
Dirumahnya Sinta sudah terbangun kepalanya pusing sekali, dia beranjak dari ranjangnya lalu menuju ke dapur untuk minum air. Dia melihat Ibunya dan Ibunya Yusuf sedang ngobrol di dapur sambil memasak.
Awalnya dia cuek saja tapi saat mendengar nama Rama di sebut-sebut dia menghentikan langkahnya tidak jadi masuk ke Dapur dan dia bersembunyi di belakang tembok dekat dengan mereka.
"Kira-kira Nak Rama selamat gak ya ?" ucap Rahmi
"Kita tidak tau, kita serahkan saja pada Allah," ujar mayapp
"Kenapa dengan Mas Rama Mak ?, apa yang terjadi padanya ?" tanya Sinta, Maya dan Rahmi kaget melihat Sinta sudah berada di sana.
"Sinta..kamu sudah bangun nak ?" tanya Rahmi
"Mak jawab pertanyaan Sinta, apa yang terjadi sama mas Rama," ucapnya mulai menangis
"Mak juga gak tau, tapi yang jelasnya dia ketusuk sama belati," jawab Rahmi
"Dimana dia sekarang mak ?, Sinta ingin melihatnya,"
"Mak gak tau Sinta, Ayah sama nak Yusuf dan Ustadz Burhan sudah membawa dia ke rumah sakit," jawab Rahmi
"Sinta mau ke sana, di manapun dia sinta harus menemukannya mak," ucap Sinta lalu berlari ke arah kamarnya, Rahmi segera mengejarnya.
"Sinta tunggu dulu nak,kita tunggu ayahmu dan lainnya pulang dulu biar tau dimana dia di rawat nak," ujar Rahmi tapi tak di gubris oleh Sinta, rasa khawatirnya membuatnya tidak bisa berfikir jernih.
Sinta kemudian mengambil tas nya lalu hendak pergi dari rumah itu, tapi saat dia berada di halaman rumahnya terlihat ayahnya dan Ustadz Burhan sudah memasuki halaman Rumah itu dengan menggunakan mobilnya.
"Mau kemana kamu Sinta ?" tanya Fajar
"Ayah..." ucap Sinta sambil memeluk ayahnya.
"Ayah bilang sama Sinta dimana mas Rama di rawat yah ?" Fajar mengerutkan keningnya
"Ayah please katakan yah ," ujar Sinta sambil menangis.
"Sudah lah Sinta , Rama sudah pulang ke Jakarta, dan kamu lupakan saja dia karena dua hari lagi kamu akan bertunangan dengan Yusuf," ucap Fajar. Sinta melepaskan pelukannya.
"Ayah aku gak mau tunangan dengan mas Yusuf, aku tidak mencintai dia ayah, aku cuma mencintai mas Rama," ujarnya masih terus menangis.
"Gak ada pilihan lain nak Sinta, kami tidak ingin malu sama keluarga kami karena pertunangan ini batal, karena kami sudah mengundang keluarga besar kami yang berada di luar kota.
__ADS_1
"Tapi saya tidak mau pak Ustadz, apa pak Ustadz mau kalau mas Yusuf tidak bahagia kalau bersama menikah orang yang tidak mencintainya dan malah mencintai orang lain ?" ucap Sinta dengan nada tinggi
"Sinta..jaga bicara kamu, yang sopan terhadap orang tua." ucap Fajar
"Maafkan kami nak Sinta, ini semua kemauan Yusuf sendiri, dan dia tidak mau kalau pertunangan ini di batalkan malahan dia meminta secepatnya acara pernikahan kalian diaksanakan," ucap Burhan
"Apa...." Sinta kaget, matanya mulai buram dan akhirnya dia pingsan karena shock.
"Sinta..." teriak Rahmi, Fajar segera menggendong Sinta dan membaringkan dia di kamarnya.
"Yah..kenapa ayah sangat ngotot masih menjodohkan Anak kita dengan Yusuf, saya takut Sinta kenapa-kenapa kalau kita terus memaksanya seperti ini," ujar Rahmi cemas.
"Tenang saja Mak, Sinta nantinya pasti akan berterima kasih pada kita, karena orang yang kita pilihkan untuknya adalah orang yang tepat untuk mendampinginya," ujar Fajar.
Sementara Ustadz Burhan dan Istrinya sedang duduk di ruang tamu menunggu orang tua Sinta keluar dari kamar.
"Bi...apa gak sebaiknya kita batalin saja pertunangan ini Bi ?" ujar Maya
"Abi memang mau membatalkan pertunangan ini Mi, Tapi Yusuf bersikeras untuk melanjutkannya karena dia sangat meencintai Sinta," ujar Burhan
"Apa Abi tidak melihat nak Sinta tadi yang pingsan karena Shock mendengar ucapan Abi barusan, saya takutnya Sinta tidak bisa menerima semua ini," ujar Maya.
Fajar mulai keluar dari dalam kamar tersebut, namun tidak dengan Rahmi, dia ingin menjaga Sinta di kamarnya.
"Maaf Ustadz atas kejadian tadi, Sinta terlalu terbawa emosi sehingga membuat dia begitu sama Ustadz." ujar Fajar
"Gak apa-apa pak Kades, saya maklum kok sama apa yang dirasakan Sinta saat ini, dan kita harus sabar menghadapi segala sesuatu yang akan terjadi nanti," ujar Burhan
"Kalau begitu kami pamit pulang dulu, soal rencana pertunangannya kita akan bicarakan nanti saja," tambahnya
"Baiklah Ustadz, hati-hati ya," ujar Fajar, merekapun akhirnya pulang dan Fajar kembali ke kamarnya Sinta.
Sementara Yusuf masih berada di ruang inap Rama, dia melihat wajah Rama yang tampan mempesona, jangankan kaum hawa dia sebagai pria saja kagum terhadap ketampanan Rama itu apalagi kalau sudah mengenal sosok Rama yang Dermawan dan baik hati juga tidak sombong itu pasti akan menambah rasa kagum bagi yang mengenalnya.
"Ternyata Sinta tidak salah pilih, apalah aku di bandingkan Pak Rama ini, sudah kaya, pengusaha, baik hati dan dermawan pula, biarkah aku berkorban demi kebahagianmu Sinta," ucapnya Lirih
"Semoga kalian bahagia dunia akhirat," gumannya
Tangan Rama mulai bergerak, matanya mengerjap-ngerjap melihat sekitarnya, terakhir pandangan matanya tertuju pada sosok pemuda yang tersenyum manis padanya.
__ADS_1
"Yusuf... kamu kenapa di sini, dan di mana ini ?" tanya Rama lemah.
"Pak Rama sekarang di Rumah sakit," jawab Yusuf, Tiba-tiba Rama teringat pada Sinta.
"Sinta..Sinta mana, Dimana dia ?
Dalam keadaan seperti ini saja dia masih memikirkan Sinta, sungguh cintanya terlalu besar buat Sinta, aku gak salah kalau melepas Sinta untuk bersamanya,, Batin Yusuf.
"Sinta baik-baik saja kok, sekarang dia ada di rumahnya bersama orang tuanya," jawab Yusuf
"Oh syukurlah, saya gak bisa bayangin kalau terjadi apa-apa sama Sinta," ucap Rama sambil menghela nafas lega
"Oh ya kamu kok tadi ada di rumah Sinta, apa kamu mengenal Sinta ?" tanya Rama
"Saya ingin cerita sesuatu, tapi Pak Rama harus janji ya jangan marah dulu, dengar cerita saya sampai habis," ucapnya sambil menarik nafas panjang.
"Mau cerita kok kamu seperti mau ngelamar, kamu kelihatan gugup begitu ," canda Rama, Yusuf tersenyum mendengar candaan Rama.
"Pak Rama janji dulu tidak marah,"
"Tergantung cerita kamu bikin saya marah atau enggak," ucapnya
"Berarti saya gak usah cerita saja, karena saya tau cerita saya akan bikin pak Rama marah," ujar Yusuf
"Sebenarnya apa sih yang pengen kamu ceritakan, kok kelihatannya serius banget," tanya Rama penasaran karena sikapYusuf sangat serius dalam berbicara kepadanya.Yusuf hanya memandang tajam kearah Rama.
"Oke..oke, saya janji gak akan marah," ucap Rama.
"Begini pak Rama, sebenarnya saya bukan hanya mengenal Sinta tapi saya adalah calon tunangannya Sinta,"
"Apaa..."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hayoo..apa Rama mengingkari janjinya agar tidak marah..atau akan terjadi baku hantam antara keduanya, nantikan kelanjutannya ya.
Dan jangan lupa Like...Coment...Vote...
Makasih🙏🙏🙏
__ADS_1