
Roy dan Nara berada di tanah lapang yang letaknya tak jauh dari apartemen.Mereka membayar beberapa orang untuk membantu menerbangkan lentera-lentera itu.
"Sayang ada apa dengan Tuan Kenan kenapa dia begitu baik pada Nona Jessy? Apa kau tau alasannya?."
"Istriku Nara,tidak usah banyak bertanya.Lakukan saja apa yang Tuan Muda perintahkan."
"Iya iya aku tau.Kalau menurutku cara ini adalah hal yang romantis,aku tidak percaya kalau Tuan Muda hanya membantu Nona Jessy menghapus kesedihannya,"Nara menerka-nerka,"Atau jangan-jangan Tuan Muda jatuh cinta dengan Nona Jessy,OMG!!!"Nara nampak histeris.
"Kau ini bicara apa,tidak mungkin Tuan Muda secepat itu melupakan Nona Siska.Kau sendiri sudah tau kan kalau Tuan Muda itu tidak mudah mencintai seseorang."Mematahkan hayalan Nara.
"Huh Kau ini,bisa saja kan mereka saling jatuh cinta karena merasa senasib.Apa kau tidak pernah nonton drama di tv.Menurutmu apalagi tujuan Tuan Kenan sampai melakukan hal ini kalau bukan untuk membahagiakan Nona Jessy."Nara bersikeras dengan opininya.
"Apakah menurutmu setiap membahagiakan seseorang itu karena atas dasar cinta? Begini nih kalau terlalu banyak nonton drama."Roy tak mau kalah dengan istrinya.
"Hey tentu saja memangnya apalagi kalau bukan cinta."Sambil mencubit pipi suaminya itu."Begini saja,bagaimana kalau kita bertaruh saja.Kalau benar Tuan Muda mencintai Nona Jessy,maka kau harus mengajakku liburan ke Maldives akhir tahun ini.Tapi kalau aku salah,maka aku akan...."Nara menggantungkan kalimatnya karena ia tak tau apa yang harus dilakukannya kalau nanti ternyata dia salah.
Secara spontan Roy pun menjawab."Akan bermain 10 ronde bersamaku setiap malamnya,OKE DEAL?"Roy mengulurkan tangannya.
"APA!!! yang benar saja."Nara melototi suaminya itu.
"Kenapa? Kau takut yaaa.Ini kan hanya 5x lipat dari yang biasa kita lakukan,biasanya kan hanya 2 ronde dalam semalam."Roy menyolek dagu Nara dengan genitnya.🤣🤣🤣
Apa? Dia bilang hanya.Mudah sekali mengatakan,tapi itu mustahil dilakukan.Roy bukan hanya suamiku yang tampan,tapi dia juga benar-benar gila.
"Siapa bilang aku takut,Palingan juga kamu gak bakal tahan sampai segitu.OKE KITA DEAL!!!"Berjabat tangan dengan suaminya itu.
Jadi nasibku berada ditangan Nona Jessy dan Tuan Muda.
Aaaaaa apa jadinya kalau aku sampai kalah taruhan ini.
Kenapa aku setuju sih,semoga saja mereka saling jatuh cinta.
"Tentu saja aku kuat.Hahahaha."Roy tertawa seolah-olah dirinya yang akan menang taruhan ini."Kalaupun aku kalah juga tak begitu berarti Sayang.Kalau untuk membuatmu bahagia jangankan Maldives,ke Kutub utara pun juga bakal aku anterin."
"Jangan mengada-ngada,maksudmu kau mau membuatku membeku disana.Huh dasar!!!."
"Hahaha aku makin jatuh cinta kalau kau sedang marah seperti ini."Roy meraih tubuh Nara dan menciumnya.
Mereka seperti tak peduli dengan orang-orang di sekitar mereka.
*****
Pagi harinya Jessy nampak bergegas menuju ke loby karena baru saja Nara mengatakan padanya bahwa ada seorang wanita tengah menunggunya.Ia berjalan menuju wanita itu.
"Mama?"Memeluk Mamanya,"Sedang apa Mama disini dan tau dari mana kalau Jessy tinggal disini?."
"Mama tau semuanya dari Lucas dan Papa kamu."
"Ma ayo ke atas,kita bicara dikamar aku aja."Jessy menggandeng tangan Mamanya menuju ke kamarnya.
__ADS_1
"Jess kenapa kamu gak cerita sih kalau ada masalah dengan rumah tanggamu,sejak kapan Heru seperti itu."
"Maafin Jessy Ma,memang sengaja Jessy gak kasih tau mama sama papa karena Jessy takut kalian kecewa.Aku juga gak mau bikin mama sama papa jadi ikut sedih."Jessy mencoba tegar dihadapan mamanya."Aku gak tau sejak kapan Mas Heru mengkhianati aku.Dan begitu aku tau,aku langsung memutuskan untuk bercerai dengannya karena memang kesalahannya tidak bisa ditolerir.Lagipula dia juga harus bertanggung jawab atas perbuatannya."Jessy benar-benar tegar kali ini ia tak meneteskan air mata sedikitpun.
"Nak,kamu gak seharusnya menyimpan masalah sebesar ini sendiri.Sudah menjadi kewajiban orang tua untuk dijadikan tempat bersandar bagi anaknya bila sedang memiliki masalah.Mama sama papa akan selalu dukung apa yang menjadi keputusanmu,jika hal itu dirasa bisa membuat kamu merasa lebih baik maka lakukanlah".Membelai rambut anak perempuannya itu."Lain kali kalau kamu ada masalah,kamu cerita aja sama mama atau papa.Jangan seperti ini lagi ya,"Memeluk erat Jessy.
"Iya Ma,makasih udah mau support aku."
"Iya nak,Mama akan selalu ada buat kamu."
Mama Jessy memang tak menitihkan air mata,tapi siapa yang tau jika hatinya menangis.Hanya saja ia berusaha tegar dihadapan anak perempuannya itu.
"Ma sepertinya ada orang yang datang,sebentar ya aku bukain pintu dulu."Berjalan menuju pintu dan membukakan pintu untuk seseorang diluar sana.
"Tuan Kenan,eh Kenan...ada apa ya."
"Tadinya aku mau ajak kamu makan diluar,tapi sepertinya kamu ada tamu ya?."Kenan dengan sedikit celingukan mengintip siapa bertamu.
"Siapa Jess?."Mama Jessy menghampiri Jessy dan Kenan.
"Eh ini Ma,Kenalin namanya Kenan.Dan Kenan kenalin ini Mama aku."
"Tante saya Kenan,teman Jessy."Mencium tangan Mama Jessy.
"Ooh gitu,Saya Mamanya Jessy.Panggil aja tante Lusi."
"Eh iya iya."
Kenan pun segera keluar dengan cepat karena merasa tak ingin mengganggu ibu dan anak itu.Sementara Jessy dan Mamanya kembali ngobrol.
"Jess siapa itu?"
"Itu yang sering bantuin aku Ma,Kenan juga yang punya apartemen ini."
"Ooh gitu,kelihatannya dia orang baik."Menganggukan kepalanya.
Mama Jessy memutuskan berada ditempat itu hingga siang hari,ia tak tega bila meninggalkan anak perempuannya itu dalam keadaan sepeti ini.Hatinya ikut hancur kala melihat Jessy bernasib seperti ini.Pasalnya ia dengan susah payah berusaha membahagiakan putrinya tersebut dari kecil.Tapi setelah dewasa dan dipinang seorang pria,putrinya malah disakiti seperti ini.Jika saja waktu bisa diulang kembali,maka ia tak akan merestui pernikahan putri kesayangannya itu bersama pria brengsek macam Heru.Tapi apalah daya nasi sudah menjadi bubur,ia hanya bisa nestapa meratapi nasib putrinya.
Maafkan Mama nak
Setelah tengah hari sopir datang untuk menjemput Mama Jessy.
Wanita paruh baya itu pun berpamitan pada Jessy.
"Jess Mama pulang dulu ya,kalau ada masalah hubungin Mama ya."Mencium pipi Jessy.
"Iya Ma pasti,Mama jangan lupa jaga kesehatan ya.Jessy janji akan selalu sempetin buat nengokin Mama."
"Iya sayang,kamu juga hati-hati ya disini."
__ADS_1
Mama Jessy pun akhirnya beranjak pulang.Kini Jessy kembali sendiri bersama luka hatinya.Tak lama setelah Mamanya pergi,seseorang kembali memencet bel pintu kamar Jessy.
"Nona Jessy anda ditunggu Tuan Kenan di mobil."
"Hah di mobil? Memangnya dia mau mengajakku kemana Roy?."Mengernyitkan dahinya.
"Saya juga tidak tau Nona,saya hanya dusuruh kemari untuk menjemput anda."
Yang benar saja kau kan asisten pribadinya,masa iya kemana Tuannya pergi dia tidak tau.Huh aneh sekali.
"Oke tunggu aku mau ambil tas ku dulu."Berlari kedalam untuk mengambil tasnya.
"Mari Nona."
Jessy pun berjalan mengekor dibelakang Roy.Ia masih diliputi rasa penasaran dengan ajakan Kenan yang tidak diketahui kemana tujuannya.Akhirnya mereka sampai didepan mobil milik Kenan.
"Jessy ayo cepatlah sebelum kita terlambat."
Terlambat? Memangnya mau kemana sih sebenarnya.Aku jadi curiga.
"Kenan sebenarnya kita mau kemana sih?."
"Kamu duduklah saja,nanti juga bakalan tau."
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi,jalan yang mereka lewati pun nampak asing dimata Jessy karena memang ia tak pernah lewat didaerah itu.Setelah beberapa menit kemudian mereka sudah memasuki gerbang besar bergaya klasik dengan warna yang dominan putih.Melihat tulisan digerbang itu Jessy langsung terlihat tegang,ia juga amat panik.
Hey untuk apa mereka membawaku kemari,jangan-jangan mereka mau membunuhku dan menguburkanku di pemakaman ini.Aaaaaaa tidak,tidak...
"TIDAAAAAAK"Jessy berteriak dengan keras hingga membuat Kenan,dan sopir yang mengemudikan mobil pun kaget dan membuatnya mengerem mendadak.DUGGGG!!! Baik Kenan maupun Jessy,jidatnya kejedot kursi didepan mereka.
"Hey kamu ini kenapa? Huh? Ini pemakaman kenapa kamu berteriak seperti itu,kamu mau mengusik roh yang beristirahat disini."Sambil memegang jidatnya.
"Justru karena ini pemakaman makanya aku berteriak,memangnya ada apa sih kamu membawaku kemari."
"Pak ayo jalan lagi,tinggal satu blok lagi kita sampai."
Apa??? dia ini kenapa sih tak menjawab pertanyaanku,malah ngajak lanjut jalan.
Jessy hanya bisa komat-kamit tanpa suara karena kekesalannya.Kini mobil kembali berhenti tapi bukan karena rem mendadak melainkan karena sudah sampai ditujuannya.Mobil berhenti di sebuah blok pemakaman.Kenan mengajak Jessy untuk masuk kedalam blok pemakaman tersebut.
"Jess ayo ikut masuk."
Jessy hanya diam saja karena ia takut apa yang ada dipikirannya benar-benar terjadi.
"Aku mengajakmu kemari untuk berkunjung ke makam ibuku,biar kujelaskan padamu.Mungkin selama ini kamu bertanya-tanya kenapa aku begitu baik padamu,itu karena aku merasa nasibmu sama persis dengan mendiang ibuku."Sambil berjalan menuju pusara ibunya.
"Nasibku?"Mengernyitkan dahinya.Dan karena merasa penasaran Jessy pun mengikuti langkah Kenan.
"Ya,nasib rumah tanggamu.Ketika aku masih berusia 12 tahun dan adikku baru berusia 7 tahun,ayahku meninggalkan ibuku demi wanita lain yang ia kencani.Aku melihat betapa terlukanya hati ibuku,walaupun ia menampakkan wajah cerianya dihadapanku tapi tetap saja tak bisa menutupi kesedihannya.Dan saat melihatmu,kesan pertama yang aku rasakan adalah kepedihan yang tak bisa diutarakan dengan kata-kata.Aku merasa seperti kembali ke masa lalu,masa dimana ibuku merasakan hal yang sama sepertimu."Kenan mulai menjelaskan semuanya pada Jessy.
__ADS_1