Jatuh Cinta Lagi

Jatuh Cinta Lagi
Flashback 5 Tahun Lalu(Nggak Pernah Peka)


__ADS_3

Bagai disambar petir disiang bolong ucapan Fatur membuat Anggita begitu kaget bukan main, bagaimana bisa Fatur berbicara segampang itu mengungkapkan perasannya kepada Anggita? Atau ini hanya keusilan Fatur semata yang sangat senang menggoda dirinya. Mata Anggita membesar menatap Fatur dengan lekat, seketika jantungnya mendadak terhenti untuk sesaat, apa ini pernyataan cinta dari Fatur. Mengapa hatinya sangat senang saat Fatur menyatakan perasaan kepada dirinya? Sementara Fatur masih tersenyum manis menatap Anggita dengan lekat, senyum simpulnya membuat degup jantung Anggita berdetak lebih cepat dari biasanya. Tangan Anggita mulai sedikit gemetaran dan telapak tangannya terasa sedikit basah karena keringat yang mendadak keluar pasca pernyataan cinta Fatur kepadanya. Anggita masih terdiam membisu membuat Fatur semakin menyukainya.


"Kok diem? Kenapa? Kaget, ya?" tanya Fatur menyadarkan Anggita yang masih terdiam menatapnya.


Sontak suara Fatur menyadarkan lamunan Anggita yang terhanyut akan kata-kata manis Fatur, apalagi kedua bola matanya yang membuat aliran darahnya mengalir terasa seperti aliran listrik.


"Nggak lucu!" balas Anggita sambil pergi meninggalkan Fatur sendirian.


Sungguh Anggita dibuat malu oleh Fatur, wajahnya masih memerah karena ulah Fatur. Mengapa lelaki itu sangat senang menggodanya, tapi Anggita sangat menyukainya.


Sebenarnya Fatur sedikit kecewa karena sikap Anggita yang tidak mengetahui ucapan Fatur, mungkin bagi Anggita ucapan Fatur tadi hanya gurauan semata tapi bagi Fatur itu adalah ungkapan perasaannya.


Mereka berdua berjalan bersisian saat keluar dari toko sepatu dan Anggita langsung memakai sepatu pemberian Fatur. Aneh, itu yang dirasakan oleh gadis kelahiran 20 tahun lalu karena baru kali ini dirinya memakai sepatu flat shoes.


"Nyaman, kan?" tanya Fatur dengan matanya menatap sepatu yang dipakai Anggita.


Entah dari mana Fatur bisa mengetahui ukuran kaki Anggita, dan dari mana juga Fatur bisa memilih sepatu yang sangat cocok bagi gadis itu. Sepatu yang sangat cantik dan lucu membuat Anggita menyukainya.


"Biasa aja," jawab Anggita singkat dengan nada datar dengan tatapan menatap ke sembarang arah.


Mendengar apa yang diucapkan Anggita membuat Fatur tertawa ringan, mengapa Anggita selalu menutupi perasannya dan tidak pernah mau mengakui apa yang dirasakan.


"Tapi lo suka, kan?"


"Nggak," jawab Anggita singkat sambil menghentikan langkahnya menatap Fatur dengan lekat.


"Masa lo nggak suka, sepatu ini cocok buat lo," balas Fatur mencoba menghibur Anggita yang terlihat masih sedikit kesal kepadanya.


"Gue nggak suka pakai Flat shoes. Berasa nggak pakai sepatu, tau nggak sih!"


Hanya tawa ringan yang kembali terlukis di wajah Fatur saat mendengarnya membuat Anggita semakin kesal dibuatnya, kali ini Anggita benar-benar ingin mencakar wajah Fatur dengan kuku yang ada di tangannya. Mengapa Fatur sangat senang membuat Anggita kesal.


"Lo tuh, ya. Seneng banget buat gue kesel? Pengen banget gue cakar muka lo!" semprot Anggita kesal melihat Fatur yang terus tertawa melihat dirinya.

__ADS_1


"Nih cakar muka gue kalau lo mau. Gue ikhlas mau diapain juga sama lo, mau dicakar, mau dipukul sampai bonyok dan berdarah-darah buat lo rela gue." Fatur mendekatkan wajahnya kepada Anggita agar apa yang Anggita mau tercapai.


Benar-benar Fatur membuat Anggita sangat kesal, mengapa lelaki itu tidak pernah menganggap serius ucapan Anggita. Selalu saja bisa membuat amarah Anggita lenyap seketika.


"Lo tuh nyebelin, ya!"


"Tapi lo suka, kan?" balas Fatur kembali menggoda Anggita tiada henti dengan senyum khasnya yang akan selalu Anggita rindukan.


"Nggak!" timpal Anggita dengan nada tegas dan ketus.


"Tapi gue suka," sahut Fatur lagi tidak mau kalah.


"Lo tuh, ya! Arghhhh...." Anggita begitu frustasi meladeni Fatur dan akhirnya dirinya memilih untuk pergi meninggalkan Fatur.


Merasa bersalah terus membuat Anggita kesal akhirnya Fatur membelikan Anggita ice cream, mereka berdua duduk di pinggiran taman kota Batam. Memang siang ini sedikit panas namun rimbunan dauh pohon yang amat besar dengan daun yang sangat hijau melindungi mereka berdua dari sengatan matahari.


"Bole gue tanya sesuatu?" tanya Anggita yang sudah tidak mulai marah karena Fatur sudah meminta maaf kepadanya dan memberikan ice cream.


"Tanya aja, mau tanya apa?" Fatur balik tanya sambil memakan ice cream dengan santainya tanpa menatap Anggita yang duduk di samping Fatur.


"Lo kuliah?" tanya Anggita yang mencoba mulai bertanya dengan rasa ragu menyelimutinya.


"Iya, jurusan arsitektur."


Merasa belum puas membuat Anggita ingin mengajukan pertanyaan lagi, namun ia sedikit takut jika akan menyinggung Fatur. Mimik wajahnya terlihat bingung dan berpikir apa yang akan ditanyakan lagi olehnya kepada Fatur, tidak mungkin jika dirinya bertanya tentang papanya. Sepertinya Fatur tahu apa yang sedang dipikirkan oleh gadis itu.


"Bokap gue polisi." Fatur mulai bercerita karena dirinya tahu jika Anggita pasti ingin tahu tentang dirinya.


Deg, Anggita terdiam tak berkutik mengapa lelaki itu tahu apa yang ada di dalam pikirannya? Mengapa Fatur tahu apa yang akan ditanyakan olehnya? Mungkin Fatur bisa menebak karena sedari tadi Anggita sangat penasaran ingin tahu mengapa dirinya dan papanya tidak akur.


"Kok bisa lo kuliah arsitek sedangkan Bokap lo polisi?" spontan Anggita bertanya secara tiba-tiba setelah beberapa saat terdiam.


"Memang nggak boleh?" Fatur balik tanya seraya tersenyum manis menatap Anggita.

__ADS_1


Senyuman dan tatapan mata Fatur membuat jantung Anggita kembali bergemuruh tak karuan, memang Fatur paling pandai membuat suasana hati dirinya tak menentu.


"Bukan begitu, biasanya kalau Bokap nya seorang polisi pasti anaknya juga ikut jejak Bokap nya."


"Nggak berlaku buat gue."


"Kenapa lo nggak mau jadi polisi? Apa karena hubungan lo sama bokap lo yang nggak baik-baik aja?" tanya Anggita semakin penasaran terus menebak-nebak.


"Gue males aja kalau harus sering dipindah tugaskan. Ribet," jawabnya ringan terus menatap wajah cantik Anggita.


"Aneh, nggak masuk akal banget," gumam Anggita bicara sendiri dengan nada suara pelan sambil memalingkan pandangannya ke lain arah.


"Ada satu alasan gue memilih jadi arsitek."


"Apa?" Anggita kembali penasaran dengan ucapan Fatur.


"Gue pengen bikin sesuatu yang jarang banget orang bisa. Contohnya gedung pencakar langit, jalan tol, hotel, apartemen, nanti gue bisa bilang sama anak gue suatu hari nanti kalau ini semua buatan Papa." cerita Fatur membayangkan semua mimpinya.


Rasanya Anggita terhanyut dan tenggelam akan mimpi dan impian Fatur, rasanya Anggita bisa membayangkan bagaimana indahnya mimpi dan impian Fatur. Memang semua orang mempunyai impian dan mimpinya masing-masing, tinggal bagaimana kita bisa mewujudkannya tangan tangan dan usaha kita sendiri.


"Mimpi yang indah," puji Anggita.


"Mimpi lo apa?" Fatur balik bertanya saat selesai mengucapkan apa mimpinya kepada Anggita.


"Em... Apa, ya." Anggita mulai berpikir kebingungan apa mimpinya.


"Jangan bilang mau dibuatin rumah sama gue pas lo nikah nanti," celetuk Fatur spontan.


"Memang lo bisa?"


"Bisa. Apa sih yang nggak gue bisa." Fatur mulai membanggakan dirinya menggombal untuk Anggita dan hanya tawa ringan yang terlukis di bibir Anggita.


Fatur sangat senang membuat gadis itu tertawa dan tersenyum seperti ini.

__ADS_1


"Buat lo jatuh cinta juga bisa." tambah Fatur lagi yang membuat Anggita kaget menatapnya.


__ADS_2