
Beberapa saat setelah mereka pertemuan itu, Syafea memilih untuk segera kembali ke apartemen miliknya. Meskipun perasannya kalang kabut akan tetapi ia tidak membiarkan hal itu sampai mempengaruhi hubungannya dengan suaminya Zayd.
"Bagaimana pun perasaanku saat ini, Mas Zayd tidak boleh mengetahui hal ini. Aku tidak mau mereka sampai membuat keberadaan janin di dalam kandunganku ini terancam."
Egois memang, tetapi itulah Syafea. Seorang wanita cantik tetapi hatinya tidak begitu cantik dan terkesan culas. Ia hanya memikirkan keuntungan untuk dirinya sendiri dan jarang sekali mau merugi.
"Saat ini hubunganku dengan Hyu Jin juga belum menemukan titik terang. Akau tidak akan membiarkan semua ini sia-sia."
Sesampainya di basemen, Syafea segera menaiki lift menuju apartemennya.
"Dia belum sampai 'kan?"
Saat ia menggerakkan kursi rodanya ternyata rodanya tertahan, tentu saja ia menoleh.
"Suster?" ucap Syafea terlihat panik.
Bukan hanya Syafea yang panik, suster juga merasakan hal itu.
"Nyonya dari mana?"
"Dari apotek, kamu lama sekali datangnya, jadi aku memutuskan untuk keluar."
"Ya ampun, kenapa Nyonya membuat Tuan Besar khawatir. Saya sampai ditugaskan untuk mencari Nyonya ke segala penjuru apartemen."
"Apa, jadi Abah tahu jika aku tidak ada di apartemen? Bisa gawat nih!"
Rupanya kejadian itu benar-benar membuat Syafea harus mencari alasan yang tepat.
"Memangnya Nyonya mencari obat apa? Kan bisa saya bawakan secara langsung dari Rumah Sakit?"
Syafea hanya menunjukkan paper bag miliknya lalu segera menyuruh suster untuk segera kembali ke kamarnya.
"Apakah kamu tahu berapa lama aku harus menunggu obat ini?"
"Maaf, Nyonya ... maafkan saya."
Berulang kali susternya meminta maaf pada Syafea, hingga tidak terasa mereka telah sampai di pintu apartemen miliknya.
__ADS_1
"Huft, aku harus menyakinkan Abah tentang alasan apa yang akan aku utarakan nanti."
"Lagipula Umi juga tidak di rumah, seharusnya mereka tidak akan curiga.
Tidak begitu lama kemudian, dari arah belakang muncul Umi dengan membawa beberapa paper bag di tangannya. Buru-buru ia mendekati Syafea.
"Darimana saja kau Syafea?"
Deg
Untuk beberapa detik kemudian, detak jantung Syafea berhenti. Ia tidak menyangka jika sikapnya yang memutuskan untuk keluar justru diketahui oleh mertuanya.
"Dari apotek Umi."
"Bukankah ada suster yang selalu membawakan obat dari dokter untukmu? Kenapa kau harus pergi keluar sendiri?"
"Itu karena dia terlambat datang dan aku sudah terlalu pusing Umi, maka dari itu aku pun memutuskan untuk pergi sendirian."
"Ya sudah, yang terpenting kamu baik-baik saja."
"Oh, ya. Umi ... kemana perginya Mas Zayd sama Aletta? Bukankah tadi Umi bilang jika kalian bertiga pergi ke rumah sakit?"
"Namun, kenapa yang kembali hanya Umi sendiri?"
Umi tersenyum dan bisa membaca apa tujuan dari pertanyaan yang diajukan Syafea barusan.
"Tentu saja mereka pergi ke Rumah Sakit untuk memeriksa kandungan Aletta. Memangnya mereka mau pergi kemana lagi?"
Umi meletakkan barang-barang ke atas meja makan, lalu duduk setelahnya.
"Umi memang mengantarkan mereka sampai di Rumah Sakit. Lalu meminta izin untuk berbelanja. Kebetulan stok bahan makanan di rumah sedang habis maka dari itu Umi memutuskan untuk berpisah dengan mereka dan berbelanja kebutuhan pokok sehari-hari."
"Apakah kau keberatan?"
"Bu-bukan begitu--"
Belum sempat Umi melanjutkan perkataannya terdengar ucapan salam dari arah pintu. Ternyata Zayd dan Alette sudah pulang dari Rumah Sakit.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum ...."
"Wa'alaikum salam ... itu mereka sudah pulang."
Tampak sekali Umi memandang anak dan menantunya dengan penuh cinta. Ditambah lagi ketika Aletta dan Zayd bergantian menyalami Umi. Suster yang menatap mereka juga ikutan bengong.
"Apakah mereka melihat artis? Sampai bengong seperti itu," gumam Aletta.
"Maaf Umi, tadi kamu justru tidak bisa membantu Umi."
"Nggak apa-apa, yang yang penting kalian sehat Bukankah kalau begitu, Zayd?"
"Betul sekali Umi."
Beberapa saat kemudian Zayd mulai melihat ke arah Syafea.
"Kamu apa kabar? Apakah kondisimu sudah membaik?"
Tampak sekali jika Syafea tidak suka ketika Zayd justru semakin dekat dengan Aletta. Maka dari itu Syafea mendiamkan suaminya. Tidak menjawab pertanyaan yang diajukan Zayd barusan.
Merasa jika tindakan Syefa mulai berani, Umi pun menegurnya.
"Tidak baik hukumnya mendiamkan suami yang bertanya kepadanya. Bukankah Zayd juga bertanya dengan nada lembut?"
"Maaf Umi, Syafea capek," ucapnya sambil mendorong kursi rodanya untuk masuk ke dalam kamarnya.
Sementara itu Aletta hanya bisa melihat kebencian yang berada di dalam mata Syafea untuknya. Akan tetapi Aletta juga tidak bisa berbuat banyak, karena saat ini dia hanya istri kedua dan bukan siapa-siapa pula di dalam rumah tangga mereka.
"Dasar istri tidak taat suami!" ucapnya dengan nada kesal.
"Sudahlah Umi, mungkin memang benar apa yang dikatakan Kak Syafea sangat lelah. Terlihat sekali dari raut wajahnya yang begitu kelelahan."
"Kamu jangan terlalu baik dengan Sayefa karena belum tentu semua orang bisa berbuat baik kepada kita."
Aletta hanya bisa tersenyum sumbang mengetahui hubungan suami dan istri pertamanya tidak rukun. Sudah pasti semua ini karena dirinya.
"Tuhan, maafkanlah aku ...." lirih Aletta di dalam doanya.
__ADS_1