Jatuh Cinta Lagi

Jatuh Cinta Lagi
Flashback 5 Tahun Lalu(Rindu Masa Lalu Bersama Papa)


__ADS_3

Anggita sedari tadi menatap wajah Fatur dan mendapati matanya sembab seperti baru menangis, senyumnya tidak seceria tadi pagi. Apa yang sedang terjadi kepadanya, mengapa mood Fatur berubah drastis saat ini. Sejak tadi Fatur terlihat tidak begitu fokus saat mendengarkan Anggita berbicara, sering kali dirinya melamun seakan memikirkan sesuatu yang menjadi beban di pikirannya.


Jujur melihat keadaan Fatur membuat Anggita sangat bingung harus berbicara apa, sejak tadi Fatur sibuk sendiri melamun menatap ke satu arah saja. Kopi yang dipesannya dibiarkan dingin tanpa Fatur sentuh, dan Anggita sedari tadi diabaikan begitu saja olehnya.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Anggita yang penasaran dan bingung karena sedari tadi terdiam tanpa ada pembicaraan antara mereka berdua.


Sontak Fatur menoleh saat mendengar Anggita berbicara dengannya, bohong jika Fatur bilang dirinya baik-baik saja. Andai saja Fatur bisa menceritakan semuanya kepada Anggita, tapi entah mengapa mulutnya selalu saja terkunci jika membahas tentang papanya.


"Iya," jawabnya dengan suara sedikit parau menatap Anggita seraya tersenyum manis menutupi rasa sedihnya dan meyakinkan kekasihnya jika dirinya baik-baik saja.


Anggita tahu arti senyuman yang terlukis di bibir Fatur, pasti sudah terjadi sesuatu kepadanya saat ini sehingga dirinya terlambat menemui Anggita. Haruskah Anggita bertanya lagi kepada Fatur, atau membiarkan Fatur menanggung sendirian beban di pikirannya.


"Erik bilang kalau kamu mau ikut seleksi ke Jepang. Apa itu benar?" Anggita mencari pembahasan lain yang sebenarnya ingin sekali dirinya bahas dan tanyakan kepadanya.


Deg, Fatur menatap Anggita dengan lekat dan sedikit kaget. Pasti Erik sudah memberitahu Anggita tentang rencananya itu. Rencana lamanya yang sangat diimpikan oleh Fatur sejak dulu. Mungkin ini saatnya Fatur membahas masalah seleksi beasiswa kepada Anggita, agar nanti jika dirinya berhasil mendapatkan beasiswa tidak perlu lagi menjelaskan kepada kekasihnya.


"Iya," jawab Fatur singkat.


Ada rasa sedikit kecewa yang ditangkap dari ekspresi wajah Anggita saat Fatur menjawabnya. Fatur mengerti pasti sedikit berat bagi Anggita untuk menjalani hubungan jarak jauh atau LDR.


"Apa kamu keberatan kalau nanti aku mendapatkan beasiswa dan pergi ke Jepang?" tanya Fatur mencoba memastikan.


Anggita terdiam sesaat tidak menjawab pertanyaan Fatur, pikirannya terus melayang membayangkan bagaimana hubungannya nanti antara Jakarta-Jepang. Bukan jarak yang dekat seperti Jakarta-Bogor yang hanya bisa ditempuh dalam waktu 1 atau 2 jam saja. Tapi mereka akan terpisah jarak bermil-mil jauhnya berbeda negara.


Tanpa Anggita menjawab pertanyaan yang Fatur berikan, dari sana juga Fatur bisa menebak jika Anggita seperti keberatan untuk menjalani hubungan jarak jauh atau LDR. Tapi bagaimana juga Fatur harus bisa menyakinkan Anggita.


"Kenapa kamu nggak memberitahukan tentang ini kepadaku? Kenapa aku harus tahu dari Erik?" Anggita terdengar sedikit kecewa karena tahu tentang ini dari Erik bukan dari kekasihnya sendiri.


"Maafin aku, Git. Aku belum sempat memberitahumu soal ini, dan aku baru mau memberitahumu kalau nanti sudah mendapatkannya," jelas Fatur menatap lekat Anggita yang masih terlihat kecewa karenanya.


"Aku harap kamu bisa menungguku setelah aku lulus kuliah nanti," pinta Fatur lagi memegang tangan Anggita yang dekat dengan tangannya.

__ADS_1


Sebenarnya Anggita sangat ragu dengan hubungan ini, ia tidak bisa menjalani hubungan jarak jauh seperti yang dinginkan oleh Fatur. Gadis cantik itu masih terdiam entah apa yang akan dikatakannya lagi, Anggita tidak bisa berjanji sepenuhnya akan pertanyaannya Fatur.


Setelah perdebatan antara Fatur dan Rudi akhirnya Tias Ayu memberanikan diri untuk berbicara dengan mantan suaminya. Tias Ayu sudah tidak sanggup lagi melihat Rudi begitu seenaknya kepada putra bungsunya. Memang Rudi adalah papanya Fatur tapi selama ini Fatur sudah kehilangan sosok papa baginya.


"Aku harap kamu nggak pernah memaksakan pilihannya, dia sudah dewasa dan berhak memilih kehidupannya," kata Tias Ayu saat berbicara dengan Rudi di ruang tamu.


Wajah Tias Ayu masih terlihat sedih akan kejadian yang baru saja dilihatnya, luapan emosi Fatur membuat Tias Ayu terluka. Bagaimana tidak baru saja Tias Ayu melihat putranya begitu sangat bahagia menemukan kebahagiaannya yang telah lama hilang, kini Rudi berusaha menghalanginya kembali.


"Aku baru melihat senyum dan tawa yang begitu merekah di bibir Fatur, senyum yang terhalang duka karena kepergian mu. Beberapa tahun aku selalu melihat dia murung, kehidupannya begitu sangat sunyi. Tidak ada masa depan dan impian yang terlihat di matanya, namun setelah bertemu dengan Anggita semua berubah." Tias Ayu bercerita tentang perubahan putranya saat bertemu dengan Anggita.


Mata Tias Ayu kembali berkaca-kaca setelah sembab karena menangis tadi, jika Tias Ayu mengingat saat-saat itu membuat dirinya sedih dan menangis. Hampir setiap hari Tias Ayu selalu bersedih melihat sikap Fatur yang berubah menjadi pendiam dan Introvert.


Tias Ayu juga khawatir jika putranya mempunyai trauma akan sebuah hubungan, dan juga enggan untuk memulai hubungan dengan seorang perempuan. Begitu juga kepada Mili yang semakin hari menjadi perempuan yang pendiam tidak banyak bicara.


Namun setelah kehadiran Anggita semua berubah, sikap Fatur sedikit ceria dan terbuka. Hampir setiap hari wajahnya terlihat berseri-seri, tawa terlukis di bibir Fatur dan membuat semua rasa khawatir Tias Ayu sirna. Bagi Fatur perempuan itu adalah cahaya hidupnya kini, sumber kebahagiaannya. Entah bagaimana hidup Fatur tanpanya yang pasti Tias Ayu berharap jika Anggita akan selamanya bersama dengan putranya.


Mendengar cerita mantan istrinya membuat Rudi merasa bersalah, ternyata selama ini dirinya memang benar-benar tidak bisa memahami buah hatinya. Apa yang dilakukannya kini semata hanya mengambil perhatian namun tidak memikirkan bagaimana perasaan kedua buah hatinya.


Mata Rudi mulai berkaca-kaca mendengarnya, apa ini hukuman untuknya karena telah meninggalkan kedua buah hatinya. Betapa sakitnya Rudi mendengar ucapan Tias Ayu yang sangat menggores hatinya, apa itu tandanya kehadiran dirinya sudah terlambat dan memang tidak pernah diharapkan oleh kedua buah hatinya.


Di sisi lain Mili sedang melihat sepucuk surat yang sudah beberapa minggu ini dikirim untuknya, entah surat dari siapa yang pasti setiap kali Mili datang surat itu sudah ada di bangkunya. Surat tanpa nama yang menuliskan tentang perasaanya kepada Mili selama ini. Siapa lelaki itu? Siapa yang sering mengirimkan surat kepadanya?


Tanpa Mili tahu mamanya Tias Ayu datang menghampiri Mili yang sedang duduk termenung di meja belajarnya. Sepertinya Mili tidak tahu dengan kedatangan mamanya karena pintu kamarnya dibiarkan terbuka, sehingga Tias Ayu bisa dengan leluasa masuk ke kamar Mili.


"Mili." suara Tias Ayu begitu lembut menyapa putrinya yang melamun sambil memegang sepucuk surat.


Sontak suara Tias Ayu membuat Mili kaget, dengan cepat perempuan berambut panjang lurus menyelipkan surat ke dalam lembaran buku pelajarannya. Saat Mili menoleh sudah terlihat mamanya berdiri tidak jauh darinya.


"Mama." wajah Mili terlihat sedikit gugup saat mendapatkan mamanya sudah berada tepat dibelakangnya dan berjalan menghampirinya.


"Sedang apa kamu?" tanya Tias Ayu dengan senyuman khasnya menghampiri Mili.

__ADS_1


"Belajar," jawab Mili singkat menatap mamanya.


Tangan lembut Tias Ayu mengusap rambut belakang Mili, senyum simpul terlukis di bibir Tias Ayu walaupun sebenarnya hatinya sedang sedih. Sebisa mungkin Tias Ayu selalu tersenyum kepada kedua buah hatinya saat dirinya sedang sedih karena ia tidak mau melihat Fatur dan Mili ikut sedih karenanya.


"Papa sudah pulang, Ma?" tanya Mili ingin mengetahui keadaan papanya.


"Sudah," jawab Tias Ayu yang masih mengusap pelan rambut Mili.


Mili tertunduk sesaat seakan ingin sekali bertanya apa yang sudah dibicarakan oleh mama dan papanya, namun ia tahu jika itu adalah pembicaraan antara mama dan papanya yang sangat rahasia.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Tias Ayu saat melihat Mili terdiam.


"Apa papa dan Fatur akan berbaikan kembali seperti dulu?" tanya Mili dengan nada sendu menatap mamanya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Tatapan Mili membuat Tias Ayu sedih lagi namun sebisa mungkin Tias Ayu menahan agar air mata tidak jatuh ke pipinya. Pertanyaan Mili sangat susah untuk dijawab oleh Tias Ayu, ia tidak tahu apakah Fatur dan mantan suaminya akan berbaikan seperti dulu.


"Mama nggak tahu. Sepertinya akan sulit bagi Fatur memaafkan papamu," jawab Tias Ayu pesimis atas sikap Fatur selama ini kepada papanya.


Mendengar jawaban mamanya membuat Mili sedih, sebenarnya ia ingin sekali jika mereka seperti dulu lagi. Bersama menjalani hari-hari indah penuh cerita, tawa dan bahagia. Namun itu tidak akan pernah terjadi semuanya sudah hancur berantakan berkeping-keping sehingga kebahagiaan tidak ada yang tersisa.


Hanya ada luka dan air mata yang terlukis setiap harinya, meskipun tidak dipungkiri jika sebenarnya Fatur juga sangat merindukan masa-masa bersama papanya. Semua keinginan itu tertutup oleh rasa kecewa dan luka yang masih dirasakannya sampai saat ini.


Air mata Mili tiba-tiba saja jatuh ke pipi saat dirinya merindukan masa lalu bersama papanya. Rasa rindu Mili selama ini kepada papanya tidak dapat dibendung lagi, ia sungguh merindukan sosok cinta pertamanya yang telah pergi meninggalkannya.


"Aku sangat merindukan masa-masa seperti dulu," kata Mili dengan berurai air mata.


Tias Ayu tahu bagaimana perasaan Mili saat ini, pasti sangat berat bagi putrinya untuk melupakan kejadian yang seharusnya tidak terjadi kepadanya diusia muda. Kehilangan sosok papa saat dirinya beranjak dewasa.


"Aku rindu kebersamaan kita, dulu," tambah Mili yang menangis semakin tersedu-sedu.


Yang Mili butuhkan saat ini adalah pelukan mamanya yang membuat dirinya akan tenang, sebisa mungkin Tias Ayu tidak menangis di hadapan Mili. Begitu sangat erat pelukan Tias Ayu memeluk tubuh mungil Mili agar putrinya merasa tenang dan nyaman meluapkan rasa sedih di hatinya.

__ADS_1


__ADS_2