ISTRIKU, PENUTUP AIBKU

ISTRIKU, PENUTUP AIBKU
Part 72. FAKTA BARU


__ADS_3

"Benarkah ini kamu, Nak?" tanya Umi memastikan penglihatannya.


Zayd tersenyum lalu mengucap salam pada seluruh anggota keluarga Umi dan Abahnya.


"Ya Allah, terima kasih karena telah mempertemukan kami," ucap Umi sambil berlinang air mata.


Tanpa mau menunggu waktu yang lama lagi, kini Zayd segera pergi mendekati Umi. Dipeluknya anak laki-lakinya itu dengan air mata berlinang. Tidak bersuara tetapi membuat siapapun terharu akan pertemuan itu.


Tidak lupa beliau juga mengucap syukur karena limpahan kasih sayangnya dan kemudahan dalam mencari keberadaan putranya.


"Maaf Umi, maaf."


Zayd terlihat sangat menyesal sekaligus berterima kasih kepada Allah. Jika tanpa kuasa dan pertolongan darinya sudah pasti semuanya tidak akan baik-baik saja.


"Kamu ini bilang apa? Kenapa harus meminta maaf. Umi sangat bersyukur karena Allah telah mempertemukan kita."


"Iya, Umi. Alhamdulillah."


Tidak berselang lama, Abah pun mendekat dan langsung memeluk putranya tersebut. Beliau juga sangat bersyukur karena telah dipertemukan dengan putranya.


"Alhamdulillah, Nak. Kamu tuh ya, suka banget bikin Umi kamu panik!"


"Iya, Abah. Maaf, Zayd sama sekali tidak mau membuat kalian khawatir sebenarnya. Akan tetapi Allah sudah menggariskan jalan takdir seperti ini pada kami."


Setelah cukup berpelukan, kini Zayd menyalami satu persatu paman dan bibinya itu. Dengan penuh hormat Zayd bercakap-cakap dengan mereka.


Sampai akhirnya satu pertanyaan dari ibunya menyadarkan dirinya tentang keberadaan para istrinya. Pada saat itu Umi pun masih berada dalam pelukan Zayd. Seolah-olah beliau tidak mau kehilangan putranya lagi.


"Oh, ya ... dimana Aletta?" tanya Umi dengan derai air mata.


Zayd melonggarkan pelukannya lalu ditatapnya Umi dalam-dalam. Ia bahkan sampai mengusap air matanya dengan perlahan.


"Aletta ada di Rumah Sakit."


Kedua pupil mata milik Umi membola, dipegangnya bahu Zayd dengan erat.


"Kenapa, ada apa dengan menantuku?"


Kekhawatiran Umi terlihat jelas di dalam kedua bola matanya. Zayd yang mengulas senyumnya sedikit kali ini.

__ADS_1


"Umi, cucu Umi sudah lahir," ucap Zayd dengan nada lirih.


"Syukur alhamdulillah ...." ucap semua orang.


Sementara itu, demi terlihat biasa saja ia bahkan beberapa kali harus mengusap pelupuk matanya agar tidak terlalu terlihat berembun. Umi yang mendengar hal tersebut langsung meminta Zayd untuk segera mengantarkannya ke Rumah Sakit.


Pertemuan haru itu rupanya telah membuat Zayd dan keluarga besarnya merasakan suasana haru yang tidak terkira. Kebahagiaan karena telah menemukan Zayd dan berita tentang persalinan Aletta membuat mereka semakin bersuka cita.


"Alhamdulillah, cepat antarkan Umi untuk menemui cucu Umi!"


"Siap, Umi. Mari kita mengunjungi Aletta dan putraku."


Kini semuanya bersiap untuk pergi ke Rumah Sakit. Raut kekhawatiran yang semula muncul telah berganti dengan berjuta kebahagiaan. Ada rasa tidak rela ketika melihat menantunya berjuang sendirian selama mau melahirkan.


Apalagi dari cerita Zayd ia bisa menyimpulkan jika sebenarnya kandungan Aletta lemah. Di luar semua itu, Umi juga tidak mau menyalahkan putranya. Apalagi saat ini Zayd sudah berhasil menunjukkan jika dirinya baik-baik saja.


"Jika Aletta hamil dan bisa melahirkan dari benih Zayd sendiri, bukankah itu artinya penyakit Zayd sudah sembuh?" tanya Umi di dalam hatinya.


"Semoga saja dugaan kami selama salah, Zayd. Maafkan kami," ucap Bibi Zayd di dalam hati ketika melihat betapa bahagianya Umi mendapatkan cucu untuk pertama kalinya.


Akhirnya perjalanan mereka lancar. Kurang dari satu jam Zayd sudah kembali lagi. Aletta begitu bahagia ketika Zayd memperlakukan dirinya begitu istimewa. Ia tidak henti-hentinya bersyukur karena telah melewati masa kehamilannya. Itu artinya sebentar lagi ia akan berpisah dengan bayinya dan meninggalkan Zayd.


"Maaf, Nyonya. Bolehkah kami tahu kenapa Nyonya justru terlihat bersedih kali ini. Bukankah esok Nyonya sudah diperbolehkan pulang?"


"Eh, iya sus. Nggak kenapa-napa kok, cuma kangen Baby Noe aja."


Suster tersebut tersenyum lalu memberitahukan jika setelah ini mereka akan disatukan dalam satu kamar. Hal ini sesuai dengan permintaan dari suami Aletta yaitu Zayd.


"Tenang saja, besok kalau kalian sudah pulang pasti akan lebih sering bertemu," ucap Zayd yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.


Aletta tersenyum lalu menegur suaminya karena justru lupa mengucap salam ketika masuk ruang.


"Assalamu'alaikum ...."


Zayd menepuk jidatnya, "Astaghfirullah lupa, Sayang. Assalamu'alaikum bidadari surgaku ...."


"Wa'alaikumsalam," jawab Aletta dengan rona merah di kedua pipinya.


Bagaimana ia bisa tega melihat kebahagiaan di dalam wajah suaminya itu. Akan tetapi ia teringat ucapan Syafea yang mengatakan jika kontrak kerja mereka akan berakhir dua Minggu lagi. Ya, Syafea memang sudah mengatur semuanya.

__ADS_1


"Ingat, jika kamu berani melanggar kontrak yang telah kita sepakati. Kamu tanggung sendiri akibatnya!" ancam Syafea kepada Aletta saat Zayd keluar kamar.


Sejak awal perjanjian kontrak, ia telah menyepakati jika setelah dua Minggu bayi mereka lahir, maka Aletta harus pergi dan menyerahkan bayinya pada Syafea dan Zayd. Tanpa menunggu masa nifas Aletta habis mereka terpaksa melakukan itu agar kontak batin antara ibu dan bayinya terputus lebih awal.


Mungkin karena dulu Aletta tidak berpikir jauh, maka dari itu ia langsung menandatangani surat perjanjian kontrak tanpa tahu jika perpisahan sesakit ini. Mengingat hal itu seketika raut bahagia itu hilang dari wajah cantik Aletta. Zayd yang menyadari hal itu segera mendekati istrinya.


"Ya, Allah, kuatkan hati dan imanku, Aamiin," doa Aletta di dalam hatinya.


"Ada apa?"


"Nggak apa-apa kok, kangen Baby Noe aja."


Zayd langsung menoleh ke arah kedua suster.


"Tolong bawakan bayi kami ke sini, Suster."


"Baik, Tuan."


Setelah mengatakan hal itu, Zayd langsung mengatakan jika keluarga besarnya sudah berada di depan pintu rawat Aletta.


Dokter Rafa hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Ingin sekali ia menjauhkan dirinya dari pandangan Aletta yang membuatnya semakin jatuh cinta itu.


"Tuhan, kenapa kau membuat hati ini semakin mencintai istri pamanku?" tanya dokter Rafa di balik pintu.


Sementara itu Umi dan Abah sangat berbahagia ketika melihat jika cucunya sangat tampan. Air mata bahagia memenuhi rongga dada mereka. Begitu pula dengan keluarga besarnya yang turut berbahagia ketika melihat Zayd akhirnya bisa memiliki seorang anak.


"Oh, ya Zayd. Bolehkah kami bertanya dimana Syafea?"


Deg


Detak jantung Zayd dan juga Aletta terasa sesak. Namun, inilah saatnya mereka jujur. Meski terpaksa Zayd mengantarkan mereka pada ruang rawat Syafea.


"Assalamu'alaikum ...." sapa Umi ramah ketika memasuki kamar rawat Syafea.


"U-umi?" ucap Syafea tergagap.


"Loh, kenapa kamu juga dirawat di sini?" tanya salah seorang Bibi Zayd yang terlihat mengintimidasi.


Dokter Michael yang baru saja datang ke kamar Syafea justru terkejut karena ruang rawat sahabatnya itu penuh dengan orang yang menjenguknya.

__ADS_1


"Sorry ...."


__ADS_2