Jatuh Cinta Lagi

Jatuh Cinta Lagi
Flashback 5 Tahun Lalu(Pertemuan Antara Anggita Dan Damar Part 4 End)


__ADS_3

Akhirnya karena terpaksa Anggita mengikuti saran Indra untuk menemui Damar, tetapi sebelum itu Anggita mencoba menghubungi Damar lebih dulu. Anggita mengirim pesan kepada Damar tetapi lelaki bermata sedikit kecil tidak membalasnya karena Damar sangat sibuk sekali.


Tidak lama ketika Anggita hendak kembali ke tempat kerjanya ponsel milik Anggita berbunyi ternyata telepon masuk dari Damar, dengan cepat Anggita mengangkatnya.


“Halo,” sapa Anggita sambil mengangkat telepon.


“Halo Anggita?" suara Damar terdengar di ujung telepon sana.


Mendengar suara Damar membuat Anggita sangat lega sekali saat ia mendengar suara Damar, rasanya beban dan gundahnya hilang sedikit.


“Dika? Ini gue Anggita."


“Iya Anggita ada apa? tanya Dika terdengar ramah di telinga.


“Gue mau ngambil KTP punya gue yang ketinggalan beberapa hari lalu. Indra bilang KTP gue ada sama lo?" tanya Anggita tanpa basa-basi langsung ke inti masalah.


“Iya ada padaku," jawab Damar dengan kata-kata yang halus sekali.


“Bisa kita ketemu?"


“Nggak sekarang karena aku sedang sibuk, kalau mau nanti malam bagaimana?"


Ada sedikit kecewa yang dirasakan oleh Anggita, jika memang harus malam mereka bertemu itu Anggita harus kembali lagi ke rumahnya. Sesaat Anggita terdiam sejenak tidak menjawab langsung ajakan Damar, tapi Anggita tidak mempunyai pilihan lagi. Akhirnya Anggita menyanggupi ajakan Damar untuk bertemu nanti malam di cafe pinggir kota Jakarta.


“Ok. Jam berapa?"


“Mungkin jam 8 malam, bagaimana?"


“Ok. Kita ketemu di sana." Anggita mengiyakan ajakan Damar dan semoga saja lelaki itu tidak membohonginya.


“Sampai bertemu nanti malam,” kata terakhir Damar mematikan saluran ponselnya secara sepihak.


Senyum bahagia terlukis di bibir Damar seperti mimpi rasanya Anggita menghubunginya, dan Damar juga sepertinya harus berterimakasih kepada Indra yang sudah memberikan nomor ponselnya kepada Anggita. Sedangkan Anggita merasa lega karena bisa mendapatkan kembali KTP-nya nanti malam.


Rasanya Anggita sudah tidak sabar untuk menanti malam hari, bukan karena ingin bertemu dengan Damar tetapi ingin segera mendapatkan KTP nya itu lagi yang berada di tangan Damar.


Jam menunjukan 19:30 WIB malam hari, Anggita sudah bersiap menemui Damar dengan celana jeans hitam serta baju blouse berwarna senada, tas selempang sepatu flat shoes berwarna biru navy terlihat begitu amat cantik sekali dengan rambut sebahu yang terurai.


Saat itu Anggita menggunakan ojeg online untuk menemui Damar karena Anggita yakin jika akan ada kemacetan terjadi di daerah yang akan dikunjunginya. Tepat dugaan Anggita tidak jauh dari cafe yang akan dituju terlihat lalu lintas begitu padat mungkin karena acara konser sudah selesai.

__ADS_1


Tidak lama Anggita sampai di tempat yang dituju dan mencari tempat duduk yang nyaman untuk bertemu dengan Damar. Saat Anggita sudah menemukan tempat duduk ponsel miliknya berbunyi ternyata ada pesan masuk dari Damar dengan cepat Anggita membacanya.


“Sudah sampai belum? Sebentar lagi aku datang." isi pesan Damar.


Kedua ibu jemari Anggita dengan cepat mengetik balasan pesan untuk Damar, akhirnya Anggita bisa bernapas lega karena kedatangannya tidak sia-sia. Anggita berpikir jika Damar tidak akan datang karena sedang sibuk, tapi nyatanya lelaki itu bisa menyempatkan untuk bertemu dengan Anggita disela kesibukannya.


“Baru sampai." Anggita mengetik dan membalas pesan dari Damar.


Tidak lama ponsel milik Anggita berbunyi kembali dan itu masih dari Damar.


“Ok, tunggu sebentar lagi." pesan terakhir dari Damar dan Anggita menyimpan ponselnya di dalam tas miliknya.


Sambil menunggu kedatangan Damar yang sedang berjalan ke cafe itu, Anggita memutuskan untuk memesan minuman sambil menunggu kedatangan Damar serta secangkir kopi hitam hangat untuk Damar nanti. Walaupun Anggita tidak tahu apakah Damar akan menyukainya atau tidak. Selang 15 menit kemudian Damar datang menghampiri Anggita yang tengah duduk menunggu dirinya sambil meminum jus mangga.


“Hai. Sorry lama,” sapa Damar yang berdiri ketika menghampiri Anggita yang sudah menunggunya sedari tadi.


Seketika Anggita menoleh sedikit mendongak melihat sesosok laki-laki tampan, tegap berisi dengan kulit kuning langsat serta rambut cepak rapih telah berdiri di hadapannya. Serta tidak lupa memakai seragam dinas yang lengkap membuat Damar sangat tampan dan berwibawa.


Anggita terdiam tidak berkedip saat melihat Damar yang berdiri di hadapannya, Anggita sangat kaget mengapa Damar harus memakai seragam polisi saat harus menemui dirinya. Karena sedari tadi Damar menjadi daya tarik untuk pengunjung cafe. Semua mata tertuju kepada Damar dan membuat Anggita sedikit tidak nyaman.


“Kenapa melamun? Apa aku boleh duduk?" tanya Damar meminta izin sambil menatap Anggita yang masih keheranan saat kedatangannya.


Damar duduk di hadapan Anggita, dan lagi-lagi Damar terpesona akan sosok Anggita yang malam ini terlihat begitu cantik.


“Sorry lama," ucap Damar basa basi hendak memulai pembicaraan.


Sepertinya suasana terlihat sedikit canggung antara mereka berdua, entah mengapa Anggita yang kemarin bertemu dengan Damar bisa memasang wajah sinis dan sikap yang jutek. Namun saat ini semua berubah dan hilang keberanian Anggita untuk memasang wajah juteknya.


“Nggak apa."


“Kamu kenapa menatapku seperti itu? Apa ada yang salah?" tanya Damar yang melihat ekspresi wajah Anggita yang sedikit gundah dan terlihat tidak nyaman.


“Lo kenapa pakai baju seragam?” tanya Anggita menatap lekat Damar karena merasa tidak nyaman sambil sesekali melirik kearah sekitar pengunjung yang sedari tadi menatapnya.


Damar sontak memperhatikan seragam yang dipakainya, Damar mengira jika baju seragam polisi yang dipakainya kotor. Namun setelah Damar memastikan tidak ada masalah dengan baju seragamnya.


“Memangnya kenapa? Apa ada masalah?" tanya Damar memandang Anggita dengan lekat.


“Bukan begitu, tapi semua mata tertuju kearah lo karena seragamnya yang mencolok," jelas Anggita dan Damar hanya tertawa ringan, mungkin Anggita tidak begitu leluasa dengan Damar yang saat itu sedang memakai pakaian dinas.

__ADS_1


“Kamu malu?” tanya Damar sambil menatap Anggita dengan lekat.


“Bukan malu tapi gue nggak nyaman karena semua pengunjung sesekali menatap kearah kita," jelas Anggita yang tidak terbiasa akan hal itu, sementara Damar hanya tersenyum manis saat mengetahui apa alasan Anggita.


“Mana KTP gue?" tanya Anggita tanpa membuang waktu ke pokok pembicaraan yang menjadi alasannya datang ke sini.


Mengapa Anggita langsung bertanya tentang KTP miliknya baru saja Damar duduk melepas lelahnya, sebenarnya bukan hanya masalah KTP saja tapi Damar ingin meminta maaf kepada Anggita. Kemarin Damar belum mendapatkan kata maaf yang tulus dari Anggita, dan sekarang saatnya Damar meminta maaf lagi. Meskipun ada hal lain yang direncanakan oleh Damar, yaitu dirinya sudah mulai tertarik kepada Anggita.


“KTP milikmu?" Damar balik bertanya kepada Anggita.


“Iya KTP punya gue mana?" pinta Anggita sambil mengulurkan tangan kanannya yang menengadah sebagai kode meminta.


“Ada,” Jawab Damar singkat.


“Mana? Sini kembalikan?"


Hanya senyum manis yang Damar terlukis saat melihat sikap Anggita, sepertinya ada kesalahpahaman karena Damar tidak membawa KTP milik Anggita ke sini. Damar menyimpan KTP Anggita di laci meja kerjanya.


“KTP milikmu aku simpan di laci kerjaku, dan aku nggak membawanya ke sini."


Seketika wajah Anggita berubah menjadi tidak bersahabat saat mendengar ucapan Damar barusan, mengapa Damar tidak bicara sebelumnya. Jika Anggita tahu tidak mungkin akan datang kemari untuk menemui Damar.


“Kenapa lo nggak bilang sama gue kalau KTP-nya ada di kantor?" tanya Anggita kecewa menatap wajah Damar.


“Aku sudah bilang kepadamu kalau besok aku akan mengembalikannya, tetapi kamu bersikeras untuk bertemu denganku sekarang," jelas Damar dengan tenang menatap Anggita yang terlihat kesal dan mulai marah.


Melihat Anggita yang sedang kesal membuat Danar ingin terus memandangnya, hanya senyum manis yang terlihat dari bibir Damar saat dirinya terus menatap Anggita. Kedua bola mata Damar tidak pernah luput memandang Anggita, baginya kini Anggita bagaikan magnet yang telah menarik perhatiannya. Wajah Anggita begitu kecewa akan kejadian ini, semua seakan sia-sia jika dirinya harus menemui Damar saat ini.


“Lo simpan KTP gue di laci kerja lo?" Anggita mengulang ucapan Damar dan hanya anggukan tanpa rasa bersalah yang dilakukan oleh Damar.


“Kalau hilang bagaimana?" tambah Anggita lagi dengan nada khawatir menatap Damar dengan tajam.


“Nggak akan. Aman kok di sana dan aku bisa jamin itu," kata Damar menenangkan Anggita yang semakin kesal dan emosi.


Seketika mimik wajah Anggita menjadi lebih tenang saat ini, memang seharusnya Anggita mengikuti apa yang diucapkan oleh Damar tadi. Jika saja Anggita mengikuti apa yang Damar ucapkan pasti dirinya tidak perlu capek-capek membelah kemacetan.


Akhirnya Anggita malam itu memutuskan untuk makan malam bersama Damar sambil mengobrol ringan dan berbincang. Ternyata Anggita adalah perempuan yang sangat menyenangkan, Damar semakin menyukai sosok Anggita begitu sebaliknya. Anggita juga mulai nyaman dengan Damar karena lelaki itu sangat sabar dan lembut.


Sesuai janjinya Damar keesokan harinya menemui Anggita dan mengembalikan KTP milik Anggita, mulai saat itu Anggita dan Damar semakin dekat hingga mereka jatuh cinta lalu memutuskan untuk menjalin hubungan kejenjang yang lebih serius lagi.

__ADS_1


__ADS_2