
Pikiran Syafea semakin menjadi, kini luka di kakinya sudah mengering, akan tetapi ia belum bisa menggunakan kedua kakinya secara normal sehingga mau tidak mau ia harus menggunakan kursi roda.
"Aku nggak mau Zayd sampai jatuh ke tangan Aletta. Dia seharusnya tidak satu rumah dengan kami!" ucapnya penuh rasa amarah.
"Aku harus segera pulang dan memastikan segalanya berjalan sesuai rencana awal."
Sesaat kemudian ada suster yang datang ke ruang inap Syafea.
"Selamat pagi, Ibu Syafea."
"Selamat pagi, suster apakah aku sudah boleh pulang?"
"Kita tunggu analisis dari dokter dulu ya, Bu. Baru setelah itu kita bisa memutuskan."
Tidak lama kemudian sang dokter yang merawat Syafea masuk ke dalam ruang inapnya.
"Kebetulan Pak dokter sudah datang Ibu bisa berbicara langsung kepada dokter dan meminta pendapat dari beliau."
Dokter muda nan tampan itu tersenyum ke arah Syafea. Lalu mulai bertanya tentang kabar pasien dan keluhan apa yang dia rasakan.
"Sebenarnya sudah tidak ada masalah dengan kondisi kesehatan Ibu. Hanya saja ada sesuatu yang harus saya katakan pada Ibu Syafea."
"Sepertinya hal itu sangat penting ya, dok. Kalau boleh tahu hal apakah itu?"
"Begini, secara tidak terduga ketika saya mengecek sampel darah Ibu Syafea ada sesuatu hal lain yang muncul di sana. Sehingga saya harus membawanya ke dokter spesialis Obgyn. Hasilnya sungguh mencengangkan bagi saya."
"Jangan bikin tambah penasaran deh, dok. Coba katakan ada apa dengan kondisi saya yang sebenarnya?" tanya Syafea dengan wajah serius.
Dokter tersebut mengulurkan tangannya kepada Syafea lalu mengucapkan sebuah kalimat yang membuat dunianya berhenti berputar.
__ADS_1
"Selamat sebentar lagi Anda akan menjadi seorang ibu. Saat ini di dalam rahim ibu ada janin yang berusia 2 minggu. Puji Tuhan dia selamat dari kecelakaan yang terjadi kepada Ibu kemarin."
"Semoga setelah ini Ibu bisa menjaga calon buah hati ibu yang sedang bertumbuh tersebut."
Syafea tertawa sumbang ketika mendapati dirinya hamil. Padahal ia sudah mengantisipasi hal tersebut agar karirnya terus berjalan.
"Dokter jangan bercanda, deh. Mana mungkin saya bisa hamil? Sementara suami saya menderita Hypospermia."
"Bukankah Ibu Aletta juga hamil? Itu artinya kondisi suami Anda baik-baik saja."
Hari ini Syafea meminta pulang karena merasa dirinya sudah lebih baik dari sebelumnya. Namun, sebuah fakta yang baru saja diucapkan oleh dokter membuat Syafea harus menutupi hal ini.
"Apakah suami saya sudah mengetahui hal ini?"
Dokter muda tersebut tampak menggeleng, lalu ia pun mulai berbicara kembali.
"Belum, saya baru saja mendapat data yang akurat dari bagian laboratorium. Jadi saya belum sempat berbicara dengan pihak keluarga Anda."
"Baiklah kalau begitu. Setelah kelengkapan data Anda selesai, maka Anda boleh keluar!"
"Terima kasih, dokter."
Sikap Syafea yang suka memaksa membuat dokter yang menangani dirinya, terpaksa menurut kepadanya.
"Aku hamil? Apakah lelaki itu yang sudah menanamkan benihnya?"
Tanpa Syafea sadari salah satu tangannya mengusap perutnya yang masih rata. Sementara itu pihak Rumah Sakit sudah memberi tahu keluarga Syafea.
Mendengar berita jika Syafea memaksa pulang, Umi hanya bisa pasrah. Sudah pasti bebannya akan kian bertambah setelah kepulangan Syafea.
__ADS_1
"Kalau begitu setelah kepulangan Syafea kita akan segera kembali ke Indonesia. Umi sudah tidak betah tinggal di sini."
"Lalu bagaimana dengan jadwal konsultasi Mas Zayd, Umi?"
Umi menoleh ke arah Aletta, "Tenang, semua berkas rekap data kesehatan mereka akan dialihkan ke Rumah Sakit yang berkompeten nantinya, kamu nggak usah khawatir."
Kekhawatiran Aletta sebenarnya cukup beralasan. Sejujurnya ia takut jika kembali ke tanah air.
"Bagaimana jika ada pihak keluarga yang mengetahui keberadaanku? Semua kebohongan aku lakukan akan terbongkar kalau sampai ini terjadi?"
Tiba-tiba saja tangannya mengeluarkan keringat dingin. Aletta begitu ketakutan ketika mengingat kondisi ayahnya ini bisa kembali drop kapan saja.
"Bagaimana jika ayah melihat aku hamil dan tidak meneruskan sekolah. Apakah ayah akan membenciku?"
"Aku tidak sanggup jika ayah tahu ketika aku menjual rahimku kepada orang asing, demi mendapatkan uang untuk biaya perawatannya. Ya, Tuhan ... bantulah aku!" ucap Aletta di dalam hati.
Sementara itu kepanikan juga terjadi di rumah sakit lebih tepatnya di ruang rawat Syafea. Ketika menyadari jika dirinya hamil, ia harus berpikir cepat.
Memilih kembali pada Zayd dengan menggugurkan kandungannya atau bercerai dengan Zayd lalu meminta pertanggungjawaban dari Hyu Jin. Dilema besar sedang menghantui dirinya.
"Lelaki itu sama, yang membedakan adalah kekuatannya di atas ranjang. Jika semua materi dan kepuasan bisa aku dapatkan dari Hyu Jin kenapa aku harus merepotkan diriku dengan Zayd?"
Aletta kembali menimbang apa yang sebaiknya dia lakukan. Ada banyak hal yang harus ia ambil sebelum memutuskan semua ini.
"Tapi, aku masih mencintai Zayd ... dan aku juga tidak bisa merelakan dia hidup tenang dengan Aletta. Ya, aku harus merusak hubungannya dengan Aletta baru aku bisa pergi dengan tenang. Hidup bahagia bersama Hyu Jin," ucap Syafea penuh ambisi.
Syafea tidak tahu ketika saat ini semua yang terjadi padanya selalu dalam pengawasan Hyu Jin. Bahkan saat ini lelaki itu ada di depan ruang rawatnya.
"Syukurlah kalau janin itu bisa berkembang di dalam rahimmu. Aku sudah tidak sabar melihat kehancuran dari Keluarga Zayd. Bagaimana raut wajah Zayd yang sudah membuat kakakku harus mati sia-sia."
__ADS_1
Terlihat sekali api dendam yang terus membara di dalam hati Hyu Jin. Pikirannya sudah dipenuhi ambisi balas dendam. Sama liciknya dengan Syafea, hanya saja wanita itu terlalu bodoh dan berharap bisa bersanding dengan Hyu Jin yang merupakan seorang cassanova.
.