
Deegg...
Ada getaran aneh di hati Dira begitu pula dengan Rafka, jantung mereka berdetak lebih kencang dari biasanya. Setelah berhasil menaiki motor itu Dira langsung melepaskan tangannya dari Rafka akan tetapi dia tidak bisa melepasnya karena tangan Rafka mencengkeram erat tangannya.
"Maaf pak,, tangan saya..?" Rafka melihat ke arah Dira, Dira mengode ke tangannya. Rafka yang kaget melihat tangannya masih memegang tangan Dira segera melepasnya.
"Eh,, maaf ya saya lupa," ucap Rafka gugup, Rafka langsung melajukan motornya.
Suasana hening menyelimuti mereka, sebenarnya Dira sangat tidak nyaman dengan cara duduknya itu, dia tidak tau harus berpegangan di mana, dia mau memegang di pundak Rafka akan tetapi dia malu, akhirnya dia memegang jok yang dia duduki.
Pada saat mereka melintasi sebuah jalan yang sedikit sepi, Rafka tidak melihat kalau ada seekor kucing yang melintasi jalanan itu karena asik dengan pikirannya. Seketika dia mengerem mendadak ketika hampir menabrak kucing tersebut, Dira yang hampir jatuh segera memeluk Rafka dan memejamkan matanya dan tidak ada lagi jarak di antara mereka.
Sesuatu yang kenyal di tubuh Dira menempel di punggung Rafka yang membuat jantung Rafka tidak karuan. Rafka mematung sampai sebuah suara mengagetkannya.
"Ada apa pak, kok ngerem mendadak ?" tanya Dira masih memeluk Rafka.
Rafka tersentak, dia lalu menoleh ke arah Dira. Jarak wajah Rafka sangat dekat dengan Wajah Dira yang membuat pandangan mereka bertemu.
dag..dig..dug..
Suara jantung mereka mengalahkan arena pacuan kuda. Dira menundukkan kepalanya, dia tidak sanggup menatap manik mata Rafka yang sangat indah dan berwibawa itu, Dia membetulkan kembali cara duduknya.
Rafka pun kembali melihat ke depan dan menetralkan perasaannya,Suasana seketika hening.
" Kamu gak apa-apa Dira ?" tanya Rafka memecahkan keheningan.
"Saya gak apa-apa pak, saya cuma kaget. Emang tadi kenapa bapak ngerem mendadak gitu ?"
"Tadi saya tidak melihat kalau ada kucing Lewat," jawab Rafka
Kamu pegangan ya, supaya gak jatuh," ucap Rafka kemudian.
"Dimana ?" tanya Dira polos, bukannya dia gak tau tapi dia segan kalau harus memeluk Rafka, gak mungkin kan dia memeluk Dosennya itu apalagi di tempat umum seperti itu.
Rafka tersenyum mendengar pertanyan Dira, dia kemudian mengambil tanga Dira dan menaruh di pundaknya.
Dira yang deg-degan akhirnya lega karena tidak harus memeluk Rafka.
Kenapa gue gak kepikiran dari tadi ya memegang pundaknya Pak Rafka,, batin Dira
__ADS_1
"Dira rumah kamu di mana, apa benar ini jalannya," Tanya Rafka
"Eh iya..ya, aku belum ngasih tau alamatnya ya," ucap Dira sambik garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Rafka tertawa melihat tingkah Dira membuat Dira menjadi malu sendiri.
"Ini udah bener kok jalannya, kok Bapak tau sih," tanya Dira
"Jangan panggil Bapak, ini kan bukan di kampus,"
Deeggg...
lagi-lagi jantung Dira rasanya seperti mau copot aja mendengar ucapan Rafka.
"Terus saya panggil apa dong ?"
"Pangil Abang, mas atau kamu mau panggil sayang juga boleh," goda Rafka
"Apaan sih pak..eh..mas," wajah Dira merona, Baru kali ini dia merasakan di gombali sama laki-laki, kemaren-kemaren jangankan ada yang mengombalinya berhadapan dengannya saja semua lelaki yang ada di kampus sudah ciut duluan nyalinya.
Dulu memang dira sangat mengidolakan Bian, walaupun dia mengetahui kalau Bian sudah punya pacar yaitu Sinta, tapi setelah dia berubah dia sudah membuang perasaannya pada Bian yang hanya bisa menyakiti perasaan wanita, apalagi wanita itu sekarang jadi sahabat terbaiknya.
"Kok bengong sih, saya harus lewat mana nih," tanya Rafka, Dira melihat mereka sudah di pertigaan.
"Belok kiri pak," ujarnya
"Eh aku lupa, maaf ya mas,"
"Nah gitu dong, kan cocock sama umur, lagian umur kita kayaknya gak beda jauh," ucap Rafka
"Memangnya umur mas berapa ?"
"25 tahun," sahutnya, Dira ternganga mendengar jawaban Rafka.
Haah..di umur dia yang semuda itu sudah jadi Dosen,, hebat sekali dia, gue saja yang mau 22 tahun kuliahnya baru semester dua,, Batin Dira
"Kenapa,, Binggung ya kenapa di umur segini saya sudah jadi Dosen ?" tanya Rafka
"Kok mas tau kalau saya lagi binggung,"
"Tuh kelihatan di spion kening kamu mengkerut", ucapnya
__ADS_1
Rafka menghentikan motornya di sebuah rumah megah ber cat putih dengan gerbang menjulang tinggi.
"Ini rumah kamu ?" tanya Rafka, Dira mengangguk
"Ini sih bukan rumah, tapi istana," ujarnya
" Mas bisa aja,,Mampir dulu yuk mas," ajak Dira
" Gak usah,, saya minder," canda Rafka
"Gak apa-apa kok mas, orang tua saya gak galak kok," ucapnya
"Saya hanya bercanda tadi, tapi maaf Dira, mungkin lain kali saja saya mampirnya, saya masih ada pekerjaan yang harus saya kerjakan." ujarnya.
"Ya sudah kalau begitu, Makasih ya mas sudah anterin saya sampai rumah, hati-hati ya", ujar Dira sambil melambaikan tangannya.
Rafka tersenyum dan segera melajukan motornya.
🌹🌹🌹
Rama sudah berada di Bandara Soekarno Hatta, Pesawatnya baru saja landing di sana. Dia terlihat sangat tampan dengan jas dan kacamata Hitam nya yang membuat para wanita yang ada di Bandara itu terpana akan ketampanannya, Terlebih lagi ada sekertaris James yang tak kalah tampan berada di belakangnya yang makin membuat para gadis Histeris melihat kesempurnaan makhluk tuhan tersebut.
Rama berjalan menuju mobil yang menjemputnya. Dia menyuruh supir itu turun lalu dia masuk dan duduk di balik kemudi mobil Itu.
"James kamu sama pak sopir pulang pakai taksi saja, saya mau pergi ke suatu tempat dulu," ujar Rama
"Apa tidak sebaiknya besok saja Pak Rama perginya, mengingat pasti pak Rama kelelahan, kan kita baru saja sampai," Saran James padahal dia gak suka pulang naik taksi.
"Saya tau kamu tidak suka naik taksi, makanya saya sudah suruh anak buah kita sediain motor buat kamu, biar pak supir saja yang pulang pakai taksi." ujar Rama yang membuat James sumbringah, Dia tau kalau motor yang di maksud adalah hadiah untuknya karena sudah berhasil menyelesaikan permasalahan di surabaya dengan cepat.
"Makasih banyak pak Rama,saya sangat senang sekali," ujar James yang sangat hobby mengoleksi motor. Beberapa saat kemudian datang seseorang dengan mengendarai motor gede menghampiri James, James Terkesima melihat motor itu.
"Apa gak salah Pak Rama ngasih motor itu sama saya ?, motor itu kan sangat mahal ," ujar James.
" Siapa bilang motor itu saya kasih ke kamu ? saya hanya menitipkannya saja ke kamu," ujar Rama
James tersenyum, dia tau kalau Rama bilang seperti itu agar James tidak merasa gak enak menerimanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
🌹Jangan lupa tinggalkan jejak ya Readers
Like,, coment dan Vote ya, dan tekan tanda ❤ agar cerita ini jadi favorit, makasih 🙏🙏🙏