
Seperti istri-istri idaman lainnya, maka Aletta akan bersikap sama. Saat ini Aletta sedang mempersiapkan makan malam untuk anggota keluarganya.
Meskipun keberadaannya hanyalah sebuah pelengkap, ia sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu. Dengan segala kebaikan hatinya, Aletta tetap bersikap seperti biasa. Padahal saat ini ia sedang dalam keadaan hamil muda.
"Aletta, Sayang. Kenapa kamu tidak mendengarkan ucapan dari Umi?" tanya Umi yang tiba-tiba masuk ke dalam dapur.
"Maaf Umi, Aletta merasa jika tidak ada pekerjaan lain. Maka dari itu Aletta memilih untuk menyiapkan makanan."
"Kamu suka sekali memasak, pasti ibumu sangat bahagia memiliki putri seperti dirimu."
Aletta menggeleng. "Ibu Aletta sudah lama meninggal, Umi."
"Jadi tidak mungkin jika Aletta memiliki kesempatan untuk bisa masak bareng. Meskipun hanya sekali rasanya tidak mungkin."
"Ma-maafkan Umi, Sayang."
"Tidak apa-apa, Umi. Aletta sudah terbiasa dengan pertanyaan seperti tadi."
"Lalu, kamu tinggal dengan siapa, bahkan kamu terlihat sangat lihat dalam memasak!"
"Iya, ayah yang mengajari Aletta memasak. Bahkan kami sering bersama-sama mencoba memasak resep baru."
"Semoga kamu senantiasa bahagia ya, Sayang."
"InsyaAllah, Umi."
Akhirnya kini mereka telah bersiap-siap untuk makan malam bersama. Tampak sekali Zayd terlihat lahap ketika menyantap makanan di atas meja.
"Enak sekali Umi, masakan siapa ini?"
"Ini masakan Aletta, bagaimana bukankah dia benar-benar calon istri idaman?"
Zayd mengangguk setuju. Lalu setelahnya Aletta tersipu karena sedari tadi Zayd terus menatapnya. Umi dan Abah saling berpandangan satu sama lain sampai-sampai kedua anak muda di hadapannya saat ini tidak mengetahui hal itu.
__ADS_1
Selepas makan, Aletta naik ke atas. Umi melihat susu ibu hamil milik Aletta tidak tersentuh sama sekali.
"Zayd," panggil Umi.
"Iya, Umi."
"Tolong berikan susu ibu hamil ini untuk Aletta. Terlihat beberapa kali ia sama sekali tidak menyentuh susu itu. Padahal di awal kehamilan nutrisi untuk janin sangat diperlukan. Jadi sebagai ayah siaga kamu harus selalu mengingatkan istrimu agar rajin minum susu."
"InsyaAllah, Umi."
"Ya, sudah ayo bawa naik ke kamar istrimu."
Zayd terlihat mengangguk. Lalu mengambil susu itu dan membawanya ke atas. Diketuknya dengan perlahan daun pintu kamar Aletta.
"Assalamu'alaikum, Aletta bolehkah aku masuk."
Mendengar panggilan dari suaminya, Aletta yang semula sudah melepas hijabnya segera mengambil kembali dan memakainya.
Langkah kaki Aletta perlahan sudah sampai di pintu. Ia segera membuka pintu untuk suaminya.
"Ada apa Abi?"
"Mau ngasih ini, boleh masuk, nggak?"
"Jangan bilang kalau Abi memintaku untuk meminum susu?"
Zayd tampak mengangguk lalu menerobos masuk. Ia menaruh nampan dan meletakkan susu itu di atas meja.
"Duduklah, aku mau bicara."
Aletta tampak ragu-ragu lalu mulai mendekati suaminya. Meski sampai saat ini ia tidak suka minum susu, Zayd selalu mempunyai cara agar Aletta mau meminumnya.
"Maaf, Abi ...aku sungguh mual dengan aroma susu itu."
__ADS_1
"Kalau mual, coba liat ke dalam mataku, apakah kamu melihat bahwa ada banyak cinta untuk anak kita di sana. Jika kamu benar-benar cinta dengan calon anak kita itu artinya kamu harus rajin minum susu ibu hamil."
"Ha-ah, ta-tapi ...masih ada variant lain di rak, kenapa harus rasa pisang?"
"Karena rasa pisang biasanya akan membuat anak kita menjadi lebih manis dan kokoh. Jadi sebaiknya kamu cobain deh?"
Zayd benar-benar berubah bersikap lebih lembut ketika bersama dengan Aletta. Bahkan ia seolah melupakan keberadaan Syafea istri sahnya.
Umi merasa kepo dan menyusul Zayd ke atas Kedua orang tua itu mengintip dari celah pintu. Umi dan Abah yang melihat hal tersebut kembali mengulum senyumnya. Begitu pula dengan Abah yang bersikap sama.
"Cantik dan solehah, sangat cocok jika bersanding dengan Zayd."
"Lihatlah bukankah sikap Zayd yang saat ini sama seperti putra kita sebelum mengenal Syafea?"
Abah mengangguk setuju. Terlihat jika dirinya merasa bahagia ketika akhirnya cintanya mulai berlabuh pada Aletta. Gadis pinangan Syafea dengan maksud meminjam rahimnya demi melahirkan keturunan untuk Zayd.
Suara alat patient monitor terdengar memenuhi ruang rawat inap Syafea. Alat itu masih digunakan untuk mengkaji keadaan terkini pasien dan mengevaluasi pengaruh intervensi yang telah diberikan kepada pasien.
Kondisi Syafea yang belum pulih sepenuhnya membuat para tenaga medis sering mengontrol kondisinya. Hyu Jin secara sembunyi-sembunyi mendatangi kamar inap Syafea.
Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri jika kartu As miliknya sedang berjuang di atas brankar.
"Kenapa kamu harus ikutan sakit? Seharusnya aku lebih dulu menanam benihku ke dalam rahimmu sebelum kamu terluka. Dengan begitu Zayd akan semakin terjatuh."
"Aku yakin jika saat ini, Zayd belum mengetahui kondisi perusahaannya yang hampir kolabs. Pasti ada kekuatan yang melindungi perusahaan Zayd!" ucapnya sambil mengepalkan tangannya.
Merasa jika dirinya telah diawasi, Hyu Jin memilih untuk pergi. Padahal ada seorang suster yang sengaja datang ke kamar Syafea untuk melakukan pemeriksaan rutin.
"Aneh, jika dia saudara pasien, kenapa tidak meminta ijin untuk masuk?"
Mengabaikan kejadian barusan, kini suster tersebut segera masuk ke dalam dan segera memeriksa kondisi pasien.
Sementara itu Hyu Jin merasa lega karena bisa lolos dari suster tersebut.
__ADS_1