JANGAN SALAHKAN AKU... MEMILIH DIA

JANGAN SALAHKAN AKU... MEMILIH DIA
Eps 74


__ADS_3

Pemuda itu berjalan mendekati Ke arah Dira, semakin dekat dan semakin dekat sehingga membuat Dira terpaksa mundur.


"Mau apa lo ?" ujar Dira kaget melihat pelayan itu malah mendekat kearahnya. Dan saat tubuh Dira sudah mentok di dinding, pelayan itu belum juga menghentikan langkahnya.


"Berhenti gak lo, lo maju satu langkah lagi gue teriak nih," ancamnya


Pelayan itu masih tidak mendengarkan Dira, Dira kemudian reflek menyambar masker yang di pakai pelayan itu, seketika dia kaget melihat ternyata pelayan itu adalah Rafka.


"Rafka..!


Rafka segera membekap mulut Dira lalu memakaikan kembali maskernya.


"Jangan berisik, ntar gadis -gadis itu tau kalau aku di sini," ucap Rafka pelan, Rafka perlahan melepaskan bekapanya.


"Kenapa kamu pakek nyamar segala sih, malah pakek baju pelayan lagi ? " tanya Dira binggung


"Nanti saja ceritanya, sekarang kamu ikut aku, kita pergi dari sini," ujar Rafka


"Tapi..." sebelum Dira melanjutkan ucapannya Rafka sudah lebih dulu menarik tangannya lalu keluar dari gedung itu.


"Kita mau kemana sih, kan acaranya belom selesai," ucap Dira


"Udah ikut aja, kan kita bisa lihat acaranya nanti, aku sudah nyuruh Jono buat ngerekam semua moment penting di pesta itu," ujarnya


"Ya gak sama lah, aku kan pengen lihat langsung, bukan rekaman, lagian aku belum ngucapin selamat buat Sinta atas pertunangannya," ujar Dira


"Itu bisa menyusul , aku gak pengen kamu cemburu lagi melihat aku di kerubutin sama gadis- gadis tadi," ucapnya santai yang membuat mata Dira melotot


"Udah jangan melotot gitu, aku tau semua apa yang kamu rasakan dari tadi, jadi please kita pergi saja dari sini ya," bujuknya.


Dira berpikir gak ada salahnya buat nurutin kemauan Rafka, lagian kalau mereka masih di sana, Dira bisa emosi jiwa melihat Rafka di kerubungi sama cewek-cewek centil itu.


"Oke...emangnya kita mau pergi kemana ?" tanya Dira

__ADS_1


"Udah ikut aja, ntar kamu tau sendiri ," ucapnya lalu mengandeng tangan Dira lalu menuju ke arah mobilnya. Saat mereka mau melangkah sebuah suara menghentikan mereka.


"Eh bang gimana sama seragam saya, saya gak bisa kerja nih kalau gak pakai seragam itu," ucap pelayan yang sebenarnya tadi yang masih setia menunggu Rafka keluar dari gedung itu.


"Eh iya saya lupa, " ucap Rafka lalu melepaskan bajunya itu dan memberikannya kepada pelayan itu.


Dira tercengang melihat tubuh proporsionalnya Rafka walaupun masih terbalut singlet tapi bisa membuatnya terhipnotis akan pemandangan indah itu.


"Kamu tergoda ya sama tubuh ku ini, kamu boleh kok memegangnya," goda Rafka


"Siapa juga yang tergoda, jangan ngarang deh," ucap Dira sambil memalingkan pandangannya ke arah lain.


"Yang bener ? tapi yang aku lihat kamu tadi melongo saat aku buka baju" Rafka masih menggoda Dira, Wajah Dira semakin merona di buatnya.


"Udah ah, jadi pergi gak sih, kalau gak aku mau masuk lagi aja," ucap Dira


"Iya jadi kok, ayuk.." ajak Rafka sudah memakaikan kembali pakaian miliknya itu.mereka kemudian berjalan menuju parkiran dan masuk kedalam mobil yang mereka gunakan buat ke Gedung itu tadi.


"Pak tolong bawa kami kepantai X ya," ucap Rafka, Dira mengerutkan keningnya.


"Kamu serius mau mengajakku ke pantai dengan pakaian begini ?" tanya Dira


"Iya..kamu ikut saja,pasti kamu suka berada di sana," walaupun binggung Dira tidak banyak bertanya lagi.


Setengah jam perjalanan akhirnya mereka sampai juga di sana, Dira turun dari mobil itu bak seorang putri raja yang turun dari kereta kencana. dan Rafka adalah pengeran tampan berkuda putih yang menuntun Dira menyusuri tempat yang menurut Dira sangat menenangkan jiwa itu.


Pondok-pondok kecil diatas laut yang di hubungkan dengan jalanan yang terbuat dari bambu yang sangat epik itu, awalnya Dira takut berjalan di atasnya namun setelah melepas Heils nya dia akhirnya berani juga.


Mereka berjalan menuju ke ujung tempat itu di mana di sana ada sebuah miniatur Menara Eifeil yang berdiri kokok di terpa angin pantai itu.


Saat mereka sudah berada tepat di bawahnya Rafka memegang kedua tangan Dira lalu menatap matanya lekat.


"Dira...! panggil Rafka, Dira yang tadinya terpesona dengan pemandangan indah di sana menoleh kearah Rafka yang memegang tangannya.

__ADS_1


Dira melihat mata Rafka yang menatap sayu ke arahnya yang membuat jantungnya makin gak karuan.


"Dira...Hari ini ,di kota kelahiran ku ini aku ingin memulai hubungan baru dengan orang yang sudah lama mengisi relung hatiku selama ini, aku memang bukan pujangga yang bisa merangkai kata-kata indah," Rafka menghentikan kata-katanya sejenak karena terlalu gugup, Dira pun merasakan hal yang sama.


"Dira..maukah kamu menjadi bagian dari hidupku, maukah kamu menjadi ibu dari anak-anakku, aku gak mau kamu menolakku, kalau kamu tolak aku lompat nih," ucapnya.


"Ha..ha..ha.." Dira tertawa mendengar kata-kata terakhir Rafka itu


"Kamu itu lucu banget sih Rafka, itu nembak atau ngancam ?" Ucap Dira


"Dua-duanya , karena aku gak mau kehilangan kamu, dan tak melihat senyumanmu sedetik saja itu akan bisa membuatku sulit bernafas," ucapnya makin ngawur saking gugupnya.


Jujur Rafka memang seorang Dosen yang pandai dalam mengajarkan pelajaran, namun dalam urusan perasaan dia itu nol besar.


Dira masih tertawa hingga menampakkan sederet gigi putihnya yang membuat Rafka terpana melihat kecantikannya itu apalagi sekarang dia menggunakan hijab makin tambah cantik saja Dira di mata Rafka.


"Kamu jawab dong ?" ucap Rafka


"Memangnya aku ada pilihan lain aku juga gak mau anak orang lompat ke laut hanya karena cintanya ditolak lagian aku juga mau kok jadi ibu dari anak-anak kamu pasti nantinya anak-anak kita cantik kayak ibunya dan tampan kayak ayahnya," ucap Dira tanpa titik koma


"Beneran...? Yes..makasih ya Dira...I Love U"


"I Love U Too Pak Dosen," ucap Dira


Rafka mau memeluk Dira tapi sebuah deheman dari pemilik tempat itu mengagetkan mereka.


Heemmm..


"Eh ada orang rupanya," ucap Rafka sambil cengengesan


"Maaf bang di sini di larang peluk-pelukan, nanti bisa di tangkap WH, kalau mau peluk-pelukan di rumah aja sana," ucap bapak-bapak itu, Rafka bergidik melihat tampang bapak itu yang sangar seakan tidak senang tempatnya di jadikan tempat mesum walaupun di Jakarta hal itu lumrah saja tapi ini Aceh yang tidak membenarkan bermesra-mesraan di tempat umum seperti itu.


"Eh maaf pak, hampir saja kebablasan, sekali lagi kami minta maaf ya," ucap Rafka lalu menarik tangan Dira kemudian pergi dari sana.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ayo...mau di lanjut gak nih, kok sepi amat comentnya..miss N jadi gak cemungut nih..😩😩😩


__ADS_2