JANGAN SALAHKAN AKU... MEMILIH DIA

JANGAN SALAHKAN AKU... MEMILIH DIA
Eps 73


__ADS_3

Ada apa Bang, apa ada yang bisa saya bantu ?" tanya pelayan itu.


"Iya Bang , saya butuh bantuan abang," ucap Rafka sambil membisikkan sesuatu di telinga pelayan itu. pelayan itu pun mangut-mangut.


Sementara Sinta belum juga sadar dari pingsannya, Rama semakin khawatir dengan keadaan Sinta.


"Pa...tolong Panggilkan lagi Om Fandi pa, suruh periksa sekali lagi keadaan Sinta," ucap Rama cemas.


"Rama..tadi kan Om Fandi sudah bilang kalau Sinta gak kenapa-kenapa, kita tunggu aja sebentar lagi, dia pasti siuman," ucap Firman


"Tapi pa, Rama khawatir sama Sinta ," ucapnya


"Kita semua juga khawatir Rama, kamu kenapa sih gak sabaran gitu," ujar Muna


Tiba-tiba Jari tangan Sinta mulai bergerak, Rama yang sempat melihatnya langsung menggenggam tangan Sinta.


"Sinta..bangun Sinta, ini aku Rama," ucap Rama


Sinta mulai mengerjap-ngerjapkan matanya, wajah pertama yang di lihatnya adalah Rama yang tersenyum manis ke arahnya, dia membalas senyumannya.


"Mas Rama, apa aku ini mimpi kalau kamu di sini," ucap Sinta


"Tidak sayang, kamu gak mimpi ini memang aku," ucap Rama


Tess..


Air mata menetes dipipi Sinta, dia masih tidak percaya kalau itu beneran Rama. Sinta mulai memegang wajah Rama dan ternyata itu beneran Rama. Senyum kembali terukir di bibirnya.


"Mas Rama kenapa kamu jahat sama aku, kenapa kamu gak percaya sama aku, kenapa kamu mempermainkan perasaanku, aku benci sama kamu mas..," ucap Sinta melepaskan tangannya dan memalingkan pandangannya kearah lain.


Jedaarrr...


Rama tidak menyangka reaksi Sinta seperti itu, padahal tadi dia sudah yakin kalau Sinta akan bahagia setelah tau kalau itu memang dia.


Semua orang yang melihatnya pun jadi cemas akan sikap Sinta itu.

__ADS_1


"Nak Rama..biarkan saya bicara sama Sinta sebentar," ucap Fajar.


Rama merasa berat meninggalkan Sinta di sana, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa, dia menyerahkan semuanya kepada Fajar.


Semua Orang sudah keluar dari ruangan itu, di sana hanya tinggal Sinta berdua saja dengan ayahnya.


"Sinta...!


Sinta segera berhambur di pelukan ayahnya itu sambil menangis.


"Yah..kenapa Mas Rama tega mempermainkan perasaan Sinta Yah, Sinta benar-benar tersiksa saat mengetahui kalau Sinta harus bertunangan dengan mas Yusuf, kenapa dia tega membuat Sinta sakit menahan sesak di dada menanggung rasa ini Yah," ucapnya sambil terus menangis menumpahkan segala perasaan yang membuncah di hatinya itu.


Fajar membelai lembut kepala Sinta, dan dia mulai melepaskan pelukannya dan menatap lekat putrinya itu.


"Sinta...Jangan salahkan Nak Rama, ini semua salah ayah, ini rencana ayah untuk membuat kejutan buat kamu di hari ulang tahunmu,"


"Maaf kan ayah nak, kamu boleh benci tapi jangan membenci nak Rama, karena itu akan membuatmu semakin menderita, Ayah yang seharusnya kamu benci nak, karena ini semua rencana ayah," ucap Fajar lemah, dia pun menyesal akan semua yang terjadi saat ini, hanya karena ingin memberi kejutan buat putrinya itu sampai membuat putrinya jadi begini.


" Ayah..ayah jangan ngomong seperti itu, Sinta tidak mungkin membenci ayah, Sinta hanya takut yah kalau mas Rama belum bisa percaya sepenuhnya pada Sinta,dan Sinta juga gak tau apa mas Rama memang benar-benar mencintai Sinta atau enggak," ucapnya


"Apa ayah.. mas Rama terluka ?"


"Iya Sinta, dua hari yang lalu dia menyelamatkan kamu dari kejahatannya Sari yang hampir membuat kamu celaka," cerita Fajar, Sinta merasa bersalah pada Rama setelah mendengar cerita dari ayahnya itu.


"Yah...Ayah mau bantuin Sinta gak ?" tanya Sinta


"Apa yang ayah bisa bantu nak, pasti akan ayah lakukan semuanya buat kamu," ucap Fajar, Sinta membisikkan sesuatu di telinga ayahnya itu, Fajar tersenyum.


"Ternyata kamu usil juga Sinta," ucapnya lalu keluar dari ruangan itu.


Saat Fajar keluar dari sana, Rama langsung menghampirinya.


"Bagaimana Om ?" tanya Rama


"Sinta masih sangat Shock, dia tidak ingin bertemu dengan kamu nak Rama," ucap Fajar mulai mengarang cerita.

__ADS_1


" Gak..ini gak boleh terjadi, Sinta...keluar sayang, Maafin aku," teriak Rama Histeris dan mencoba untuk masuk ke ruangan itu tapi Fajar menahannya.


"Nak Rama, jangan seperti ini, kalau kamu begini Sinta makin gak mau melihat kamu," ujar Fajar, orang tua Rama makin khawatir akan perasaan putranya itu.


"Om,, apa yang harus Saya lakukan agar Sinta mau menemui saya dan melanjutkan acara ini ?" tanya Rama


"Sebenarnya tadi Sinta memberi satu syarat buat kamu, agar dia benar-benar yakin kalau kamu memang mencintai dia," ujar Fajar


"Apa itu Om, ayo cepat katakan sama saya," ucap Rama gak sabaran.


"Kita kembali ke panggung dulu, nanti kamu juga akan tau," ujar Fajar


Walaupun berat tapi Rama melakukan apa yang di suruh calon mertuanya itu, Orang tuanya Yusuf makin binggung, kenapa semuanya jadi seperti ini, mereka sudah melewatkan sesuatu yang tidak di mengerti oleh mereka itu. akhirnya Mereka kembali ke tempat pelaksanaan acara pertunangan tadi.


Dira sedang memakan makanannya, dia sangat berselera makan entah karena rasa kesalnya pada Rafka yang membuat Nafsu makannya meningkat atau karena memang makanannya enak-enak.


Sebuah tangan menyodorkan minuman ke arahnya, Dira melihat ke arahnya, ternyata seorang pemuda berpakaian pelayan dengan memakai masker memberikan minuman kepadanya.


"Makasih mas," Dira mengambil minuman itu dan meminumnya, saat dia menoleh pelayan itu masih setia di sana memandangnya sehingga dia merasa risih.


"Mas kenapa mandangin gue seperti itu, gak tau apa gue lagi kesal, gue kalau lagi kesal bisa makan orang loh," ucap Dira kesal, pelayan itu belum beranjak juga dari sana masih saja menatap lekat ke arahnya. Saat manik mata mereka bertemu Dira memalingkan wajahnya.


"Apa gue sudah gila ya, kenapa semua yang gue lihat mirip sama Rafka sampai pelayan pun terasa mirip sama dia, atau ini efek dari minuman ini," ucap Dira sambil menepuk-nepuk kepalanya.


"Eh mas apa minuman ini mengandung alkohol ya," tanya Dira, pelayan itu menggeleng.


"Terus kenapa saya seperti berhalusinasi, apa mas menaruh sesuatu di dalamnya," ujar Dira , pelayan itu mengankat bahunya seolah tak tau apa-apa.


"Mas Jangan macam-macam ya sama saya, kalau pacar saya tau mas bisa habis di gebukin sama dia," ancam Dira yang merasa dari tadi pelayan itu memandanginya terus.


Pemuda itu berjalan mendekati Ke arah Dira, semakin dekat dan semakin dekat sehingga membuat Dira terpaksa mundur.


"Mau apa lo ?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Like dan Coment yang banyak ya😍🙏🙏


__ADS_2