JANGAN SALAHKAN AKU... MEMILIH DIA

JANGAN SALAHKAN AKU... MEMILIH DIA
Eps 50


__ADS_3

Siapa ya nak, sepertinya kamu bukan orang sini ya," tanya Rahmi


"Iya tante, saya dari Jakarta mau ketemu sama bapak, bapak ada kan tante," tanya Rama


"Ada kok, sebentar ya biar tante panggilin dulu, silahkan masuk nak," ujar Rahmi kemudian menuju kamarnya dan memanggil Fajar yang sedang berbaring di kamarnya.


" Yah..ada yang mau ketemu sama ayah tuh, katanya dari jakarta," ujar Rahmi


"Siapa bu ?


"Ibu gak tau juga siapa, tapi dia masih muda dan mungkin umurnya sekitar 25 tahun atau lebih deh pa," ujar Rahmi. Fajar bangun dari kasurnya lalu memakai pakaiannya kemudian keluar dari kamarnya.


Saat berada di ruang tamu, Fajar menatap lekat ke arah Rama dari ujung kepala sampai ke ujung kaki.


"Maaf nak, kamu ada perlu apa datang kemari, kalau mau laporan kamu harus menemui pak Rt dulu jangan langsung kesaya, itu sudah prosedurnya nak," ujar Fajar salah sangka


"Bukan pak, Bapak ayahnya Sinta kan," ujar Rama, Fajar mengerutkan keningnya.


"Kenalkan pak, saya Rama saya pacarnya Sinta,"


Braak...


Fajar menggebrak meja yang membuat Rama keget.


"Jangan bohong kamu, Sinta bilang kalau dia gak punya Pacar. kamu jangan mengada-ngada anak muda," ujar Fajar mulai meninggi. Rama takut melihat kemarahan Fajar, hatinya sakit mendengar ucapan Fajar tadi.


Apa segitu bencinya Sinta sama gue sehingga dia tidak mengakui kalau gue pacarnya,, Batin Rama


"Saya gak bohong Pak, kalau gak percaya ini buktinya," ujarnya sambil memperlihatkan Foto Rama sedang berduaan sama Sinta. Fajar semakin marah, dia bukan marah karena melihat Foto itu tapi dia marah karena sebagai orangtua telah di bohongi oleh anaknya sendiri.


"Sabar Yah, jangan marah-marah gak baik buat jantung ayah," ujar Rahmi mengingatkan, Fajar menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan untuk menetralkan emosinya.


"Sekarang kamu ceritakan yang sebenarnya ada hubungan apa kamu sama Sinta ?" ucap Fajar mulai melunak.


Rama menghela nafas lega kerena Fajar sudah mulai melunak terhadapnya.


"Seperti yang saya katakan tadi, saya adalah pacar Sinta, memang kami pacaran belum lama tapi saya dan sinta saling mencintai pak,"


"Saat ini memang ada sedikit kesalah fahaman antara kami berdua sehingga Sinta marah sama saya pak, tapi saya akan berusaha meminta maaf darinya." ujarnya kemudian Rama menceritakan semuanya kepada Fajar dan Istrinya. Fajar tidak melihat sedikitpun kebohongan di mata Rama.


"Dan tujuan saya jauh-jauh datang kemari untuk melamar anak Om untuk menjadi Istri saya," ujar Rama.


"Begini nak Rama, saya harus bicara dulu sama Sinta, kalau Nak Rama tidak keberatan boleh saya minta nomornya Nak Rama, nanti kalau saya sudah ngomong sama dia baru nanti kami kabari Nak Rama lagi," ujar Fajar

__ADS_1


"Baik pak, saya akan menunggunya, saya akan berada di sini selama seminggu dan mungkin saya akan menginap di Hotel dekat-dekat sini," ujarnya.


"Baik nak Rama, kalau begitu sekarang kamu bisa segera mencari penginapan di dekat-dekat sini, saya lihat nak Rama sudah sangat kelelahan sekali setelah perjalanan jauh dan pastinya belum sempat istirahat kan," ujar Fajar mengusir secara halus Rama karena sebentar lagi Sinta akan pulang.


"Baiklah Om..tante..saya permisi dulu, Assalamiàlaikum," ujar Rama sambil beranjak dan pergi dari sana.


"Waàlaikumsalam," jawab mereka.


"Gimana ini yah, apa yang harus kita lakukan ? tanya Rahmi


" Kita tunggu Sinta pulang saja terlebih dahulu, baru kita bisa mengambil keputusan," ujar Fajar


Tak berapa lama kemudian Sinta pun pulang bersama Sari akan tetapi sari tidak mampir, dia langsung pamit pulang ke rumahnya karena malam sudah larut.


Tok...tok...


"Assalamuàlaikum"


"Waàlaikumsalam," Rahmi membukakan pintu rumahnya, Sinta segera menyalaminya.


"Loh kok belum tidur Yah, gak baik loh jam segini ayah masih bergadang. Kan ayah belum sembuh benar," ujar Sinta berjalan ke arah Fajar dan menyalami Ayahnya itu.


"Wajah ayah kenapa merah gitu ? sakarang ayah masuk kamar yuk, biar bisa istirahat," ajak Sinta lagi, tapi reaksi ayahnya malah membuat Sinta binggung.


"Maksud ayah apa ?" tanya Sinta Bingung


"Katakan apa yang kamu sembunyikan dari kami," bentak Fajar


" Sudah Yah..jangan marah-marah nanti jantung ayah kumat lagi," ujar Rahmi sambil mengusap ngusap punggung Fajar.


"Mak, tanyain anakmu itu ada hubungan apa dia dengan Rama,"


Degg...


Jantung Sinta berdetak kencang saat mendengar ucapan ayahnya itu.


Tess...


Air mata Sinta menetes di pipinya.


"Ayah tau dari mana tentang mas Rama ?" tanya Sinta lemah


"Jadi benar dia itu kekasihmu ?" Suara Fajar meninggi, Sinta menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Huff..., Fajar menghembuskan nafas kasar


"Kenapa kamu bohong sama ayah dan ibu nak," ujar Fajar lemah.


"Maaf ayah, Sinta salah," ucap Sinta


"Apa kamu mencintainya ? Sinta mengangguk sambil menangis


"Terus kenapa kamu menerima lamaran nak Yusuf kalau kamu mencintainya," tanya Fajar lagi sambil membawa Sinta dalam pelukannya.


Sinta masih menangis, dia tidak bisa menjawabnya karena tidak ingin ayahnya tau tentang masalah yang terjadi diantara dia dan Rama.


"Ayah tau, kesalahfahaman itu yang membuat kalian terpisah," ucap Fajar


Sinta melepaskan pelukan ayahnya dan menatap lekat ke arah ayahnya itu mengharap penjelasan darinya.


"Rama sudah menceritakan semuanya Sinta," ujar Fajar


"Mas Rama ada di sini ?" tanya Sinta Kaget


"Iya, dia baru saja melamar kamu buat jadi istrinya,"


Degg...


Jantung Sinta seakan mau copot mendengar ucapan ayahnya itu. tapi rona kebahagiaan terpancar di wajahnya. Fajar yang melihat itu makin merasa yakin kalau putrinya itu sangat mencintai Rama.


"Kamu jangan lupa Sinta, dua hari lagi kamu akan bertunangan sama Yusuf," ucapan Fajar membuat raut wajah Sinta berubah sedih.


"Ayah tidak mau kamu mempermalukan keluarga kita Sinta, sekarang terserah kamu mau melihat keluarga kita malu atau mau memilih cintamu itu," ujar Fajar sambil beranjak menuju kamarnya, Rahmi pun mengikutinya.


Saat mendengar ucapan Fajar kepala Sinta bagai di hantam batu besar, air matanya kembali mengalir deras di pipinya. Dia pikir tadi Ayahnya akan membantu menyelesaikan masalah ini tapi ucapan ayahnya itu menyatakan kalau Sinta harus menyelesaikan sendiri masalahnya.


Sementara Rahmi kesal sama suaminya karena ucapan suaminya tadi, dia tau kalau Sinta merasa di tinggalkan sendiri dalam masalah sebesar itu oleh mereka.


"Ayah kenapa ngomong begitu sama Sinta Yah, kasian Sinta..dia pasti merasa kalau kita tidak sayang padanya." ujar Rahmi


"Sudahlah mak, Biarkan dia menyelesaikan sendiri masalahnya, biar itu menjadi sebuah pelajaran baginya agar kedepannya bisa selalu jujur kalau ada suatu masalah," ujar Fajar yang membuat Rahmi makin kesal. Rahmi kemudian keluar dari kamarnya, seulas senyum muncul di bibir Fajar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Read...Like...Coment...Vote...


Thank's 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2