
Semakin hari usia kandungan Aletta semakin bertambah. Bukannya berkurang ternyata ternyata morning sickness yang dialami Aletta membuatnya kepayahan.
Kini hanya dengan mencium aroma nasi putih saja, rasa mual yang berlebihan dirasakan oleh Aletta. Beberapa kali ia bolak balik ke kamar mandi hanya untuk menuntaskan hasratnya yang tidak kunjung reda.
Bukan membantu Aletta, Syafea justru tersenyum melihat madunya mual-mual hebat. Tangan mungilnya berpegangan pada daun pintu. Wajahnya terlihat sangat pucat. Bisa dipastikan jika Aletta saat ini tersiksa.
Kebetulan Zayd sedang tidak berada di rumah. Ia pergi ke bandara untuk mengantar Umi dan Abah yang tiba-tiba saja harus kembali ke tanah air karena di perusahaan mereka ada sebuah masalah besar. Sehingga mau tidak mau mereka terpaksa kembali.
"Ingat jaga istrimu baik-baik. Tidak boleh membuatnya terluka atau sakit hati."
"Apalagi mood orang hamil lebih sensitif."
Merasa jika kekhawatiran Umi sangat beralasan membuatnya semakin gigih dalam menjaga istri kecilnya itu. Lain lagi dengan pesan Abah padanya.
"Jaga syahwatmu. Ingat meski kalian sudah menikah tetapi aku tidak tahu apakah pernikahan kalian sah di mata agama atau tidak. Jangan terlalu dekat sehingga bisa memunculkan setan di antara kalian, paham!"
Umi yang mendengar hal itu segera mencubit pinggang suaminya.
"Abah, tanpa kamu ingatkan Zayd juga sudah paham akan hal itu."
__ADS_1
"Aku cuma mengingatkan Umi, kamu tenang saja."
"Ya dah itu saja pesan kami, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Sementara itu Selvia sangat berbahagia karena melihat mertuanya sudah kembali ke tanah air.
Lengkungan senyum terukir indah di sana. Mengisyaratkan jika ia sangat senang saat ini. Setelah mereka pergi, itu artinya dia bisa kembali berkuasa.
"Hm, akhirnya aku bisa merasakan bagaimana kau tersiksa karena hal ini!" gumam Syafea di balik pintu.
Keringat sebesar biji jagung keluar dari kening dan pelipis Alleta. Mau tidak mau hal itu membasahi seluruh pasmina yang ia pakai. Sambil mengatur nafasnya, salah satu tangannya mengusap perutnya yang terus bergejolak.
Dengan cepat ia berlari ke arah istri kecilnya tersebut dan menangkap tubuhnya sebelum ia berhasil luruh ke bawah. Saat Zayd datang kondisi tubuh istrinya sudah lemah.
"Mas, sakit ...." ucap Aletta dengan suara sangat lirih.
"Iya, apanya yang sakit?" tanya Zayd mulai cemas.
__ADS_1
Belum sempat ia berkata-kata, Aletta justru sudah pingsan dulua. Zayd yang panik segera mengguncang tubuh Aletta sambil memanggil namanya.
Merasa sudah waktunya keluar, kini Syafea keluar dari kamar.
"Astaghfirullah, Aletta kenapa, Mas?"
"Nggak tau, aku pulang sudah seperti ini."
Syafea yang ikutan panik segera mendekati sofa tempat Aletta dibaringkan.
"Aletta, bangun Sayang, Aletta ...."
Demi menghindari resiko yang lainnya, Zayd langsung menghubungi pihak Rumah Sakit untuk mengirimkan ambulans ke apartemen. Perasaan tidak tenang menghinggapi Zayd. Wajah Syafea justru terlihat bahagia.
"Hm, kamu begitu menderita ya, Sayang. Cepat buat ibumu menderita agar ia sadar diri siapa yang sesungguhnya berhak menjadi ibu kamu. Ibu tidak sabar untuk melihat bagaimana kau terus menyiksanya, ha ha ha ...."
Hanya membutuhkan beberapa waktu, ambulans segera tiba dan membawa Aletta ke Rumah Sakit. Saat hendak ikut, Zayd melarang Syafea.
"Kau jaga rumah, biarkan aku pergi sendirian."
__ADS_1
Meskipun awalnya Syafea berpura-pura tetapi ketika melihat Zayd lebih perhatian kepada Aletta hatinya juga merasa sakit enak sekali.
"Sabar Syafa sabar. Sebentar lagi kamu bisa menyingkirkan Aletta. Setelah bayi itu lahir atau kamu lebih bisa memilih bersama Zayd atau dengan Hyu Jin dan mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya."