
Pagi ini Tias Ayu memutuskan untuk pergi ke hypermart terdekat membeli bahan untuk makan siang, sebenarnya Tias Ayu sangat jarang ke hypermart bisa dihitung pakai jari dalam sebulan. Namun karena Anggita sedang berada di rumahnya mau tidak mau Tias Ayu harus menjamunya dengan baik.
Tyas Ayu yang hanya sendiri tanpa ditemani Mili sedang sibuk mencari sayuran, buah-buahan, ikan dan yang lainnya sehingga tidak sadar jika ada seseorang menabrak troli belanjanya dari arah yang berlawanan. Spontan membuat Tias Ayu kaget begitu juga dengan orang itu yang sadar jika dirinya telah membuat kesalahan.
Mereka berdua saling menoleh dan menatap untuk sekedar minta maaf, dan Tias Ayu semakin terkejutnya saat tahu yang telah menabraknya adalah seseorang sudah lama dikenal. Begitu juga dengan pria itu tidak percaya jika yang ada di depannya adalah perempuan dimasa lalunya.
"Yuda." Tias Ayu menyebutkan namanya sambil mengingat wajah pria yang berdiri di hadapannya.
Pria dengan tinggi 180 cm juga sangat terkejut seperti mimpi bisa bertemu lagi dengan perempuan yang sangat disukainya selama ini. Yuda terus menatap Tias Ayu dengan lekat dan menegaskan jika yang dilihatnya adalah benar-benar Tias Ayu.
"Tias." Yuda menyebut nama Tias Ayu saat yakin jika perempuan itu benar adalah Tias Ayu.
Keduanya saling menatap sambil tersenyum mereka berdua tidak percaya jika bisa bertemu lagi setelah sekian lama, mungkin seperti takdir yang membawa mereka berdua kembali bertemu lagi. Pertemuan ini sangat berarti bagi Yuda karena Tias Ayu adalah cinta pertamanya saat masa SMA dulu. Untuk mengobati rasa rindunya akhirnya mereka berdua memutuskan untuk mengobrol sejenak.
"Kamu apa kabar?" tanya Yuda ketika mereka berdua memutuskan untuk mengobrol di sebuah cafe dekat Hypermart.
"Baik. kamu?" Tias Ayu balik bertanya dengan perasaan sedikit gugup.
Bagaimana tidak gugup karena dulu saat SMA, Tias Ayu pernah mendapatkan pengakuan perasaan dari Yuda yang diumumkan lewat radio sekolah. Dan kejadian itu adalah kejadian yang tidak akan pernah dilupakan oleh Tias Ayu, meskipun akhirnya Tias Ayu menerima perasaan Yuda yang sudah lama menyukainya.
"Aku baik-baik saja. Sudah lama kita nggak ketemu semenjak lulus SMA," jawab Yuda yang terlihat sangat bahagia menatap Tias Ayu.
Yuda adalah mantan pacar Tias Ayu sejak masa SMA dulu, kisah cinta mereka begitu sangat melekat diingatan masing-masing karena Tias Ayu adalah cinta pertamanya Yuda. Bahkan sampai saat ini Yuda masih sangat mencintai Tias Ayu.
"Iya. Kamu kemana saja?" Tias Ayu mencoba terus basa-basi kepada Yuda.
"Sejak lulus sekolah aku ikut dengan kedua orang tuaku ke Bali dan menetap di sana, lalu aku kembali ke Batam untuk melakukan sebuah proyek yang lumayan lama," jelas Yuda menceritakan keberadaan dirinya selama ini.
Sedari tadi pandangan Yuda terus lekat menatap Tias Ayu tidak sedetikpun ia berkedip dan mengalihkan pandangannya. Hari ini Yuda benar-benar bersyukur karena telah dipertemukan lagi dengan cinta pertamanya.
"Sudah jadi orang sukses kamu," puji Tias Ayu sedikit menggoda dan Yuda hanya tersenyum manis.
"Nggak juga. Kamu bagaimana keadaannya? Sudah punya anak berapa?" Yuda mengganti topik pembicaraan agar dirinya tahu bagaimana mantan kekasihnya selama ini.
"Aku mempunyai dua anak. Satu lelaki dan satu lagi perempuan."
Lalu mereka berdua larut dalam pembicaraan masa lalu, masa-masa sejak mereka SMA sampai kehidupan yang mereka jalani saat ini. Bagi Yuda pertemuan ini adalah suatu hal yang sangat dinantikan olehnya selama ini.
__ADS_1
JAKARTA.
Malam itu Damar memutuskan untuk bertemu degan Alya setelah kejadian putusnya antara Damar dan Anggita. Karena Alya merasa bersalah atas kandasnya hubungan antar mereka berdua, Alya juga belum meminta maaf kepada Damar karena lelaki itu sedikit menghindarinya.
"Bagaimana hubunganmu dengan Anggita?" tanya Alya ketika mereka mengobrol di Cafe.
"Sudah berlalu," jawab Damar singkat dengan nada sedikit malas dan kecewa.
Alya merasa bersalah saat mendengar ucapan Damar, ia benar-benar merasa tidak bersalah karena hubungannya dengan Anggita berakhir gara-gara dirinya. Sebenarnya semua bukan sepenuhnya salah Alya, namun saat itu kebetulan Damar sedang bersama dengan dirinya di depan Anggita.
"Aku minta maaf," kata Alya dengan nada menyesal menatap Damar yang terus terdiam tidak banyak bicara.
"Untuk apa?" Damar balik bertanya.
"Karena aku hubunganmu dengan Anggita berkahir," jawab Alya engan nada menyesal.
Damar tersenyum tipis menatap Alya, sungguh hubungan dirinya dengan Anggita bukanlah salah Alya sepenuhnya. Damar merasa jika dirinya sudah begitu keterlaluan kepada Anggita mungkin ini hukuman untuknya. Dan juga Damar tidak pernah memberitahu Alya jika dirinya sudah mempunyai seorang kekasih.
"Nggak. Ini bukan salah kamu." Damar mencoba menenangkan Alya jika semua ini bukan salahnya.
"Dia sudah nggak mau lagi berhubungan denganku, dengan kata lain kita sudah berpisah. Anggita sudah mengganti nomor ponselnya," cerita Damar dengan nada lirih dan putus asa.
Dari cerita Damar bisa merasakan kekecewaan, rasa sedih dan putus asa. Dan wajah Damar benar-benar terlihat jelas jika dirinya begitu kehilangan Anggita.
Andai saja Alya bisa berbicara dengan Anggita jika semua yang dilihatnya bukan seperti yang dipikirkan. Tapi apa boleh buat Anggita sudah tidak mau bertemu dengan Damar lagi.
Seperti biasa malam ini Fatur selalu mengajak Anggita keliling kota, rasa sakit hati dan luka yang dirasakan oleh Anggita beberapa hari ini sedikit sirna. Ada kebahagian lain yang didapat oleh Anggita di sini yaitu sosok Fatur yang mampu menghilangkan rasa sedih Anggita karena Damar.
"Kamu suka nonton?" tanya Anggita ketika mereka sedang duduk di sebuah cafe.
"Nonton apa dulu nih, yang spesifik dong tanyanya," kata Fatur yang saat ini sudah mulai memakai bahasa formal bicara dengan Anggita.
Anggita tersenyum ringan menatap Fatur, dan ia tahu apa maksud dari ucapan kekasih barunya itu. Melihat senyum yang terlukis di bibir Anggita membuat Fatur merasa sangat bahagia.
"Nonton bioskop. Kamu suka nggak?" Anggita menjelaskan ucapannya yang sedikit terdengar ambigu tadi.
"Suka."
__ADS_1
"Bolo?" tebak Anggita lagi bertanya.
"Nggak. Aku lebih suka menonton balap motor," jawab Fatur singkat.
"Kamu suka balap motor sejak kapan?" tanya Anggita begitu penasaran ingin tahu tetang Fatur.
Selama mereka dekat Fatur tidak pernah menceritakan tentang kehidupannya, alasan dirinya begitu sangat membenci papanya, hubungannya dengan papanya. Semuanya Fatur tidak menceritakan secara detail kepada Anggita.
"Sejak kelas 6 SD."
Sungguh mengagumkan anak sekolah dasar sudah ikut balap motor, dan membuat Anggita kaget bukan main ketika mendengar apa yang Fatur ucapkan.
"Apa! Serius kamu?" Anggita kaget sambil menatap Fatur tidak percaya.
Tapi Fatur terlihat biasa saja ketika melihat ekspresi wajah Anggita yang menatapnya keheranan.
"Iya. Dan papaku yang memfasilitasi semuanya. Sedari SD sampai SMP, aku suka balap motor dan sering berlatih di sirkuit. Tapi setelah papa meninggalkanku saat itu juga aku sering ikut balap liar sampai perlombaan resmi." Fatur mulai bercerita tentang masa lalunya kepada Anggita dengan seketika mimik wajah sedih.
Anggita terdiam ketika mendengar cerita Fatur, jadi ini alasan Fatur sangat membenci papanya. Karena ia ditinggalkan oleh papanya sejak masih sekolah dasar. Pantas saja sikap dan perasaan Fatur begitu sangat kasar dan juga membencinya, Anggita bisa merasakan bagaimana perasaan Fatur.
"Papa kamu ternyata membawa pengaruh baik juga buatmu sampai sekarang." Anggita mencoba membanggakan papanya Fatur saat ini agar lelaki itu tidak membenci papanya sendiri, walaupun Anggita tahu tidak akan pernah mungkin semudah itu Fatur memaafkannya.
"Aku kadang membenci akan itu. Hobi Ku, cita-citaku mengapa harus terlahir dari dia! Orang yang sudah menyakiti dan menghancurkan ku," ucap Fatur mulai terdengar dengan nada benci dan sinis serta tatapan yang tajam menatap ke satu arah.
Terlihat jelas kekecewaan dan kebencian yang terpancar di wajah Fatur, serta rasa sedihan yang terdengar setiap kali dia mengingat akan masa lalunya.
"Fatur, aku minta maaf. Aku nggak bermaksud bicara seperti itu," kata Anggita menyesal sambil menatap Fatur begitu lekat.
"Nggak apa-apa kamu harus tahu tentang aku mulai sekarang," kata Fatur sambil tersenyum menatap Anggita meyakinkan dirinya jika baik-baik saja.
"Biasanya kalau papanya seorang polisi, anaknya juga pasti seorang polisi. Kamu kenapa nggak mau menjadi seorang polisi? Apa kamu membenci papamu?"
"Jujur, aku benci sekali kepada papaku. Aku nggak bisa memaafkan dia begitu saja. Aku nggak mau menjadi polisi karena sangat malas sekali kalau dipindah tugaskan, karena menurutku itu hanya membuang waktu," jelas Fatur singkat
Memang Fatur sangat tidak mau untuk menjadi seorang polisi karena alasan salah satunya adalah tidak mau dipindah tugaskan dan juga tidak ingin berpisah dari kakak dan mamanya. Alasan yang sangat aneh tapi juga sedikit masuk akal mengingat hanya Fatur yang bisa menjaga kakak dan mamanya karena pasca kepergian papanya.
Fatur juga sempat berdebat dengan mama dan papanya karena tidak ingin masuk kepolisian, dan papanya mengalah dengan keputusan Fatur yang masuk kuliah jurusan Arsitektur. Walaupun sebenarnya papanya ingin sekali ada penerus dirinya yaitu Fatur.
__ADS_1