
Jessy berjalan dengan terburu-buru hingga tak sengaja menabrak Roy yang tengah membawa tumpukan dokumen penting.
"Oh Ya Tuhan,Roy maafkan aku sungguh aku tak sengaja menabrakmu,"Ucap Jessy sambil membantu Roy mengais kertas-kertas yang berserakan di lantai karena ulahnya.
"Tidak apa Nona,sepertinya anda memang terburu-buru,"Sahut Roy.
"Iya aku memang terburu-buru karena aku sedang ingin membantu Mas Heru menyelesaikan masalahnya,Dan maafkan aku ya kemarin malam aku tidak bisa hadir ke jamuan makan malam yang sudah kau siapkan bersama Nara.Aku berjanji padamu Roy,lain hari aku yang akan menjamu kau dan juga istrimu makan malam,sekali lagi maafkan aku,"Kata Jessy memelas.
"Iya Nona anda santai saja,lagipula kemarin malam itu kan hujan lebat,istri saya memang sudah memasak tapi hanya beberapa saja dan tidak terlalu banyak jadi kami makan sendri masakan itu,"Kata Roy."Oh ya mengenai mantan suami anda memangnya anda akan membantu apa Nona,bukankah masalah itu adalah skandal besar ya Nona?"
"Iya memang,tapi jujur ya aku masih belum percaya sepenuhnya kalau Mas Heru seperti itu sekarang."
"Kalau anda membantunya,bukankah itu akan mempertaruhkan karir bisnis anda ya Nona?"Tanya Roy.
"Iya sih memang,tapi kalau aku diam saja maka aku akan merasa seperti orang yang tak berguna,dan entahlah kenapa aku sangat mengkhawatirkan keadaan Siska,"Jawab Jessy yang tengah menatap langit-langit untuk menahan air matanya agar tidak jatuh."Aku merasa iba saja dengan nasib anak yang dikandungnya,"Tapi air mata itu pun tak terbendung lagi.
Nona Jessy lihatlah dirimu,seberapapun jahatnya orang-orang itu yang telah mengkhianatimu,kau masih peduli kepada mereka.Bahkan kau berpikir jauh dibandingkan mereka,hatimu begitu tulus.Pantas jika Tuan Kenan mendambakanmu untuk menjadi pendamping hidupnya.
"Nona Jessy tenanglah,"Bujuk Roy.
"Eh Roy,maafkan aku yang terlalu lebay ini,aku permisi dulu yaaa."Ujar Jessy yang jemudian berlari meninggalkan Roy."
Roy hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah Jessy.Ia kembali berjalan dengan membawa tumpukan dokumen yang tadi berceceran,ia membawanya ke ruangan Kenan.Ia tersenyum mengagumi ketulusan hati Jessy.
Kenan merasa aneh melihat Roy tersenyum begitu.
"Hey Roy,apa yang terjadi padamu? Kenapa kau tersenyum seperti itu huh?"Tanyanya ketus."Seperti orang tidak waras saja."
"Anda mungkin akan lebih gila lagi jika anda yang bertemu dengan Nona Jessy tadi,anda mungkin akan semakin kagum dengan Nona Jessy,"Jawab Roy.
"Apa maksudmu? Memangnya Jessy habis melakukan apa sampai kau terkagum-kagum seperti itu?"Kenan mulai penasaran begitu Roy menyebut nama Jessy.
"Nona Jessy tidak melakukan apapun pada saya Tuan,tapi ia mengatakan sesuatu yang mungkin bagi orang lain tidak mudah."
"Hey Roy bisa tidak kau to the point saja,aku sudah penasaran ini,"Protes Kenan yang gemas dengan asistennya itu yang bicara bertele-tele.
Roy pun menceritakan pada Kenan semua yang dikatakan Jessy tadi secara rinci.Ia bahkan mengikuti gaya bicara Jessy yang lemah lembut,dengan dibumbui sedikit gaya kemayu Roy malah membuat Kenan terpingkal.Tapi meski begitu ia tetap bisa menangkap pesan yang disampaikan Roy dengan jelas.
__ADS_1
Benar yang dikatakan Roy,Kenan sekarang makin kagum lagi dengan Jessy.Padahal ia hanya mendengarkannya dari mulut Roy.
Jessy aku memang tak salah telah jatuh cinta padamu,selain parasmu yang cantik menyejukkan,kamu juga memiliki hati seperti malaikat yang begitu tulus.Aku semakin ingin mengejarmu.....
*****
Jessy berjalan tergopoh,ia menghela napasnya begitu sampai didepan pintu ruangan Papanya.Ia mengetuk pintu perlahan,dan ia pun dipersilahkan masuk.
"Ada apa Jess kamu kemari?"Tanya Papa Jessy.
"Apa ayah sudah tau tentang masalah yang menimpa Mas Heru?"
"Iya,memangnya kenapa?"
"Papa,bisakah kamu membantuku menyelesaikan masalahnya? Aku sangat kasihan pada nasib istrinya jika dia sampai terbukti bersalah."
"Untuk apa kamu mencemaskannya,ingatlah dia orang yang pernah menyakitimu,"Tegas Papa Jessy.
"Tapi Pa,aku tak memiliki dendam sedikitpun pada mereka,apa salah jika aku menolong mereka?"Protes Jessy.
"Tidak salah memang,tapi meskipun tindakanmu itu baik,Papa tidak mengijinkanmu untuk melakukannya!"
Papa Jessy menyodorkan laptop dihadapannya pada Jessy.Ia membuka dokumen rahasia tentang rencananya bersama Lucas untuk menghancurkan Heru dalam waktu sekejap.
Jessy yang melihat itu sontak terkejut,ia menutupi mulutnya dengan kedua tangannya.Ini benar-benar diluar dugaannya.
"Kenapa Papa melakukan itu? Bukankah ini terlalu berlebihan untuk sekedar membalas dendam?"Tanya Jessy.
"Bagi Papa,tidak ada yang lebih berarti dari pada kebahagianmu nak,dan melihatmu terluka waktu itu dada Papa seperti terkena anak panah yang membuat dada Papa merasakan sakit,"Papa Jessy memegang dadnya."Lukamu adalah luka Papa juga,dan untuk ini kamu tidak bisa menghentikan Papa!"
Jessy diam mematung,pikirannya terbang melayang tak menentu.Ia tak tau lagi harus berbuat apa jika sudah dihadapkan dengan penghakiman Papanya.
Jessy pun memilih keluar dari ruangan Papanya.Ia berjalan sambil melamun sampai tak memperdulikan sapaan dari para karyawan yang bekerja di perusahaanya itu.Ia mencoba menghubungi Lucas,namun sepertinya ponsel Lucas sedang tidak aktif.Akhirnya Jessy memilih kembali ke apartemen.
*****
Lucas menarik paksa Vania keluar dari kamar indekosnya,ia berjalan begitu cepat tanpa memperdulikan Vania yang memberontak.Ia kemudian membawa Vania bersembunyi didalam mobilnya.
__ADS_1
"Hey kau mau membawaku kemana,lepaskan tanganku sakit tau!"Keluh Vania pada Lucas.
"Bisakah kau tenang sedikit! Lihatlah disana,"Lucass menunjuk sekelompok orang pria memakai setelan jas formal berwarna hitam yang nampak mengepung tempat kost Vania."Mereka itu sedang mencarimu,mereka itu orang-orang dari K-TECH."
"Whoooah,mereka tampan-tampan sekali ya,seharusnya aku tidak kabur bersamamu biar aku ditangkap oleh mereka,"Kata Vania yang penuh decak kagum.
"Cih dasar bodoh!!! Kau pasti akan menyesal memuji ketampanan mereka setelah kau tau sekejam apa mereka,"Singgung Lucas."Mereka tak segan bermain kasar jika sudah diperintah oleh atasan mereka,mereka tidak bisa lembut pada wanita dan bahkan mereka juga tak segan membunuh seorang wanita yang dituduh bersalah oleh atasan mereka,"Ujarnya yang berniat menakuti Vania."Kau itu beruntung,aku datang menjemputmu tepat waktu atau kalau tidak kau akan..."Lucas menggantungkan kalimatnya membuat Vania penasaran.
Apa benar aku beruntung karena dibantu olehnya? Apa aku harus berterima kasih padanya? Helloooo seharusnya aku itu menyalahkannya,karena dialah yang membuatku berada di situasi membahayakan ini.
"Kalau tidak aku akan apa? Huh!"Tanya Vania dengan ketusnya.
"Kau bahkan tidak akan bisa membayangkannya,jika kau tertangkap oleh mereka maka tamatlah riwayatmu!"
"HEY!!! KAU INI MAU MEMPERMAINKANKU ATAU APA SIH? KAU YANG MEMBUATKU SEPERTI INI,APA AKU HARUS BERTERIMA KASIH PADA ORANG YANG SUDAH MEMBUAT HIDUPKU BERADA DALAM BAHAYA,APA KAU SUDAH GILA HUH?"Teriak Vania yang sudah tak bisa bersabar lagi.Ia memukuli dada bidang Lucas dengan kedua tangannya.Lucas berusaha menangkap tangan Vania,setelah berhasil ia memegang kedua tangan Vania.
"Bisakah kau tenang?"Pintanya.
Seperti sedang terhipnotis,Vania pun kembali duduk dengan tenang.Ia menundukkan wajahnya,ia terlihat mulai menitihkan air matanya.
"Kau tak tau kan seperti apa rasanya berada diposisiku sekarang? Semua orang diluar sana pasti akan menghujatku karena skandal palsu yang kau buat ini.Dan kau juga pasti menganggapku hanya wanita murahan yang rela menukar harga dirinya demi uang yang berlimpah,hiks."Vania menangis sesenggukan,air matanya mengalir membasahi pipinya.
Lucas yang melihat itu secara spontan menyeka air mata Vania hanya menggunakan tangannya.Ia mengusapi air mata itu dengan perlahan.
"Maafkan aku sudah menyulitkanmu,aku selalu mementingkan tujuanku tanpa memikirkan perasaanmu selama ini,"Ucapnya dengan lembut seraya menarik tubuh Vania kedalam pelukannya.Ia membelai rambut dan juga punggung Vania,ia bisa dengan jelas mencium aroma wangi yang berasal dari rambut Vania.
Vania pun tangisannya semakin menjadi-jadi didalam pelukan Lucas."Huaaaaaaaaaa,"Suara tangisan Vania yang begitu nyaring.
Mereka di posisi itu sampai beberapa menit,bahkan sampai tak terdengar lagi suara sesenggukan dari Vania.Lucas pun berusaha menyibak rambut Vania yang menutupi wajahnya,ia tersenyum kala melihat Vania ternyata sudah tertidur pulas didalam pelukannya.
Cih kau ini,aku tak menyangka jika kau secengeng ini.
Gumam Lucas dalam hati sembari tangannya tetap membelai lembut rambut Vania.
Hello semuanyaaa🤗
Terima kasih sudah selalu setia membaca Novel ini.
__ADS_1
Jangan lupa like,komen,dan vote karya aku sebagai tanda cinta kalian pada Novel ini dan agar Author semakin bersemangat lagi untuk menyuguhkan karya terbaik dari Author untuk kalian semua😊
Terima kasih🥰