
Ketika Rafa membalikkan badan, rupanya justru ia kehilangan Aletta.
"Sial, dia kabur lagi!" ucap Rafa sambil mengepalkan tangannya karena kesal.
Sementara itu Aletta mengusap degup jantungnya yang masih terdengar tidak beraturan. Entah mengapa setelah pertemuan ketiga kalinya, Alletta mmasih saja ketakutan. Maka dari itu ia lebih memilih untuk menghindar daripada bertemu dengannya.
Saat masih awal bertemu saja rasanya sudah sangat risih, apalagi saat ini ketika ia sudah memiliki rasa pada Zayd, suaminya sendiri. Lamunan Aletta terhenti ketika ia mendengarr dering ponselnya.
Buru-buru ia mengangkat telepon dan ternyata itu adalah panggilan dari Zayd.
"Assalamu'alaikum, lagi apa sayang?"
"Wa'alaikum salam, baru saja pulang dari belanja."
Mendengar kata belanja tentu saja hal itu membuat kening Zayd berkerut, di tambah lagi saat ini Alleta sedang hamil, sehingga hal itu memambah rasa kekhawatiran di dalamm hatinya.
"Maaf, "cicit Alletta ketika ia menyadari jika suaminya sedang marah karena sebelumnya ia tidak meminta ijin untuk hal itu.
"Bukannya aku melarang kamu pergi, hanya saja aku masih khawatir akan hal itu."
__ADS_1
"Alhammdulillah saat ini aku baik-baik saja."
"Syukurlah kalau begitu."
Setelah sekian lama mereka berbincang-bincang, akhirnya kesalahpahaman di antara mereka sirna. Hingga saat ini semuanya kembali baik-baik saja.
Beberapa saat kemudian, Aletta bergegas ke dapur untuk menyiapkan bekal makan siang untuk Zayd. Beberapa menit lagi semuanya sudah harus siap, maka dari itu Aletta dengan cepat memainkan peralatan dapurnya.
Aletta mengusap perutnya agar tidak terlalu bergerak ketika ia harus memasak. Lagi pula saat ini morning sickness sudah tidak terlalu terasa dan bahkan ia bisa memasak.
Aletta dengan cepat memainkan peralatan masaknya. Bahkan tanpa mencicipinya pun rasanya sudah pasti enak karena Aletta memasaknya dengan penuh cinta.
Baru saja turun dari mobil, ketika ia baru saja membuka pintu utama, harum bawa masakan memenuhi indera penciuman miliknya. Hingga akhirnya Zayd bergegas untuk memasuki rumah.
Zayd membuka pintu dengan perlahan, sampai Aletta belum selesai menata makanan karena masih sibuk membuat dessert. Melihat istri kecilnya masih sibuk, Zayd tidak membuang waktunya dan langsung memeluknya dari belakang.
"Assalamu'alaikum," bisik Zayd tepat di salah satu telinga istrinya.
Aletta yang belum sempat berhijab langsung terkesiap. Wajahnya seketika menunduk karena malu. Namun, ia tidak lupa untuk mengucap salam terlebih dahulu.
__ADS_1
"Wa'alaikum salam, Abi ... kenapa mengagetkanku. Maaf tadi hijabnya dilepas karena udara di sini pengab," ucap Aletta jujur.
Tentu saja Zayd semakin gemas dengan sikap Aletta. Bagaimana ia tidak mencintai Aletta kalau sikapnya semakin manis padanya.
Malu pada suaminya sendiri tentu saja membuat Zayd gemas. Sementara itu Syafea tidak pernah melakukan hal yang sama seperti Aletta memperlakukan dirinya.
"Kamu kenapa? Bukankah saat ini kita sudah menjadi suami istri, lalu kenapa justru kamu masih saja malu memandangku?"
Bukannya menjawab, Aletta justru semakin menunduk karena malu. Zayd yang gemas akhirnya menyentuh dagu Aletta hingga kedua mata mereka saling beradu satu sama lain.
"Mencintaimu adalah anugrah, Aletta. Janganlah engkau malu jika cinta ini selalu bersemi untukmu."
Entah mengapa, Aletta tidak bisa menolak sentuhan dari suaminya. Hingga sesuatu akhirnya terjadi.
......................
Kira-kira apa yang akan terjadi ya? Sambil nunggu up jangan lupa mampir ke sini ya, makasih.
__ADS_1