
Apaa..."
"Sabar..sabar jangan marah dulu, pak Rama tadi sudah Janji gak akan marah kan, istiqfar pak," ucapYusuf mundur beberapa langkah kebelakang untuk menjaga jarak aman.
"Astaghfirullahalàzim.. saya gak boleh marah,,gak boleh." ucap Rama sambil mengusap-ngusap dadanya.
Rama sudah kelihatan tenang, wajahnya sudah berubah tidak merah seperti tadi lagi, Yusuf yang melihatnya akhirnya melanjutkan ceritanya itu.
"Sewaktu Sinta pulang ke sini saya melamar Sinta karena saya tau dari ayahnya kalau dia tidak punya kekasih, dan dua hari lagi kami akan bertunangan," ujarnya
"Tidak..itu tidak boleh terjadi, kamu tidak boleh merebut dia dari saya," ujar Rama dengan nada tinggi.
"Tapi semua itu gak akan terjadi kok Pak Rama, Setelah saya tau kalau Sinta mencintai pak Rama dan Pak Rama pun sangat mencintai Sinta dan rela mati hanya untuk Dia saya memutuskan untuk mundur pak Rama," ujarnya yang membuat Rama lega dam senyum pun terbit di bibirnya.
"Tapi..."
"Tapi kenapa, apa kamu berubah pikiran, kalau itu terjadi kamu siapa-siap saja menerima amukan saya," ujar Rama
"Bukan itu ,"
" Terus apa ?
"Kita harus memainkan sandiwara karena ayahnya Sinta ingin memberikan pelajaran buat anaknya karena telah berbohong padanya tentang hubungan kalian," ujar Yusuf
"Caranya ?" Yusuf maju dan membisikan seauatu sama Rama, wajah rama berubah.
"Apa itu tidak terlalu kejam buat Sinta, kenapa harus seperti itu apa tidak sebaiknya Aku dan dia Langsung menikah saja," ujar Rama
"Tidak bisa Pak Rama, itu syaratnya agar ayah Sinta merestui hubungan kalian," ucap Yusuf
__ADS_1
Hufff...
"Baiklah kalau begitu, aku akan pulang ke Jakarta dan dua hari lagi aku pastikan sudah berada di sini bersama orang tuaku." ucapnya
" Tolong Ambilkan Ponselku sebentar," suruhnya
"Ini pak Rama ," ujar Yusuf sambil memberikan ponselnya Rama, Rama mengambilnya dan segera menelpon James.
"Hallo James pesankan tiket pesawat buat ku, aku akan kembali ke Jakarta hari ini juga," Suruh Rama lalu memutuskan sambungan telponnya.
🌹🌹🌹
Sudah beberapa hari Siska berada di rumahnya Sultan, dia tidak ingin pulang ke rumah orang tuanya apalagi ke rumah suaminya yang tidak menganggapnya ada itu.
Sultan dengan telaten merawat kejiwaan Siska yang tertekan akibat pernikahannya itu. walaupun Siska sendiri yang mengiginkan pernikahan itu namun perlakuan Bian terhadapnya membekas jelas di ingatannya sehingga mempengaruhi kejiwaannya.
Sementara Bian di rumahnya merasa ada yang hilang di sana, selain keberadaan Sinta yang sudah hampir seminggu ini dia tak tau keberadaannya ada lagi yang terasa seakan-akan mengganggu pikirannya itu.
Tak tau kenapa sejak Malam yang tidak di inginkannya itu terjadi dan saat Siska sudah pergi dari rumah, bukannya perasaan senang yang dia rasakan tapi perasaan kehilangan yang dia alami.
Sebelum Siska pergi dari rumah, Siska selalu menyiapkan segala kebutuhan Bian dan selalu menunggu Bian pulang kerja walaupun perlakuan Bian Sangatlah buruk terhadapnya.
Saat Ini barulah Bian menyadari ketulusan Siska yang sudah dia abaikan itu. Sudah beberapa hari Bian mencoba mencari Siska kemana-mana, dari mulai Rumah orang tuanya Siska sampai ke beberapa Hotel pun dia datangi hanya untuk mencari istrinya itu.
Ya Siska masih istrinya karena belum ada kata talak diantara mereka, seingatnya Bian belum pernah mengucapkan kata-kata keramat itu buat Siska.
Tanpa Bian sadari karena asik mencari keberadaan Siska untuk beberapa waktu bayangan Sinta yang dulu memenuhi pikirannya itu terabaikan dan tergantikan rasa khawatir terhadap istrinya itu.
Disinilah Bian sekarang di pinggir sebuah danau buatan di pinggir jalan, dia sampai kesana karena hari ini sudah lelah mencari Siska ke semua hotel terdekat yang ada di kota itu,namun hasilnya semuanya Nihil.
__ADS_1
Bian melepas penatnya di sebuah kursi di pinggir danau itu dan memandangi danau tersebut sambil mengingat kenangan bersama Siska, tak ada sedikitpun perlakuan baik terhadap Siska oleh Bian dari semenjak dia menikahinya sampai dia pergi dari rumahnya.
Sekarang Bian mulai menyadari kalau ada sedikit perasaan yang tumbuh di hatinya terhadap Siska semenjak Siska pergi darinya, namun dia tidak tau perasaan apa itu . Entah perasaan sayang atau hanya perasaan khawatir terhadapnya karena sudah beberapa hari mencarinya tapi belum menemukannya juga.
"Aaaa...kenapa saat itu gue mengusirnya sih, sekarang gue sendiri kan yang kerepotan mencarinya, ini gak boleh di biarkan, gue harus menyuruh anak buah gue buat mencari Siska, tapi kalau itu gue lakukan pasti orang tua gue dan orang tua Siska akan tau apa yang gue perbuat terhadapnya," ujar Bian
"Gimana ini, pokoknya gue harus bisa menemukan dia. Ah iya kenapa gue gak kepikiran buat nyewa seorang detektif ya buat mencarinya, Bian ..lo cerdas, ngapain lo capek-capek mencarinya sendiri sedangkan Lo punya banyak uang buat nyewa seorang detektif." Bian berbicara pada dirinya sendiri sambil mrnyerigai, kalau orang-orang melihatnya pasti menyangkan kalau Bian sudah gila.
Di balik sebuah pohon tak jauh dari tempat Bian duduk, Siska duduk menghadap ke arah danau itu dengan air mata terus mengalir di pipinya yang mulus. Dia tidak menyangka kalau Bian akan mengusirnya dari rumah, Awalnya Siska cuma mengertak Bian mau pergi dari rumah itu hanya untuk membuatnya takut dan menahannya agar tidak pergi dari sana, Akan tetapi apa yang dia harapkan tidak sesuai dengan kenyataan yang dia dapatkan.
Siska mengira setelah Bian menikmati keperawanannya dia akan luluh dan memberikan sedikit ruang di hatinya buat Siska, tapi Siska tidak menyangka kalau itu semua membuat Bian makin membencinya.
Walaupun seperti itu Siska tidak menyesal memberikan keperawanannya kepada suami yang sangat di cintainya itu, namun yang dia sesali adalah Bian melakukannya dalam keadaan sadar tapi tidak juga merasakam sedikitpun rasa iba terhadapnya dan malahan makin membencinya.
Siska mulai bangkit dan berjalan menuju ke arah danau itu masih dengan air matanya yang terus mengalir.
"Mungkin kepergianku selamanya akan lebih membuat kamu bahagia mas Bian, aku akan memberikan kebebasan sepenuhnya buat kamu Mas, Selamat tinggal kenangan, selamat tinggal mas Bian, aku mencintaimu.
Siska terus berjalan mendekati danau tersebut sampai dia sudah berada di pinggir air danau itu. Dia berhenti sejenak lalu menarik nafasnya dalam lalu mulai menaiki sebuah rakit yang ada di sana.
Dan ketika Rakit itu sudah berada di tengah-tengah Danau Siska melompat ke dalam danau.
"Siskaaaa.....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
🌹Read...Like...Coment...Vote...
Thank's 🙏🙏🙏
__ADS_1