JANGAN SALAHKAN AKU... MEMILIH DIA

JANGAN SALAHKAN AKU... MEMILIH DIA
Eps 59


__ADS_3

Dan ketika Rakit itu sudah berada di tengah-tengah Danau Siska melompat ke dalam danau.


"Siskaaaa....." teriak Sultan yang baru saja datang sambil membawa dua botol air di tangannya.


Bian terperanjat kaget mendengar orang memanggil nama Siska.


"Siapa wanita itu, apa namanya saja yang mirip dengan istriku," guman Bian.


"Tolong..tolong bantu dia ,saya tidak bisa berenang," teriak Sultan yang membuat Bian langsung menyebur ke danau itu, ditengah danau Siska timbul tenggelam sampai akhirnya Bian sampai ke tengah danau dan menyelamatkan dia.


Bian kaget melihat wanita itu adalah Siska istrinya, dia langsung membawa istrinya itu menaiki rakit di tengah danau itu.


Bian panik melihat siska tidak sadarkan diri, dia langsung melakukan CPR akan tetapi tidak ada reaksi apapun dari Siska, dia masih tidak sadarkan diri.


"Tidak ada cara lain aku harus memberinya nafas buatan," gumannya, dengan tangan gemetar Bian mulai memberikan nafas dari mulut ke mulut buat Siska, Sultan yang berada di pinggir danau melihat adegan itu, seketika tangannya mengengepal, wajahnya merah menahan marah akan tetapi dia berfikir positif, siapa tau kalau laki-laki itu tidak melakukannya Siska akan meninggal.


Siska akhirnya terbatuk-batuk, dari dalam mulutnya keluar air yang banyak sekali, perlahan matanya memandang ke arah Bian.


"Apa aku mimpi ?, apa ini mas Bian ?" enggak..enggak mungkin ini mas Bian, mas Bian kan sangat membenciku, mana mungkin dia menolongku, aku pasti mimpi," ucapnya sambil memejamkan matanya sambil menepuk-nepuk pipinya.


Deegg..


Apa aku terlalu kejam padanya sampai dia melihatku seperti melihat hantu saja,, Batin Bian


"Awww..." Siska berteriak saat kukunya tidak sengaja menggores kulit wajahnya yang mulus itu, seketika darah keluar dari goresan itu. Bian yang melihatnya langsung menangkup wajah Siska dan mencium di goresan itu yang membuat Siska memejamkan matanya meresapi kasih sayang yang di berikan Bian padanya. itu adalah pertama kalinya Bian perhatian dan mengkhawatirkannya.


Seulas senyum terbit di bibir Siska, namun Dia tidak ingin terlalu banyak berharap dari Bian, dia tidak ingin sakit hati lagi untuk kedua kalinya.


Sultan Kembali menggepalkan tangannya, kali ini dia benar-benar marah melihat adegan itu, tadi dia punya alasan untuk tidak marah karena mengingat Siska yang belum sadarkan diri, namun sekarang dia tidak ada alasan untuk dia tidak marah.

__ADS_1


"Siska.." panggil Sultan, mereka terperanjat dan melepaskan pelukannya dan mereka pun akhirnya mendayung rakit itu menuju tepian.


Sultan yang tidak bisa membendung lagi kemarahannya langsung memukul wajah Bian, Bian pun tak tinggal diam dia membalas Sultan sampai dua kali pukulan di wajahnya.


"Sultan stoop...dia itu suamiku ," ucap Siska


Sultan kaget mendengar ucapan Siska, dia baru menyadari kesalahannya.


"Maaf saya tidak tau kalau anda suami dari Siska," ujar Sultan, hatinya sakit mendengar kenyataan itu, ternyata wanita yang di cintainya sudah memiliki suami.


"Makanya tanya dulu jangan main pukul saja," ujar Bian marah


"Kan saya sudah minta maaf pada anda, kenapa anda masih membentak saya, lagian lukanya lebih parah saya dari pada anda," ucap Sultan.


"Siska ayo kita pulang," ucap Bian sambil menarik tangan Siska tapi Siska tidak beranjak dari tempatnya. Bian menyadari akan hal itu, pasti Siska tidak mau pulang dengannya. Lalu Bian mencari cara agar Siska mau ikut pulang dengannya.


"Ayolah Siska, ayah dan ibumu sudah seringkali menanyakanmu padaku, sampai aku kehabisan kata-kata untuk membuat mereka percaya kalau kamu ada di rumah kita," ucap Bian


"Ayolah Siska, aku minta maaf atas semua yang sudah terjadi, aku menyesal Siska, sangat menyesal," ucap Bian memelas


Siska menyadari kalau Bian mengatakan itu bukan tulus dari hatinya, akan tetapi karena dia takut sama ayah dan mertuanya yang selalu menayakannya pada Bian, itu bukan alasan yang tepat untuk mengajak Siska kembali kerumah itu.


"Maaf mas, penyesalanmu sudah terlambat, hatiku sudah hancur berkeping-keping saat aku meninggalkan rumah itu, entah sampai kapan aku bisa mengumpulkan serpihan hatiku ini dan menatanya kembali." ujar Siska, Bian terdiam mendengar penuturan Siska yang mengena di hatinya, dadanya berdenyut perih mendengar ucapan Siska tersebut.


"Maaf mas aku tidak bisa kembali kerumah itu sekarang, beri aku waktu mas untuk menata hatiku kembali, aku juga tidak tau apa hatiku ini masih bisa menerima kamu kembali mas Bian,"


tambahnya


"Ayo mas Sultan kita pergi," ajak Siska, Bian merasakan sakit di dadanya saat melihat Siska malah memilih pergi dengan pria lain di bandingkan dirinya.

__ADS_1


Bian sadar perlakuannya dulu terhadap Siska tidak bisa secepat ini Siska melupakannya dan memaafkan Dia. Siska sudah terlalu sakit hatinya terhadap Bian sehingga dia sulit memaafkan Bian saat ini.


Mungkin Siska butuh waktu, kalau waktunya sudah tiba aku yakin dia akan kembali lagi padaku,, Batin Bian kemudian dia juga pergi dari sana.


Bian menaiki mobilnya dan segera melajukan mobilnya mengikuti mobilnya Sultan. Setelah beberapa lama mengikuti mobil itu Bian melihat mobil yang membawa istrinya itu berbelok ke sebuah rumah yang tidak terlalu besar, setelah Siska turun dari mobil, terlihat mobil itu pergi dari sana, memang semenjak Siska tinggal di rumahnya, Sultan tidak tinggal di sana melainkan dia selalu tidur di kliniknya.


Huff...


Bian bernafas lega saat mengetahui Istrinya tidak tinggal serumah dengan pemuda itu.


"Ternyata di sini kamu tinggal sekarang Siska," ucapnya lalu kemudian dia pergi dari sana.


🌹🌹🌹


Di tengah malam Sinta terbangun, dia melihat sekelilingnya terlihat ibu dan ayahnya sedang tidur di bawah beralaskan kasur tipis, Sinta merasa sedih melihat mereka, di saat Sinta selalu membantah perkataan mereka tapi mereka masih memberikan kasih sayang yang begitu besar kepadanya.


Tess..


Air mata menetes di pipinya, sekarang dia tidak tau harus berbuat apa, yang ada di pikirannya sekarang adalah dia harus bisa memilih antara kebahagiaannya atau kebahagian orang tuanya itu.


"Mungkin memang ini saatnya aku membahagiakan mereka, walaupun aku tidak mencintai Mas Yusuf, benar yang di katakan oleh Ayah kalau cinta itu akan datang dengan sendirinya disaat kita sering bersama," guman Sinta masih menangis.


"Selamat tinggal mas Rama , maafkan aku yang meninggalkanmu hanya untuk membahagiakan orang tuaku, semoga kamu mengerti keadaan ku saat ini," ucapnya sambil menghapus air matanya.


Sinta bangun dari tempat tidurnya dan segera mengambil air Wudhu lalu melaksanakan Shalat tahajud dan tidak lupa dia mendoàkan kedua orang tuanya dan memohon kesabaran dalam menghadapi kenyataan yang harus dia jalani kedepannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


🌹Jangan Lupa Like..Coment..dan Vote ya

__ADS_1


Makasih🙏🙏🙏


__ADS_2