
Perjalanan panjang itu akhirnya telah sampai di tujuan. Meskipun tidak semulus bayangan, tetapi Pak Rahmat berhasil menemukan sebuah rumah dengan bangunan sangat mewah. Ia bahkan tidak ingin masuk ke sana karena merasa tidak pantas menginjakkan kakinya di tempat mewah seperti itu.
"Waduh, kenapa dokter Hadi menyuruhku untuk datang ke tempat ini?"
Beberapa saat ketika Pak Rahmat hendak menekan bel pintu rumah, rupanya suara klakson yang begitu nyaring mengagetkannya.
"Astaghfirullah," gumamnya.
Rupanya saudara sepupu Zayd baru saja pulang. Dia adalah Safa, adik kandung dokter Hadi yang juga tinggal di rumah mewah itu. Melihat ada seorang lelaki tua yang berdiri di depan pintu gerbang, Tasya segera membuka pintu mobilnya.
Gadis cantik yang hampir mirip dengan dokter Hadi itu mengulas senyum ke arah Pak Rahmat.
"Selamat siang, Pak. Ada yang bisa dibantu?"
Pak Rahmat menunduk, lalu mulai menjawab pertanyaan dari Safa. Beliau langsung merogoh sakunya dan menyerahkan sebuah pesan yang ditulis tangan oleh dokter Hadi.
"Dek, tolong bantu Bapak ini. Namanya Pak Rahmat, dia lelaki tua yang dulu kakak tolong di Rumah Sakit. Sebentar lagi putrinya akan kembali dari luar negeri. Kakak harap kamu bisa menampungnya dan meminta ijin pada Papa dan Mama."
Safa yang sudah mendengar kabar tentang kematian kakaknya di kota besar hanya bisa mengusap cairan bening yang merembes dari celah matanya. Lalu ia mencoba menetralkan suaranya agar bisa lebih tenang ketika berbicara.
"Bapak Rahmat ya?"
"Iya, saya Non."
"Silakan masuk, kita bicara di dalam saja."
__ADS_1
"Terima kasih banyak, Non."
Selepas berbicara dengan Pak Rahmat, kini Safa memerintahkan art di rumahnya untuk menyiapkan kamar untuk tamunya itu. Dari pesan kakaknya ia bisa menyimpulkan jika lelaki tua itu adalah orang yang ditolong olehnya.
Tidak ada yang membuat Safa bisa seperti ini kecuali berkat bantuan dokter Hadi. Akan tetapi belum sempat ia berbakti pada kakaknya, ternyata Allah lebih dulu mengambil sang kakak. Kini ia hanya menjalankan amanah yang diberikan dokter Hadi. Sampai ketika nanti ia bisa membantunya bertemu dengan putrinya, Aletta.
"Kau beruntung sekali Aletta, mendapatkan cinta dari kakakku. Begitu mencintaimu tanpa mengharapkan balasan. Bahkan ketika kakak menentang ucapan dari Papa untuk menikah dengan wanita pilihannya."
"Kini kakak bahkan telah berkorban nyawa hanya demi menyelamatkan ayahmu. Semoga saja kau bisa menghormati keputusan kakak."
Safa tidak mau menangis banyak. Hal itu justru akan memberatkan kepergian kakaknya jika ia terus menangis. Apalagi ini belum ada tiga hari setelah kematiannya.
"Semoga kakak tenang di alam sana. Kakak nggak usah khawatir karena amanat Kakak akan kuusahakan."
Selepas menenangkan diri di kamar, kini Safa terlihat lebih tenang. Ia pun melepas hijabnya lalu masuk ke kamar mandi.
"Cepat bawa kembali Aletta, Nak. Kalau tentang pencarian ayahnya Aletta, nanti biar Umi dan Abah mencari jalan terbaik."
"InsyAllah Umi. Kita berusaha sebaik-baiknya, kalau untuk Aletta semoga saja ia sudah pulih dan tidak banyak pikiran. Apalagi saat ini Aletta masih masa pemulihan."
"Yang terpenting mengetahui jika ayahnya selamat itu sudah lebih dari cukup. Baru setelahnya kita mengerahkan orang untuk mencarinya."
"Benar, semua itu bisa diusahakan."
Betapa bahagianya ia ketika melihat kedua orang tuanya selalu mendukung keputusannya. Hal ini sangat berbeda dengan saat ia masih menikah dengan Syafea. Banyak keputusan yang ditentang oleh Umi dan Abah. Akan tetapi ia juga tidak ingin melukai hati istrinya maka dari itu meski bertentangan Zayd selalu mendahulukan Syafea.
__ADS_1
Rupanya keputusan menikahi Syafea memang salah. Buktinya tidak ada kebahagiaan di dalam pernikahan mereka. Justru kemudharatan banyak terjadi di dalamnya.
"Jika Allah tidak mempertemukan kita, sudah pasti kehidupanku akan semakin salah jalan," gumam Zayd sambil memainkan ponselnya.
Beruntung saat ini Zayd memakai supir pribadi, sehingga ia tidak terlalu kelelahan. Apalagi perkembangan bisnisnya tidak boleh lagi diabaikan. Sudah ada dua tanggung jawab baru yang diembannya saat ini, yaitu Aletta dan Baby Noe sehingga Zayd harus benar-benar memperhatikan langkahnya.
Bukan hanya itu saja, persaingan bisnis saat ini bisa saja membuat lawannya ingin menyingkirkan rival bisnis dengan cara kotor, maka dari itu Umi dan Abah tidak membiarkan Zayd menyetir sendiri.
Aletta mengerjakan kedua matanya. Kebetulan ada Bibi Zayd yang berada di ruangannya.
"Alhamdulillah Aletta, akhirnya kau siuman."
Aletta terpaksa mengulas senyum. Akan tetapi kepalanya masih berdenyut.
"Masih sakit, Nak?"
Aletta mengangguk.
"Tunggu sebentar, biar Bibi panggilkan dokter, ya!"
"Tidak usah, Bi. Maaf Maaf Zayd dan Baby Noe dimana, ya?"
"Kamu tenanglah, mereka baru saja pulang. Nanti kesini lagi, kok. Kasihan kalau Baby Noe di sini nggak baik buat kesehatan dia. Makanya Umi dan Abah membawanya pulang."
"Terima kasih, Bi."
__ADS_1
Tiba-tiba saja kepala Aletta berdenyut kencang, lalu kemudian pingsan lagi.
"Astaghfirullah Aletta, dokter ... suster tolong!"