ISTRIKU, PENUTUP AIBKU

ISTRIKU, PENUTUP AIBKU
Part 70. MENCINTAI ISTRI ORANG


__ADS_3

"Raf, aku nitip Baby Noe dan Aletta kepadamu, ya. Maaf jika merepotkan."


"Siap, paman. It's oke."


Setelah berpamitan dengan dokter Rafa, Zayd terpaksa mengikuti kepergian dokter Michael.


Tampak jika dokter Michael menyeret tubuh Zayd agar pergi mendekatinya.


"Tolong pelankan langkahmu!"


"Sorry, ini darurat!"


Sesungguhnya ia hanya ingin Zayd berlaku adil pada kedua istrinya. Di tambah lagi saat ini Syafea dalam keadaan berduka karena ia baru saja dikiret. Akan tetapi justru ia merusak semua hal yang ingin diketahuinya.


Sementara itu Aletta justru berhasil memberikan dia seorang putra hanya saja status pernikahan mereka belum di sahkan secara agama, sehingga pandangan orang-orang sudah pasti jelek dan membuat dia bisa dikucilkan sekali lagi.


Jiwa kekepoan dokter Rafa yang tinggi membuatnya ingin mengikuti kemana pamannya pergi. Sehingga mau tidak mau ia harus menguping pembicaraan mereka.


Rupanya mereka berbincang cukup lama di sebuah tempat, apa yang mereka bahas tidak lebih dari persoalan rumah tangga yang sedang dijalani oleh Zayd dan juga kedua istrinya.


Langkah mereka terhenti di sebuah tempat. Tampak dari keduanya tidak ingin membuang waktu yang banyak, sehingga hanya memilih di ujung lorong Rumah Sakit.

__ADS_1


"Katakan, apa yang sebenarnya membuatmu mengajak ke sini! Apalagi yang harus dibahas?"


Dari ucapan Zayd, dokter Michael bisa mengetahui jika saat ini ia memang tidak ingin diganggu oleh siapapun. Bahkan jika itu terkait dengan istri pertamanya.


"Zayd, please untuk yang terakhir kalinya tolong kembali sebentar saja untuk Syafea. Berikan dia kesempatan untuk terakhir kalinya."


"Kesempatan lagi?"


"Ya, kenapa tidak?"


Dari ucapan yang diberikan padanya seolah dokter Michael menyalahkan keputusan Zayd yang lebih terkesan egois. Zayd memandang tajam ke arah dokter Michael.


"Kau pikir aku tidak mau mendekati dia karena apa? Kesabaran itu ada batasnya, Mich!"


"Zayd, kenapa kau berubah?"


Tanpa mau menoleh ke arah dokter Michael, Zayd melanjutkan ucapannya.


"Jangan ganggu keluarga kecil yang baru saja ku bangun dengan Aletta. Sekali ini saja, jangan kau menyuruh melalukan hal yang bisa saja membuat hati Aletta sakit."


Dilema, mungkin itulah yang dirasakan oleh Zayd dan juga dokter Michael, karena pada dasarnya mereka memang tidak bisa berbuat banyak kali ini. Apalagi apa yang dilakukan bisa membuat salah satunya terluka.

__ADS_1


"Jadi benar apa yang dikatakan oleh Umi dan Abah, jika paman menikah untuk kedua kalinya," gumam dokter Rafa.


Tanpa menunggu waktu lama lagi, kini dokter Rafa lebih memilih untuk kembali secepatnya. Ia tidak mungkin mau ikut campur terlalu dalam.


Maka dari itu ia lebih memilih untuk secepatnya pergi dan kembali ke dalam ruang rawat Aletta.


Saat suster hampir saja pergi dari kamar Aletta, rupanya dokter Rafa sudah sampai di sana.


"Maaf, apa pasien sudah selesai memberikan ASI?"


"Sudah, dok. Saat ini bayinya mau dibawa kembali ke ruang bayi. Sementara itu Ibu Aletta akan kembali beristirahat."


"Baik, kalau begitu biar saya kembali ke ruangan saya. Jika nanti Tuan Zayd mencari suruh langsung ke ruangan saya saja, ya?"


"Baik, dok."


Dokter Rafa tidak mau mendahului kehendak Allah. Ia akan menunggu sampai saat pamannya ada di ruangan itu dan memperkenalkan kepadanya.


Sejenak dokter Rafa teringat akan seorang wanita yang selalu membuat dirinya tidak bisa tidur nyenyak. Meski tahu jika wanita yang sudah dicintai olehnya itu adalah seorang wanita hamil, tetapi entah mengapa ia tetap menyukainya.


"Lucu, jika mengingat bahwa dirinya hanya dibuat sebagai seorang wanita simpanan. Ya, kamu pasti adalah istri simpanan dari seorang lelaki kaya."

__ADS_1


"Gila, rasanya memang gila!"


__ADS_2