ISTRIKU, PENUTUP AIBKU

ISTRIKU, PENUTUP AIBKU
Bab 90. AKHIR YANG BAHAGIA


__ADS_3

"Abi, bolehkah aku meminta satu hal sebelum kita pulang?" ucap Aletta lemah.


"Iya, katakanlah bidadariku."


"Bolehkah kita melakukan ijab qobul sekali lagi di sini. Dengan wali nikahnya ayahmu sendiri?"


"Boleh-boleh, nanti aku bicarakan dengan umi dan ayah kamu, ya?"


Aletta mengangguk lemah. Untuk beberapa saat akhirnya Zayd memberanikan diri bertanya pada Aletta seperti apa konsep pernikahannya kali ini.


"Yang sederhana saja tetapi terkesan sakral."


"Siap."


Beberapa hari kemudian, akhirnya Aletta dan Zayd akan menikah secara hukum dan agama. Meski dilakukan di Rumah Sakit, tetapi tidak mengurangi kebahagiaan di dalam Keluarga Besar Zayd.


Aletta sudah dirias sedemikian rupa agar tidak terlihat pucat. Begitu pula dengan Zayd yang memakai jas dan peci di kepalanya. Pak Rahmat dan kedua orang tua Zayd juga berada di sana, lengkap dengan Baby Noe di dalam gendongan Umi.


Setelah siap, Zayd segera mengucap ikrar qobul setelah Pak Rahmat membacakan lafadz ijab padanya. Beruntung acara ijab qobul berjalan dengan lancar.


Setelah itu, keduanya menandatangani surat dan buku nikah. Setelah semua selesai lalu Aletta segera mencium tangan Zayd yang diakhiri dengan Zayd yang mencium kening Aletta serta membacakan doa untuk istrinya itu.


Suasana yang begitu sakral harus dilakukan dengan cepat karena kondisi Aletta tidak boleh terlalu capek. Akan tetapi setidaknya Aletta merasa tenang jika pada akhirnya ia akan kembali pada Illahi Rabbi.


Setelah proses ijab qabul, seluruh keluarga menjalani tes sumsum tulang belakang. Dokter akan menentukan siapa pendonor yang paling tepat nantinya untuk menyelamatkan hidup Aletta.


Mungkin doa dari banyak orang membuat Aletta diberikan kemudahan. Kondisi yang semula hampir kritis kembali kini sudah kembali pulih dengan cepat. Ditambah lagi hormon kebahagiaan membuat progres kesehatan Aletta semakin membaik.


Dokter tersenyum akan perkembangan kesehatan Aletta yang semakin membaik.


"Selamat Tuan Zayd, akhirnya operasi itu akan bisa dilakukan."


"Terima kasih, dok. Semua berkat kerja keras Anda dan tim medis."


Dokter menggeleng.


"Bukan hanya itu saja, karena semua ini berkat doa dan keyakinan Anda yang sukses membuat semangat untuk sembuh bertambah."


"Jadi kapan istri saya boleh pulang, dok?"


"Secepatnya."


"Terima kasih, dok."


Setelah beberapa saatnya akhirnya Aletta diperbolehkan pulang. Dengan catatan ia harus sering mengontrolkan penyakitnya tersebut dan rutin mengkonsumsi obat yang direkomendasikan oleh dokter.


"Alhamdulillah akhirnya bisa pulang."

__ADS_1


"Yeay, Mama bisa pulang," seru Zayd sambil menirukan suara anak kecil.


Tentu saja tingkah laku Zayd membuat Aletta menyunggingkan senyumnya. Abah dan Umi juga bahagia karena akhirnya untuk pertama kalinya Aletta akan masuk ke dalam rumah mereka.


Dokter Safa bersama Pak Rahmat turut mengantarkan Aletta pulang. Keluarga Zayd memang mengundang Dokter Safa untuk berkunjung ke rumah mereka.


Meski saat ini Aletta masih menunggu jadwal untuk operasi. Ia tetap berusaha untuk optimis dengan solusi dari dokter tersebut.


"Nyonya Aletta, Anda tidak usah khawatir karena


dari hasil tes sumsum tulang belakang yang prosentasinya paling cocok adalah milik Pak Rahmat. Maka sambil menunggu Nyonya sehat, ia diperbolehkan berobat jalan."


"Terima kasih, dok."


Operasi itu memang harus dilakukan agar Aletta bisa bertahan hidup lebih lama dan sel kankernya bisa ditekan dengan jalan operasi tersebut. Sebuah upaya terbaik yang diambil setelah pihak medis mendapatkan hasil kesepakatan dari keluarga besar Zayd.


Aletta belum berani menggendong Baby Noe. Ia takut jika tubuhnya yang masih lemah justru membuat bahaya bagi putranya itu.


"Nak, maafkan Mama ya karena belum bisa memberikan ASI terbaik untukmu," ucap Aletta lirih sambil melihat Baby Noe dari box bayinya.


Tubuhnya bergetar ketika ia sadar ada sebuah luka yang ditahan olehnya, yaitu adalah ketika ia tidak diperbolehkan untuk menyusui Baby Noe untuk selama beberapa waktu. Dokter melarang sampai penyakit Aletta dinyatakan benar-benar pulih.


Sebuah hal yang ditakutkan oleh dokter adalah ketika Aletta memaksakan untuk tetap menyusui Baby Noe, penyakit itu bisa menurun kepada putranya. Maka dari itu Baby Noe terpaksa harus minum susu formula.


Zayd yang mengambil makan dan minum untuk istrinya begitu terkejut karena melihat tubuh Aletta bergetar. Ditaruhnya nampan berisikan makanan itu di meja lalu menepuk lembut bahu istrinya.


"Ada apa? Kenapa kamu terlihat bersedih?"


"Sabar, Allah tidak akan menguji hambanya di luar batas kemampuannya."


"Iya."


"Beberapa hari lagi operasi akan dilakukan. Jangan lupa agar mempersiapkan diri. Aku dan putra kita menunggu kamu untuk lebih sehat. Agar kedepannya kita bisa menambah teman untuk Baby Noe."


"Apaan sih, Abi. Sembuh juga belum udah mikir aneh-aneh," ucap Aletta tersipu.


"Kamu adalah separuh hidupku. Jadi jika kamu pergi lebih dulu maka jangan salahkan aku jika segera menyusulmu."


Sontak Aletta menutup mulut suaminya dengan kelima jarinya.


"Selamanya kita akan bersama sampai melihat anak dan cucu kita bahagia, jadi jangan berbicara yang tidak-tidak."


"Insya Allah jika kamu selalu di sisiku."


"Aamiin."


Zayd tersenyum menatap semangat hidup di dalam mata Aletta kian bersinar terang. Itu artinya ia sudah bisa ikhlas dan siap untuk berjuang di meja operasi.

__ADS_1


Baby Noe tersenyum dari atas box bayinya, seolah ia mengetahui jika kedua orang tuanya sedang berbahagia. Sayup-sayup terdengar suara adzan, sepasang suami istri itu segera melakukan sholat berjamaah.


Beberapa hari kemudian, setelah memastikan semuanya baik. Kini saatnya Aletta menjalani operasi. Semua tenaga medis, pasien dan pendonor sudah bersiap. Sebelum operasi dimulai semua anggota keluarga berdoa untuk kelancaran acara.


Zayd memegang tangan Aletta seraya berbisik, "Ingatlah ada aku dan anak kita yang menunggumu di sini. Percayalah pertolongan Allah itu nyata."


Aletta mengangguk lalu segera dibawa masuk ke dalam ruang operasi. Terlihat kecemasan di wajah semua orang. Akan tetapi Zayd terus berdoa untuk kesembuhan istrinya itu.


Tiga jam berlalu. Baby Noe yang semula tertidur kini sudah terbangun. Matanya yang bersinar dan senyum dari bibir tipisnya membuat hati Zayd menghangat. Lampu di atas pintu ruang operasi telah padam, itu artinya operasi telah selesai.


Zayd hampir putus asa ketika pintu ruang operasi lama terbuka. Akan tetapi Allah benar-benar menunjukkan mukjizatnya. Memberikan kesempatan kedua untuk manusia yang dipilihnya agar tetap tegar dan terus berjuang di jalan Allah.


Langkah kaki dokter terlihat perlahan tetapi hanya sebentar saja, dokter tersebut menyalami Zayd.


"Alhamdulillah operasi Nyonya Aletta telah selesai dengan baik. Selamat pula karena sel kankernya sudah tidak terlalu besar lagi sehingga mempermudah tahap penyembuhannya."


"Alhamdulillah, oh ya bolehkah saya masuk?"


"Tunggu sampai kami memindahkan ke ruang perawatan."


"Terima kasih, dok."


"Sama-sama."


Beberapa saat kemudian, pemilik bulu mata lentik nan indah dipandang itu sudah membuka matanya. Tampak semakin cantik meski kulitnya begitu pucat.


"Bidadariku, akhirnya kau membuka mata," sambut Zayd ketika melihat Aletta mulai membuka mata.


"Alhamdulillah Abi, Allah memudahkan urusan kita."


"Syukurlah kalau begitu, setidaknya Baby Noe dan aku tidak akan pernah kesepian lagi mulai sekarang."


Aletta tersenyum menanggapi ucapan dari suaminya tersebut. Entah mengapa perjuangannya seolah terbayar manis saat ini. Di usianya yang hampir mendekati dua puluh tahun ia justru sudah memiliki keluarga kecil lengkap dengan seorang putra yang tampan di sana.


Belum lagi ia bisa bertemu dengan Pak Rahmat, ayahnya. Kini semua orang terlihat saling menatap satu sama lain penuh dengan kebahagiaan dan rasa bersyukur.


"Bidadariku Aletta Kirana Dewi, terima kasih sudah mau berjuang bersamaku selama ini. Berjuang bersama dan selalu menemaniku dalam suka dan duka. Mengajarkan tentang arti cinta yang sesungguhnya. Terima kasih."


"Terima kasih juga, Abi. Sudah menerima semua kekurangan yang kupunya. Meski banyak ujian di awal pernikahan kita, semoga Allah selalu melimpahkan keluarga kita menjadi keluarga sakinah, mawadah, warahmah. Aamiin."


Akhirnya semua penderitaan yang dialami Aletta dan ujian yang datang bertubi kepada Zayd mampu mereka hadapi bersama. Kini keduanya bersiap menyongsong hidup yang bahagia selamanya. Aamiin.


...TAMAT...


......................


Alhamdulillah, terima kasih untuk para pembaca Zayd dan Aletta hingga tahap ini, maaf jika di akhir cerita alurnya dipercepat. Bukan karena apapun tetapi lebih kepada kesehatan othor yang masih recovery. Akan tetapi diluar semuanya othor berterima kasih untuk pembaca setia, semoga othor bisa menyajikan novel yang lebih islami lagi, Aamiin.

__ADS_1


Oh ya, ada yang nungguin kisah cinta remaja religi nggak, kalau iya mungkin bisa ditulis di kolom komentar ya. Biar othor persiapkan ouline nya.


Jangan lupa mampir ke kisah cinta Baby Noe, insyaAllah akan launching bulan ini, kalau tidak ganti judul insyaAllah judulnya : CALON BIDADARI SURGAKU, jangan lupa mampir ya, Syukron🙏


__ADS_2