JANGAN SALAHKAN AKU... MEMILIH DIA

JANGAN SALAHKAN AKU... MEMILIH DIA
Eps 46


__ADS_3

Iya..ya ..ternyata ampuh juga ya, gue mau coba ah," ucap Zidan hendak mendekati Queen tapi telinganya di jewer oleh Ica.


"Aduuh ...Yang sakit tau," ucap Zidan


"Abisnya kamu nakal sih," ucapnya cemberut


"Gak kok, aku cuma mau menggoda kamu doang tadi," ucap Zidan sambil mengecup lembut kening Ica, Jono segera menutup mata Queen.


"Apaan sih," ucap Queen sambil memindahkan tangan Jono di matanya tapi Jono menutup lagi mata Queen.


" Ini adegan 21+ anak di bawah umur di larang lihat," ucap Jono, Akhirnya Queen menatap ke wajah Jono dan tersenyum. Sedangkan Jono masih melihat ke arah sepasang curut di depannya sehingga tidak menyadari kalau Queen lagi memandangnya.


🌹🌹🌹


Sinta Sedang berada di kelasnya bersama teman-temannya, tapi ada yang kurang di antara mereka.


"Zidan..Jono mana sih, kok gak ngampus hari ini ?" tanya Dira


" Ya elah Dira..Dira..giliran dia ada gak di gubris, sekarang giliran gak ada malah di tanyain, lo kangen ya sama Jono," goda Zidan


"Ish amit-amit gue kangen sama dia, gue heran aja kenapa tu anak gak ngampus hari ini," ucap Dira


"Dia itu lagi nemenin gebetannya di rumah sakit," ucap Ica


"Jono punya gebetan ? yang bener saja ," ujar Dira


"Kenapa emangnya, lo cemburu ya ?" ucap Zidan


"Ngada-ngada lo, mana mungkin gue cemburu sama tu curut, yang ada gue bersyukur kalau dia sudah punya gebetan, kan dia gak akan gangguin gue lagi," ujar Dira


"Sinta lo dari tadi kok diam aja sih, lo sakit ya," tanya Ica yang dari tadi memperhatikan wajah Sinta yang kelihatan gelisah.


"Aku gak kenapa-napa kok, cuma perasaanku dari tadi gak enak aja," ujarnya


"Kenapa sih, emang ada yang lo pikirkan ?" tanya Dira yang baru merasa ada yang salah dengan sahabatnya itu.


"Aku gak tau juga kenapa, apa mungkin karena aku kelelahan kali ya," ujar Sinta


Tak lama kemudian ponsel Sinta berbunyi, di layar ponselnya tertera nama "Ibu" di sana, Sinta segera mengangkat telponnya

__ADS_1


"Assalamuàlaikum Bu, Ada apa Ibu nelpon Sinta?" tanya Sinta, wajah Sinta berubah seketika air matanya mengalir di pipinya dan dia segera mengambil tasnya hendak pergi.


"Sinta lo mau kemana ?" Tanya Dira


"Dira..kalau ada yang nanyain aku, bilang kalau aku pulang kampung ya," ucap Sinta kemudian berlari dari sana menuju Gerbang kampus, dia menyetop ojek yang kebetulan lewat di sana karena motornya masih sama Jono.


"Bang..kejalan X Bang, kalau bisa ngebut ya," ujarnya


"Baik neng, pegangan neng,"


Tukang ojek itu kemudian melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.


Sementara Dira ,Ica dan Zidan terbengong mendengar ucapan Sinta melihat Sinta pergi begitu saja setelah menerima telpon dari seseorang.


Dira segera mengejar Sinta akan tetapi dia terlambat kerena Sinta sudah naik ojek dan sudah melaju jauh dari kampus, Dira lalu segera ke parkiran hendak menyusul Sinta tapi sebuah suara menghentikannya.


"Dira ! mau kemana kamu, mata kuliah sudah mau di mulai," ujar Rafka saat melihat Dira hendak ke parkiran.


"Aku mau mengejar Sinta," ucapnya


"Emang ada apa dengan Sinta ?


"Dia kenapa sampai menangis ?


" Itu dia masalahnya, aku juga gak tau tapi tadi dia ada ngomong kalau dia mau pulang kampung," ujar Dira


"Ini pasti ada hubungannya dengan Rama," ucap Rafka sambil mengepalkan tangannya Lalu Rafka menuju parkiran.


" Pak Rafka mau kemana ?" tanya Dira


"Aku mau buat perhitungan sama Rama," ucap Rafka dengan wajahnya yang sudah memerah menahan marah.


"Aku ikut.."


"Jangan..kamu kuliah aja sana, Jangan sampai kamu bolos," ujar Rafka kemudian segera menuju motornya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi, Dira binggung apa yang harus dia lakukan, kalau dia kejar Rafka dia akan bolos kuliah dan Rafka gak suka itu, tapi kalau dia masuk kelas dia khawatir sama Rafka yang pergi dalam keadaan marah.


"Gue harus gimana nih ?, Ah biarin aja Rafka gak suka, gue akan tetap ngejar dia," guman Dira lalu menuju mobilnya dan segera mengikuti motornya Rafka.


Rafka sudah sampai di Kantornya Rama, dia memarkirkan motornya senbarangan di depan Lobby kantor itu sehingga membuat security menegurnya.

__ADS_1


Rafka mau memindahkan motornya tapi dia tidak punya banyak waktu dan akhirnya dia menyerahkan kunci motornya sama security yang berada di sana.


"Pak tolong parkirkan motor saya ya, ini urgent..saya harus segera bertemu sama pak Rama," mendengar nama Rama di sebut, security itu akhirnya menurut saja, dia berpikir kalau Rafka adalah klien penting bos nya itu.


Rafka langsung menuju ke Ruangan Rama, saat di lobby dia bertemu dengan sekertaris James yang kebetulan hendak pergi dari kantor.


"Eh mas Rafka, mau ketemu sama pak Rama ya ?" tanya James yang memang mengenal Rafka sebagai sahabatnya Rama.


"Iya..Rama ada di ruangannya kan," tanya Rafka


" Iya mas Rafka, pak Rama ada di ruangannya kok, apa perlu saya antar ?" tawar James


"Tidak usah James, biar saya sendiri saja ke sana, kamu kalau mau pergi silahkan saja," ucap Rafka tersenyum kearah James untuk menyembunyikan kemarahannya di depan James.


" Kalau begitu silahkan mas Rafka, saya permisi dulu," ucap James kemudian dia pergi dari kantornya.


Rafka segera menuju ke ruangan Rama, sampai di sana dia langsung masuk ke sana tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Rama yang sedang sibuk dengan Laptopnya sampai tidak melihat kearah Rafka.


"James, kebiasaan kamu ya kalau masuk tidak pernah ketuk pintu dulu," ucap Rama masih menatap Laptopnya.


Bugh...bugh...


Rafka segera menhampiri Rama dan menariknya lalu memukulnya, Rama kaget akan kedatangan Rafka.


"Kurang ajar kamu Rama, apa yang kamu lakukan lagi sama Sinta hah, apa tidak cukup luka yang sudah kamu torehkan di hatinya." ujar Rafka masih saja memukul Rama. Namun Rama tak tinggal diam, dia kemudian membalikkan keadaan, sekarang dia yang memukul Rafka.


"Apa yang lo bilang hah, bukan gue yang melukainya tapi kalian yang melukai hati gue, dasar lo penghianat dan dia itu perempuan...",


"Cukup Rama, Lo tidak berhak menghina dia, asal lo tau dia itu perempuan baik-baik yang tak pantas lo hina seperti itu," ujar Rafka kemudian memukul Rama lagi.


"Apa lo bilang, perempuan baik-baik ? mana ada perempuan baik-baik yang gampang jalan sama semua lelaki, itu yang lo bilang perempuan baik-baik hah.." bentak Rama tak mau kalah lalu kembali membalas pukulan Rafka.


Mereka berdua sudah habis tenaganya sehingga mereka berdua akhirnya terduduk di lantai.


"Lo tau gak, gara-gara kebodohan lo, lo akan kehilangan Sinta,"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Like...Coment dan Vote ya...🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2