perlakuan manis dari suaminya itu. Zayd mulai merapatkan tubuhnya ke arah Aletta dan kemudian di susul dengan tangannya yang memegang tangan Aletta.
Hati Aletta yang sedang merindu langsung berpikir jika ia sedang terkena sengatan aliran listrik cinta dari suaminya.
"Ya, Allah, rupanya ini yang dinamakan jatuh cinta?" tanya Aletta di dalam hatinya.
"Aletta Sayang, lihatlah aku yang sedang berada di sini."
Aletta mendongakkan suaminya. Tatapan teduh dari Zayd rupanya mampu membuat Aletta semakin merona.
"Aletta, Sayang. Kamu memang sangat berarti untukku. Bagaimana pun nanti keputusan pengadilan, hanya satu janji hati ini kepadamu, yaitu aku akan menjaga semua nama baikmu."
"Aamiin."
Karena tempat yang digunakan keduanya sangat eksklusif, maka sepasang suami istri itu segera berpamitan dan melanjutkan kegiatannya masing-masing.
"Maaf, apakah ada yang kamu butuhkan lagi selain makanan ini?"
__ADS_1
"Sepertinya tidak ada, Abi. Kalau pun ada nanti biar aku pesan sendiri."
"Baiklah kalau begitu, aku pamit ya, Sayang."
Setelah Zayd berpamitan untuk kembali melakukan rapat. Kini Aletta tampak sibuk untuk menghabiskan makanan lezat di hadapannya sendirian.
Secara kebetulan, Syafea harus mendatangi sebuah hotel agar ia bisa leluasa berbicara dengan Hyu Jin. Di tambah lagi saat ini mereka sedang bersiap untuk mengambil langkah selanjutnya agar perusahaan Zayd benar-benar menjadi miliknya.
Dengan bantuan dari suster, kursi roda milik Syafea kini di dorong ke dalam. Secara kebetulan Aletta melihatnya dan pada saat yang sama terlihat ada Hyu Jin. Kini kedua mata Aletta membola karena hal itu.
"Astaga! Kau rupanya sangat dekat dengan Kak Syafea. Jangan-jangan kau berkolaborasi dengannya untuk menyingkirkan bayi ini?" tanya Aletta sambil mengusap dadanya.
"Bagaimana pun Ibu akan selalu melindungi keberadaan kamu di dalam sini. Walaupun seluruh dunia mengecam. Ibu pastikan kamu akan tetap baik-baik saja."
......................
"Selamat karena membaca karya ini, semoga dibanyakan rezekinya dan lain-lain.
__ADS_1
w2g GGN