
Mak, Sinta ke kamar mandi dulu ya kebelet nih," ujarnya langsung berlari ke sana, Sinta tidak mau kalau ibunya melihatnya menangis.
Sampai di kamar mandi Air mata Sinta tumpah tak tertahankan lagi, dia tidak siap harus secepat ini untuk bertunangan dengan Yusuf, perasaannya ke Rama masih sangat besar dan tidak semudah itu melupakan kenangan bersama Rama.
Walaupun Sinta tau cepat atau lambat ini akan terjadi, tapi dia belum siap menjalaninya. Sinta masih sangat mencintai Rama walaupun Rama sudah menyakitinya, tetapi itu gak akan terjadi kalau dari awal dia menjelaskan siapa Rafka sebenarnya pada Rama.
Sinta sekarang jadi serba salah, di satu sisi dia masih mengharapkan kalau Rama yang melamarnya tapi di sisi lain dia tidak mau mengecewakan orang tuanya yang sepertinya akan sangat senang apabila Sinta menikah dengan Yusuf.
" Tok..tok..Sinta kamu masih di dalam nak ?" tanya Rahmi yang sudah menunggu Sinta dari tadi di dapur, tapi dia tidak muncul-muncul juga, Rahmi lalu menyusulnya ke kamar mandi itu.
"Iya mak, Sebentar lagi Sinta keluar," jawab Sinta sambil menyiram air ke lantai agar Ibunya tidak curiga padanya.
"Kalau sudah selesai kamu segera nyusul ke ruang tamu ya," ujar Rahmi
"Iya.." Jawabnya
Rahmi pun pergi dari sana dan mengambil minuman yang sudah di siapkannya tadi di dapur lalu bergegas menuju ruang tamu.
Maya ibunya Yusuf melihat Sinta tidak datang bersama Rahmi bertanya.
"Nak Sinta mana ? Kok gak ke sini lagi," tanya Maya
"Itu mbak, dia tadi pamit ke kamar mandi. Mungkin gugup kali ya," jawab Rahmi, mereka pun tertawa bersama.
Sementara Sinta segera mencuci wajahnya agar dia tidak kelihatan seperti habis menangis kemudian dia bergegas kembali ke ruang tamu.
"Itu Sintanya Datang, baru saja di omongin sudah muncul saja, Sini nak duduk di dekat Mak," ujar Rahmi pada Sinta , Sinta pun segera menuruti ucapan ibunya.
"Begini pak Kades, seperti apa yang kita bicarakan sebelumnya, kami ke sini untuk melamar Sinta secara Resmi buat jadi Istri Yusuf anak kami," tutur Ustadz Burhan
"Iya Ustadz.. Kami sangat setuju dengan lamaran ini dan kami juga sudah menanyakan kepada Sinta dan dia menyetujuinya juga tapi..."
"Tapi kenapa Pak Kades ?" tanya Ustadz Burhan heran
"Tapi Sinta maunya tidak langsung menikah mengingat dia belum lulus kuliah," ujar Fajar
"Oooo saya pikir kenapa, jadi kaget saya tadi. Itu sih gak masalah Pak Kades, mereka bisa tunangan dulu dan saat Sinta selesai kuliah mereka baru menikah,"
"Dan saya dengar sebentar lagi nak Sinta akan skripsi kan, berarti gak lama lagi juga, gimana Yusuf apa kamu bersedia menunggu ?" goda Ustadz Burhan pada Putranya.
__ADS_1
"Iya Abi, Yusuf bersedia kok asalkan tetap sama Sinta," ucapnya malu-malu.
"Oh ya..mari silahkan di minum," ujar Rahmi
Mereka pun lalu minum minuman yang sudah di sajikan tadi, Sinta memandang kearah mereka, betapa senangnya mereka akan lamaran ini, Sinta tidak tega kalau merusak kebahagiaan mereka.
Biarlah Aku saja yang terluka asalkan orang tuaku bahagia, Batinnya
Keluarga Yusuf sudah pulang, Pesta pertunangan akan di laksanakan dua hari lagi. Sinta termenung duduk di teras rumahnya tak lama Datang seorang gadis menyapanya.
"Sinta...kapan kamu pulang ?" tanya Sari, Sari adalah teman sekolahnya Sinta waktu SMA, dia tinggal tidak jauh dari rumahnya Sinta.
"Sudah dua hari kok Sar, kamu apa kabar ?
"Yaa beginilah Sinta, masih saja seperti dulu, masih sendiri." jawabnya
"Kalau kamu gimana ?, kamu sudah selesai kuliah atau kamu sudah punya suami," tanya Sari
"Eh Nak Sari, kapan datang ?" tanya Rahmi yang baru saja keluar dari dalam rumahnya.
"Baru saja bu kades, tadinya saya mau ke pengajian, tapi saya melihat Ada Sinta ya saya mampir dulu di sini," ujarnya
"Ini bu Kades, saya tadi nanya Sinta sudah lulus kuliah atau sudah punya suami,"
"Kalau itu sih sebentar lagi nak Sari, calonnya Sinta itu loh ustadz Yusuf yang baru pulang dari mesir itu," ujar Rahmi bangga
Wajah Sari berubah, dia kaget setengah mati mendengar penuturan ibunya Sinta itu. Semenjak ustadz Yusuf kembali ke kampung itu, Rahmi sudah menaruh hati terhadapnya, namun dia masih malu mengungkapkannya karena dia maunya ustadz Yusuf yang menyatakannya duluan terhadapnya, tapi mendengar ucapan ibunya Sinta tadi seketika harapannya Runtuh bagai bangunan di timpa Bulzoder.
"Ooo jadi calonnya Sinta adalah Ustadz Yusuf ya, selamat ya Sinta semoga sampai ke pelaminan," ucapnya
Semoga kalian tidak jodoh,, Batin Sari
"Kalau begitu saya ke pengajian dulu ya Bu Kades ,"
"Sari..kenapa gak ngajak Sinta sekalian, biar nanti dia bisa belajar untuk bisa jadi calon istri yang baik gitu," ujar Rahmi menggoda anaknya.
"Gimana Sinta apa kamu mau ikut ?" tanya Rahmi
"Boleh..saya ganti baju dulu ya Sar," ujarnya kemudian segera menuju kamarnya dan berganti pakaiannya. Tak lama kemudian dia sudah keluar dengan pakaian yang indah.
__ADS_1
Si sinta mau ke pengajian atau mau ke kondangan sih,, Batin Sari
"Mak Sinta dan Sari pamit dulu ya, Assalamualaikum,"
"Waàlaikum salam.
Sinta dan Sari lalu pergi ketempat pengajian yang di adakan di menasah kampung itu. Sampai di sana sudah banyak orang yang datang, mereka pun akhirnya duduk di tempat paling belakang karena tempat yang ada di depan sudah penuh.
Tak lama terlihat Ustadz Yusuf duduk di tempat ustadz kalau lagi mengajar. Ternyata malam ini adalah giliran ustadz Yusuf yang mengajar. Senyum di bibir Yusuf terlihat ketika netranya sekilas melihat Sinta yang berada di pojokan menasah itu.
Seketika Yusuf merubah tema ajarannya malam ini menjadi bagaimana menjadi suami dan istri yang baik.
Yusuf sudah memulai pengajiannya, sekali-kali dia melirik ke arah Sinta yang tersenyum mendengar penuturannya.
Kok bisa sama sih temanya sama yang di bilang Mak tadi ya,, Batin Sinta
🌹🌹🌹
Rama sudah sampai Di Aceh, sekarang dia sudah berdiri tepat di depan rumahnya Sinta setelah sekian lama mencari-cari alamat itu akhirnya dia sampai juga disana.
Rama memakai baju kaos dan celana Jeans agar keluarga Sinta tidak risih melihat penampilannya kalau dia memakai Jas.
"Bismillah.." ucapnya kemudian melangkah menuju pintu rumah itu.
Tok..tok..
"Assalamuàlaikum !
" Waàlaikumsalam," jawab seorang wanita dari dalam rumah itu yang pastinya bukan Sinta.
Pintu itu terbuka dan nampaklah seorang ibu-ibu yang masih kelihatan cantik itu tersenyum ke arahnya.
"Siapa ya nak, sepertinya kamu bukan orang sini ya,"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Read...Like...Coment...Vote...
Thank's 🙏🙏🙏
__ADS_1