
Tidak perlu membutuhkan waktu yang lebih banyak lagi, kini pengacara Zayd sudah datang dan membawa surat perceraian tersebut ke hadapan Syafea. Tentu saja ia sangat terkejut karena baru beberapa menit saja yang lalu suaminya itu mengatakan keinginannya untuk bercerai.
"Secepat inikah pernikahan kita?"
Tanpa sadar Syafea mengatakan demikian. Akan tetapi beberapa saat sebelumnya, dokter Rafa meminta Aletta segera kembali ke kamarnya karena Baby Noe lapar. Sehingga ia tidak melihat bagaimana terlukanya Syafea saat itu.
"Ma-Mas ...." bibir Syafea bergetar.
Rasanya ia tidak sanggup dicampakkan untuk kedua kalinya. Rasa terbuang ketika Hyu Jin membatasi akses untuk bertemu dengannya sebagai hukuman karena Syafea lalai menjaga benihnya membuat ia dua kali terluka dalam kurun waktu yang berdekatan.
"Sudahlah, yang perlu kamu lakukan hanyalah tanda tangan. Selebihnya kau masih bisa mendapatkan harta gono-gini."
Syafea memejamkan matanya. Rasa panas menjalar di sana. Air matanya seolah mengering seiring rasa sakit yang teramat sangat di dalam hatinya.
"Sial, seharusnya tidak seperti ini. Luka ini belum juga sembuh tetapi kau justru menambahnya. Baiklah jika ini yang kau inginkan, Mas!"
Meskipun dengan bibir dan tangan gemetar, Syafea seolah bersikap tegar. Meski ketegarannya justru membuatnya semakin terluka.
Setelah Syafea menyelesaikan tanda tangannya, Zayd segera melanglah pergi. Baru beberapa langkah, ia menoleh.
"Terima kasih telah mempertemukan diriku dengan seorang istri yang bisa menutup semua aibku dengan sempurna. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita dan kau akan mendapatkan kebahagiaan. Aamiin."
Syafea tampak mere-mas selimut miliknya, tetapi hal itu sama sekali tidak membuat anggota keluarga Zayd bersimpati kepadanya. Kesombongan Syafea telah sirna tak bersisa. Rasa obsesinya seolah telah membutakan kedua matanya, jika Zayd adalah sosok lelaki sekaligus suami yang sangat sempurna.
__ADS_1
Ia tidak pernah menuntut banyak hal, bahkan ketika Syafea tidak kunjung hamil. Setiap waktu berusaha untuk membahagiakan Syafea, bahkan ia sampai mengesampingkan perasaan Umi.
Namun, Aletta hadir bagaikan seorang penyejuk di dalam pernikahan Zayd dan Syafea. Meskipun masih muda, Aletta tidak pernah bertingkah. Zayd memperlakukan dirinya dengan lembut sampai akhirnya tanpa mereka sadari rasa cinta itu tumbuh sempurna.
Aletta yang menjaga perasaan agar tidak mencintai Tuannya justru terjebak dengan perasaannya sendiri. Saat ini kondisi ayahnya perlahan membaik. Ketika dokter Hadi berhasil menjaga ayahnya, Aletta tidak henti-hentinya bersyukur.
"Jangan khawatir, ayah kamu baik-baik saja. Apakah study kamu juga berhasil?" tanya dokter Hadi pada Aletta.
"Em, itu dok ...."
"Aletta sayang ...."
Saat mendengar jika ada yang memanggil Aletta dengan sebutan Sayang, kening dokter Hadi berdenyut. Hati dan pikirannya mempertanyakan siapa sosok lelaki yang memanggilnya.
Tiba-tiba saja, Zayd memeluk tubuh Aletta dari arah belakang. Panggilan video call antara dirinya dengan dokter Hadi terganggu akibat kemunculan Zayd.
Zayd yang ke arah kamera ponsel. Bahkan ia menyapa dokter Hadi dengan ramah.
"Assalamu'alaikum, dok. Salam kenal dari saya calon suaminya Aletta. Perkenalkan nama saya Zayd Abdullah."
"Ketakutanku akhirnya terjadi, saat ini Aletta sudah ada yang memiliki," ucapnya di dalam hati.
"Dok ...."
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam, Tuan Zayd. Salam kenal dengan saya dokter Hadi."
Aletta tidak enak hati dengan dokter Hadi karena Zayd tiba-tiba saja muncul. Ia bahkan tidak segan memperkenalkan dirinya sebagai calon suaminya.
"Oh, berarti dokter Hadi yang menjaga calon Ayah mertua saya. Kalau begitu tolong sampaikan salam saya buat beliau."
"Iya, jangan khawatir nanti pesan Tuan Zayd akan disampaikan kepada beliau. Kalau tidak ada hal lain, sambungan telepon kita sampai di sini dulu ya, masih ada tugas untuk mengecek kondisi pasien."
"I-iya, dokter. Terima kasih banyak. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Akhirnya sambungan telepon di antara mereka terhenti dan saat ini Zayd menatap Aletta dengan penuh cinta. Kedua tangannya bahkan dipegang erat olehnya.
"Jangan khawatir, ketika selepas masa nifas, maka rencana pernikahan kita akan segera dilaksanakan."
"Tapi, Abi ... apakah itu tidak terlalu cepat? Bukankah banyak hal yang harus dipersiapkan sebelum melakukan sebuah akad?"
"Jangan khawatir, semua orang-orangku akan membantu kita semaksimal mungkin."
Aletta tidak henti-hentinya bersyukur. Meski cinta mereka salah, tetapi Allah mempertemukan hal itu dengan cara yang indah.
"Aletta, terima kasih karena telah menutup satu persatu aibku. Terima kasih pula karena telah memberikan pelengkap hidupku."
__ADS_1