
"Dasar anak kecil," ujar Rafka kesal akan tetapi dia melakukan juga apa yang di suruh sama Sinta.
Bian masih memperhatikan mereka dari dalam mobilnya, tiba-tiba terlintas ide di benaknya untuk mengadu domba Rama dengan pria yang bersama Sinta itu. Bian mengirimkan Foto-foto yang tadi di ambilnya dengan menggunakan nomor ponsel yang lain agar Rama tidak curiga.
Ting..
Sebuah Notif pesan masuk ke ponsel Rama, Rama segera melihat pesan tersebut. Rama menggepalkan tangannya dan Dia segera meninggalkan acara itu , dia segera menuju ke tempat di mana Sinta dan Rafka berada.
Awalnya Rama sudah mengajak Sinta ikut dengannya ke acara pernikahan anak koleganya akan tetapi Sinta menolak karena sudah ada janji sama orang, Rama tidak menyangkan kalau Sinta bermain api dengan Rafka sahabatnya sendiri.
Rama sudah sampai di Pantai Ancol, dia segera bergegas masuk kesana dan mencari-cari keberadaan Sinta dan Rafka.
Amarah Rama makin memuncak ketika melihat Rafka dan Sinta duduk di atas pasir menghadap ke arah laut sambil bercanda, Rama langsung menghampiri mereka dan
Bugh.. bughh...
Rama meninju wajahnya Rafka dan meninju perutnya juga, Sinta kaget karena Rama tiba-tiba datang langsung memukul Rafka seperti itu.
"Mas Rama..stoop ! Teriaknya histeris.
Rama masih saja memukul Rafka hingga Rafka terkulai lemah dan darah segar keluar dari hidung dan mulutnya.
"Gue gak nyangka kalau kalian selingkuh di belakang gue, Rafka ..lo itu sahabat gue, lo tega rebut Sinta Dari gue," ucapnya lalu kembali memukul Rafka.
"Mas Rama berhenti... mas Rama salah faham sama kita," ucap Sinta dengan tangisnya yang pecah ketika melihat keadaan Rafka yang sudah terkulai lemah. Rama menghentikan aksinya, kemudian menoleh ke arah Sinta dengan wajah memerah menahan amarahnya.
"Salah Faham kamu bilang, ini yang kamu bilang salah faham," ucap Rama sambil melempar ponselnya ke arah Sinta, Sinta memungut ponsel itu dan melihat foto-foto yang ada di layar ponsel itu. Dia tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Dari mana mas Rama dapat foto-foto ini ?" tanya Sinta.
"Kamu gak perlu tau, aku sudah tau semua kebusukanmu, aku kira kamu itu gadis yang polos, tapi ternyata aku salah besar," ucap Rama membuang mukanya
"Mas Aku bisa jelasin soal ini," ucap Sinta sambil memegang tangan Rama, Rama menepisnya kasar sehingga membuat Sinta terhuyung lalu terjatuh di pasir.
"Rama...Lo sudah keterlaluan," ucap Rafka lemah lalu terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya.
"Kalian berdua sama saja, yang satu penghianat dan yang satunya lagi wanita murahan, kalian cocok jadi pasangan kekasih," ucap Rama lalu pergi dari sana
"Mas Rama tunggu , aku bisa jelasin.." Rama berbalik
__ADS_1
" Mulai saat ini juga hubungan kita selesai dan kamu jangan pernah nunjukin wajah kamu di hadapanku lagi," ucalnya lalu segera pergi.
Jedarrr...
Bagai petir di siang bolong menghantamnya ketika Sinta mendengar ucapan Rama kepadanya.Air matanya mengalir di pipinya yang mulus itu.
Sinta tidak menyangka kata-kata itu akan keluar dari bibir Rama, Sinta masih larut dalam kesedihannya. Sudah dua kali cintanya gagal sebelum berkembang.
Sebuah senyum smirk terlihat di wajah Bian yang dari tadi memperhatikan mereka dari kejauhan.
"Rasain lo Rama, Lo pasti sangat kecewa pada Sinta, dan sekarang tinggal gue yang akan merebut hatinya Sinta kembali," gumannya.
"Sinta..! uhuk..uhuk..
Sebuah panggilan membuatnya sadar, Sinta melihat ke arah Rafka yang sudah sekarat itu, dia memapah nya dan membawanya ke parkiran.
Sinta binggung bagaimana dia akan membawa Rafka ke rumah Sakit, sedangkan tadi mereka kesana dengan motor. Akhirnya Sinta memesan taksi Online lewat sebuah Aplikasi.
Lima belas menit kemudian taksi Online itupun datang, Sinta segera memapah Rafka masuk dalam taksi tersebut.
"Pak kerumah sakit terdekat ya, cepetan pak," ujarnya makin panik ketika melihat Rafka sudah tak sadarkan diri.
Supir taksi itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju sebuah Rumah sakit yang tak jauh dari Pantai Ancol tersebut.
Mereka segera membawanya ke dalam ruang pemekrisaan.
Dokter lalu segera memeriksa keadaan Rafka, sedangkan Sinta terlihat mondar-mandir di luar ruangan tersebut. Rasa khawatirnya membuat dia melupakan kesedihannya.
Pintu ruangan itu terbuka dan terlihatlah Dokter keluar dari sana.
"Dok gimana keadaannya Dok ?" tanya Sinta.
"Dia baik-baik saja, tapi ada beberapa memar di tubuhnya akibat pukulan yang keras, Anda siapanya Pasien ?" tanya Dokter itu
"Saya Adiknya Dok," ucap Sinta
"Anda tidak perlu khawatir, tidak ada luka yang serius kok, sebentar lagi pasien juga akan segera sadar," ucap Dokter itu kemudian pergi dari sana.
"Ternyata pemuda itu adalah Abangnya Sinta, bodoh sekali kamu Rama. Kamu sudah kehilangan Sinta dengan kesalahfahaman ini, dan beruntungnya gue, akibat lo cemburu buta memberikan peluang untuk gue agar bisa dekat lagi dengan Sinta.." guman Bian dengan serigainya.
__ADS_1
Sinta kemudian masuk ke dalam ruangan itu, dia melihat ke arah Rafka yang masih belum sadar itu. Air matanya pun kembali menetes di pipinya mengingat kejadian tadi.
Rafka sudah sadar, perlahan matanya mulai membuka. Sinta segera menghapus air matanya agar Rafka tidak melihat kesedihannya itu.
"Sinta..!
"Udah,, abang jangan banyak gerak dulu, istirahat saja," ucap Sinta sambil tersenyum ke arah Rafka
"Sinta...maafkan Abang, gara-gara Abang Rama jadi salah Faham sama kamu, abang harus jelasin semuanya ke Rama," ucap Rafka hendak bangkit akan tetapi tangan Sinta menghentikannya.
"Sudah lah Bang, mungkin ini sudah jalannya, Sinta sudah tidak mau membahas soal itu lagi," ucap Sinta lesu
"Tapi Sinta,, ini semua gak benar, seandainya saja waktu itu abang mengatakan yang sebenarnya kepada Rama, pastinya kesalahfahaman ini gak akan terjadi." ucap Rafka lemah
" Abang gak usah memikirkan itu lagi, ini juga gak akan terjadi kalau mas Rama mendengar penjelasan dari kita, Aku merasa kalau mas Rama tidak benar-benar mencintaiku karena kalau dia cinta sama aku dia akan percaya padaku sepenuhnya," ucap Sinta
Rafka tidak mengatakan apa-apa lagi, semakin dia membela Rama semakin dalam pula terlihat kesedihan di mata Sinta, dia tidak ingin kalau sepupunya itu semakin sedih gara-gara ucapanya.
Sinta kemudian mengambil ponselnya kemudian menghibungi pamannya. Zainal melihat ada kalau Sinta menelponnya, dia segera mengangkatnya.
"Assalamuàlaikum paman !"
"Waàlaikum salam, Ada apa nih keponakan paman nelpon ?
"Paman bisa ke rumah sakit X gak ?
Degg..
Jantung Zainal berdetak lebih kencang, perasaan khawatir menyelimutinya.
"Kenapa kamu di rumah sakit nak ?, apa yang terjadi sama kalian," tanya Zainal khawatir.
"Paman ke sini aja dulu, nanti Sinta ceritain, jangan lupa ajak bunda ya paman," ujarnya
"Baiklah,, paman akan segera ke sana,"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
🌹Jangan Lupa Like..Coment Dan Vote ya..
__ADS_1
tekan favorit agar kamu dapat notif up datenya
Makasih🙏🙏🙏