
Waktu masih menunjukkan pukul 00.45 tapi Jessy sudah nampak tengah bersiap-siap.Ia membawa beberapa bekal makanan dan snack,tak lupa juga membawa beberapa peralatan yang entah itu dibutuhkan atau tidak saat mendaki gunung.Dia asal membawa barang hingga tas ranselnya nampak penuh sesak.Setelah selesai ia langsung menuju ke kamar Kenan,ia memencet bel berkali-kali hingga penghuni kamar itu membukakan pintu untuknya.
"Huh kupikir kamu belum bangun."
"Astaga Jess ada apa denganmu?"Terkejut melihat barang bawaan Jessy.
"Memangnya kenapa aku? Apa yang salah dengan penampilanku?"Mengernyitkan dahinya.
"Tidak ada yang salah dari penampilanmu,tapi lihatlah ini,"Memegang spatula yang nampak mengintip dari tas Jessy."Hahahaha untuk apa kamu membawanya.Kamu ini mau mendaki gunung atau lomba masak sih,banyak sekali membawa peralatan masak.Untung saja Roy dan Nara tidak ikut,kalau mereka ikut pasti mereka mentertawakanmu lebih parah dari aku."Kenan cekikikan melihat betapa konyolnya wanita dihadapannya ini.
"Hey aku kan sudah bilang padamu kalau ini adalah pertama kalinya aku mendaki gunung,mana tau aku tentang peralatan untuk mendaki.Makanya aku asal membawa saja siapa tau dibutuhkan."Jessy nampak cemberut karena diledek oleh Kenan.
"Aaah sudah,sudah,kemarilah biar kubereskan barang-barangmu,"Mengambil alih tas Jessy dan meletakkan beberapa barangnya didapur."Beberapa barang sudah kupilah,yang tidak dibutuhkan tinggalkan disini dulu.Kamu ambil kalau udah pulang aja.Ayo kita segera berangkat."
"Ayo!."Jessy berjalan mengikuti langkah kaki Kenan menuju ke tempat parkir mobilnya.Kenan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena memang jalan raya nampak lengang dan hanya beberapa mobil saja yang melintas.Setelah sekitar 50 menit sampailah mereka disebuah jalanan yang membelah perbukitan,jalanan begitu gelap dengan diselimuti kabut tebal.Suhu yang dingin pun sudah mulai terasa dikulit Jessy dan Kenan.Akhirnya sampailah mereka ditempat tujuan,Kenan memarkirkan mobilnya.
"Hey lihat mereka,ternyata banyak juga ya yang mendaki."Jessy nampak senang.
"Iya Jess,mereka itu adalah pemburu matahari terbit'"Sembari turun dari mobil,dan segera membukakan pintu untuk Jessy.
"Ayo Jess kita kesana ikuti arahan dari leader itu dulu."
"Oke."
Mereka berdua pun mengikuti arahan-arahan dari leader yang juga merupakan warga sekitar.Setelah selesai mereka berdo'a bersama agar diberi kelancaran dalam proses pendakian,mereka pun langsung memulai proses pendakian.Gunung yang memiliki ketinggian kurang lebih sekitar 875 MDPL itu nampak menjulang tinggi bagi Jessy,tapi ia terlihat senang karena ini pengalaman pertamanya mendaki.Terlihat satu rombongan berada tak jauh didepan rombongan Jessy dan Kenan.Setelah mencapai setengah perjalanan Jessy nampak ngos-ngosan dan kesulitan mengatur nafas.Walaupun medan yang ditempuh tidak terlalu sulit,namun tetap saja bagi pemula seperti Jessy sangat melelahkan.Ia berjalan sedikit lambat dari lainnya hingga membuat sweeper selalu menyusulnya karena ia sering tertinggal.Melihat itu Kenan mundur dari formasinya dan berjalan dibelakang Jessy.
"Jessy are you okay?"Memegang lengan Jessy.
Sebenarnya sih aku sangat lelah,tapi melihatmu bersemangat seperti itu aku jadi bersemangat juga untuk bisa sampai ke puncak.
"Ya aku baik-baik aja kok."Menganggukkan kepalanya.
Mereka pun melanjutkan perjalanan namun saat hampir sampai ke puncak "BRUKK" Jessy jatuh tak sadarkan diri.Kenan yang melihat Jessy sontak langsung panik.
"Apa dia kena hipo?"Celetuk salah satu orang.
"Tapi kelihatannya dia tidak pucat kok"Imbuh sang leader.
"Pak dia baru pertama kali mendaki,apa mungkin karena kelelahan?"Ujar Kenan dengan nada bergetar.
"Oh pantas saja Tuan dari tadi Nona ini sering tertinggal,ya mungkin saja karena kelelahan dan sepertinya dia sesak nafas."Kata sweeper yang tadi dibelakang Jessy.
__ADS_1
"Begini saja Tuan,apakah anda ini suaminya? Tolong anda longgarkan pakaiannya biar dia bisa mengatur nafas dengan lebih lega."
"Iya Tuan sebaiknya anda memberinya nafas buatan,dan melepas BH yang dipakai istri anda.Agar ia bisa mengatur nafas lebih baik lagi."Wanita itu sedikit berbisik kepada Kenan.
Mendengar itu tanpa pikir panjang Kenan langsung melakukan apa yang dikatakan oleh wanita itu.
"Maaf,bisakah kalian jangan melihat kemari."
Ketiga orang itu pun langsung berbalik arah sesuai dengan yang diminta Kenan.
Jessy aku harap kamu gak marah ya karena aku sudah lancang melepas BH milikmu dan juga terpaksa harus memberimu nafas buatan,dan Tuhan ampunilah dosaku.Aku tak bermaksud mesum ditempat ini,aku hanya membantunya Tuhan.Ampunilah aku.
Setelah berhasil Kenan pun memanggil kembali ketiga orang rombongannya itu.
"Bagaimana Tuan?"Tanya sang leader.
"Sepertinya nafasnya sudah beraturan,terimakasih ya sudah memberitahu saya."
"Iya sama-sama Tuan."
"Oh ya pak perjalanannya kan tinggal sedikit lagi bagaimana kalau kita lanjutkan saja biar saya gendong istri saya ini,"Ajak Kenan.
"Baiklah Tuan kalau begitu biar saya bawakan tas anda dan istri anda,"Ujar sang sweeper.
Mereka pun langsung melanjutkan kembali pendakian mereka setelah tadi sempat tertunda karena insiden pingsannya Jessy.Sekarang nampak Kenan yang ngos-ngosan menggendong Jessy dipunggungnya di medan yang miring seperti ini.Namun itu tak berlangsung lama karena beberapa langkah kemudian sampailah mereka dipuncak gunung tersebut.
Hufft,akhirnya sampai juga.
Wanita tadi yang merupakan istri dari leader di rombongan itu menggelar sebuah kain tenun yang dibawanya diatas rerumputan hijau dan menyuruh Kenan meletakkan Jessy diatas kain tenun itu.Kenan meletakkan Jessy yan masih belum sadarkan diri dengan perlahan.
"Maaf nyonya apakah anda bisa menjaga istri saya sebentar karena saya ingin memotret pemandangan."
"Baiklah Tuan saya akan jaga istri anda."Ujar wanita itu dan segera duduk disebelah Jessy.
Tak begitu jauh Kenan melangkah,Jessy tiba-tiba sadar.
"Nona anda sudah sadar,apakah anda baik-baik saja?"Membantu Jessy duduk.
"Iya Nyonya saya baik-baik saja,"Memegang dadanya yang masih sedikit sesak."Oh ya ini sudah sampai di puncak gunung ya?"
"Iya Nona anda bisa sampai disini karena suami anda yang menggendong anda sewaktu pingsan,Beliau juga yang membantu melepaskan BH anda dan memberi anda nafas buatan.Anda beruntung memiliki suami yang perhatian."
__ADS_1
"APA? SUAMI???".Mata Jessy membulat sempurna.
*Kurangajar sekali Kenan sudah mengaku-ngaku sebagai suamiku,udah gitu pakai acara lepas BH aku lagi.Terus dia juga memberiku nafas buatan,berarti sama halnya dia MENCIUM BIBIRKU!!! Aaaaaaa kurangajar sekali*.....
"Sekarang dimana laki-laki itu?"Tanya Jessy kepada wanita dihadapannya.
"Itu disana Nona,sepertinya sedang memotret pemandangan,"Menunjuk kearah Kenan.
Jessy pun langsung berlari menghampiri Kenan.Dengan rasa kesalnya Jessy pun langsung "BUGG!!!" meninju perut Kenan dan menjewer telinganya.
"Aww sakit,sakit,sakit Jess ada apa sih."Meringis kesakitan.
"Kamu itu ya modus banget pake segala cium-cium aku,udah gitu gak sopan banget main lepas BH aku."Jessy yang masih kesal terus memukul dada Kenan dengan kedua tangannya.
"Jessy Stop!!!"Memegang tangan Jessy."Maafin aku karena sudah lancang,tapi sungguh aku tak bermaksud kurangajar padamu.Aku hanya ingin menolongmu,karena mereka mengira aku ini suamimu makanya mereka bertiga menyuruhku melakukan itu.Sekali lagi maafkan aku."Menatap Jessy dengan tatapan yang dalam.
Melihat mata Kenan secara dekat seperti ini membuat jantungnya berdebar-debar,Jessy pun langsung memalingkan wajahnya dan melepaskan tangannya dari tangan Kenan.
"Cih,tetap saja aku kesal sama kamu."
"Lagian kamu sih gak bilang kalau punya riwayat penyakit asma.Tau gitu kan aku urungkan niatku untuk ngajak kamu."
"Kan kamu sendiri yang bilang kalau kamu mencari gunung yang pendakiannya aman dan jalurnya mudah.Jadi ya aku pikir jalannya mulus gitu,datar gak kayak tadi itu."Jessy mulai cemberut.
"Nona Jessy yang cantik,sejak kapan ada gunung yang jalannya datar.Memangnya kamu ini sekolah dasar dimana sih dulu,yang namanya gunung itu jalannya ya menanjak,menurun,miring,berliku,dan sedikit berbatu."Menjelaskan pada Jessy dengan menahan tawanya.
"Ya mana aku tau sih,kok kamu nyalahin aku sih.Aku kan cuma..."Belum menyelesaikan kalimatnya Jessy tak sengaja melihat kearah matahari yang mulai mengintip di ufuk timur.Ia melangkahkan kakinya meninggalkan Kenan menuju kesudut yang lebih baik untuk melihat matahari terbit."WHOAAH indah sekali."Jessy terpukau dengan pemandangan yang baru pertama kali disaksikannya.Dengan masih diselimuti embun pagi dan udara yang begitu segar menambah kesan damai,tenang dan membahagiakan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
"Bagaimana,indah bukan?"Kenan sudah berada didekat Jessy.
"Iya,indah sekali,Aku senang menyaksikan pemandangan seperti ini."Jessy menghirup udara dengan merentangkan kedua tangannya."Gak sia-sia perjuanganku menuju ke puncak ini."
"Hey apa kamu bilang? Perjuangan??? Hahaha lucu sekali,pandahal kamu hanya menempel dipunggungku saat menuju ke puncak ini.Harusnya kan aku yang bicara seperti itu."Kenan tertawa geli mendengar kata-kata Jessy.
"Ya aku juga kan berjuang walaupun hanya setengah perjalanan hehehehe."
Mereka berdua pun tertawa bersama,mereka menyaksikan langit yang sama.Seketika terasa hilang beban yang ada dalam pikiran mereka berdua.Baik Kenan maupun Jessy seperti mendapat energi positif setelah menyaksikan indahnya lukisan Tuhan dilangit itu.
Ketika kau melakukan sesuatu yang mulia dan indah dan tak seorang pun memperhatikan,jangan bersedih.Karena matahari pun tampil cantik setiap pagi meski sebagian penontonnya masih terlelap tidur.-John Lennon-
__ADS_1