
Anggita mulai larut ke dalam cerita Fatur, ternyata dunianya selama ini tidak seindah seperti yang Anggita bayangkan. Menjadi anak seorang abdi negara yang mempunyai jabatan tidak akan menjamin kebahagiaan, dari cerita yang didengar oleh Anggita bisa disimpulkan jika Fatur banyak sekali tekanan dari papanya.
Fatur yang dilihatnya sekarang bukanlah Fatur yang dilihat Anggita saat pertama kali bertemu. Kali ini Fatur terlihat sangat rapuh tidak setegar yang ditemuinya pertama kali.
"Aku ingin menceritakan sesuatu kepadamu tentang kehidupanku. Aku harap kamu akan mengingatnya, karena aku nggak akan menceritakannya untuk yang kedua kalinya." Fatur mulai berbicara serius menatap Anggita dengan lekat membuat dirinya penasaran apa yang akan diucapkan oleh Fatur.
"Apa kamu mau mendengarnya?" tanya Fatur saat melihat Anggita hanya terdiam menatapnya tak banyak bicara.
Hanya anggukan kecil yang Anggita lakukan karena dirinya mulai terhipnotis dengan baru saja yang Fatur ucapkan. Senyum simpul terlukis di bibir Fatur saat Anggita menerima permintaannya. Saat ini adalah watu yang tepat bagi Anggita untuk tahu siapa dirinya.
"Anggita. Aku adalah anak dari keluarga yang broken home. Papa dan mamaku bercerai ketika aku SMP, tepat 6 tahun lalu mereka berpisah." Fatur mulai bercerita dengan serius sambil menatap Anggita dengan penuh rasa cinta.
Anggita terdiam dan kaget ketika mendengarnya, ternyata tepat yang Anggita pikirkan jika ada sesuatu yang terjadi antara Fatur dan papanya selama ini. Karena tidak mungkin Fatur akan membenci papanya seperti itu.
"Papaku seorang polisi, jabatannya begitu tinggi. Keluarga kami sangat harmonis dan penuh cinta nggak ada yang kurang padaku. Aku mempunyai orang tua yang baik, perhatian, penuh kasih, keluarga yang sempurna keadaan materi yang luar biasa tanpa kekurangan. Hingga suatu hari semua itu hancur seketika karena seorang wanita lain yang papa hadirkan ke dalan kehidupan kami." eskpresi wajah Fatur mulai sendu dan nada bicaranya mulai terdengar berat.
Tiba-tiba Anggita terdiam sedih menatap Fatur, nanar mata Fatur terlihat mulai berkaca-kaca dan Anggita bisa merasakan bagaimana beratnya Fatur menceritakan masa lalunya. Masa lalu yang membuat dirinya terluka sampai saat ini.
"Suatu hari papaku dipindah tugaskan, dia berhubungan langsung dengan dunia malam. Hampir setiap malam dia keluar nggak pernah ada di rumah karena pekerjaan barunya. Suatu hari ia bertemu dengan wanita malam dan mereka saling jatuh cinta. Mereka berhubungan di belakang mamaku dan sampai suatu hari papa meninggalkan kami karena wanita itu."
Deg, hati Anggita mulai merasakan sedih dan sakit mendengar cerita Fatur. Jadi ini alasan dari semuanya, dari sikap dinginnya, dari sikap ketus dan juteknya, dari sikap introvert dan temperamennya. Anggita merasa tidak bisa menelan ludahnya dan dadanya entah kenapa terasa sangat berat.
Sama halnya dengan Fatur yang selalu sedih jika harus mengingat kejadian semuanya. Bahkan sampai saat ini juga tidak akan pernah bisa melupakan apa yang sudah di perbuat oleh papanya. Luka yang tidak akan pernah hilang sampai kapanpun juga. Luka yang menjadikannya sosok pendiam dan penyendiri.
"Papa mengabaikan kami pergi tanpa pesan. Selama 6 tahun papa nggak pernah menjelaskan kenapa dia pergi, nggak ada kata maaf yang terucap darinya. Papa juga nggak membiayai semua keperluan kami, makan, biaya sekolah hingga mama harus banting tulang menghidupi aku dan kakakku. Mama memulai bisnis ketering kecil-kecilan dan aku mulai ikut taruhan balapan liar di jalanan. Itu aku lakukan hampir setiap malam. Kerasnya hidup sudah aku rasakan selama ini, Anggita," lanjut Fatur terus bercerita mencoba menahan rasa sedihnya dan air mata yang hendak keluar dari matanya.
Anggita sungguh terharu mendengarnya, hatinya terhenyak sedih dan begitu tidak menyangka jika ternyata kehidupan Fatur seperti itu. Ditatapnya wajah Fatur yang kini terlihat sendu dan buliran bening mulai memenuhi pelupuk mata Fatur.
"Selama 6 tahun papa nggak pernah mengirim pesan kepada kami. Mulai saat itu duniaku mulai hancur dan tidak ada harapan lagi. Kejadian ini membuat aku dan Kak Mili terpukul serta merubah kami menjadi sosok yang introvert tapi bedanya aku lebih tempramen dan nggak terkontrol. Sejak saat itu juga papa meninggalkan luka yang dalam bagiku, dan aku mulai membencinya."
__ADS_1
Tanpa disadari air mata jatuh ke pipi Fatur, Anggita tahu bagaimana perasaannya Fatur saat ini. Tidak akan mudah menceritakan kembali masa lalu yang dingin dilupakannya, apalagi telah membuat luka di hatinya.
"Dunia malam, kerasnya hidup sudah tidak asing lagi bagiku, Anggita. Aku sudah kebal dengan keadaan yang selalu dikecewakan. Bahkan nyawa pernah menjadi taruhannya."
Nyawa? Nyawa apa yang Fatur maksud? Anggita semakin penasaran mendengarkan cerita Fatur.
"Selama menjadi joki balap liar, aku sering mengalami kecelakaan. Bahkan di bagian kepala serta telinga yang sangat sering, dan karena itu membuatku mempunyai penyakit vertigo."
Sepertinya Anggita sudah tidak ingin lagi mendengarnya karena membuat hati Anggita sakit, air mata mulai jatuh menetas ke pipi Anggita. Jika Anggita yang ada di posisinya pasti tidak akan pernah bisa setegar Fatur saat ini.
"Kadang aku sering terhambat karena mempunyai penyakit seperti ini, kuliahku serta aktifitas ku harus terjeda karena penyakit vertigo. Dan aku sudah mengalaminya sejak lama."
"Sampai sekarang apa kamu sering merasakannya?" Anggita mulai bertanya karena penasaran.
"Sering. Kalau aku sedang kelelahan, stress karena pelajaran dan masalah yang menimpah ku."
Sekilas Anggita teringat akan Fatur yang masuk ke rumah sakit saat dirinya berada di Batam. Saat itu Fatur masuk ke rumah sakit karena vertigo nya. Apa ada hubungannya dengan dirinya.
"Dua-duanya," jawab Fatur singkat yang saat ini mulai terlihat tenang.
"Apa harus berakhir di rumah sakit?" tanya Anggita yang merasa sangat khawatir dengan keadaan Fatur saat ini.
"Nggak selalu. Yang pasti saat ini aku sudah menemukan obat bagi penyakit yang sedang aku rasakan."
"Apa?" Anggita begitu sangat penasaran.
"Kamu." Fatur mulai menggoda Anggita.
Memang Fatur mempunyai keahlian lain yaitu bisa membuat seorang perempuan menjadi salah tingkah, wajah Anggita seketika memerah karena malu. Rasa gugup dirasakan oleh Anggita saat Fatur menggoda dirinya.
__ADS_1
"Gombal deh." Anggita mencoba memalingkan wajahnya yang memerah karena malu sementara Fatur hanya tertawa ringan melihat sikap Anggita.
"Kamu mau tahu lagi tentangku?" lanjut Fatur mencoba mencairkan suasana yang sedikit kaku.
"Iya," jawab Anggita yang mulai menoleh menatap Fatur.
"Aku nggak suka makan di rumah karena aku lebih sering makan-makanan siap saji. Kalau sarapan aku lebih sering makan roti dengan susu. Makan nasi bisa dihitung karena aku jarang makan di rumah." Fatur kembali mengabsen kebiasaannya agar Anggita mengingat kesukaan dan kebiasaan kekasihnya.
Hari ini Fatur bercerita banyak tentang kehidupannya kepada Anggita, ia tidak ragu lagi untuk menceritakan semua kehidupan pribadinya kepada perempuan yang baru saja menjadi kekasihnya. Mulai dari cerita mama, papa, dan kakaknya. Bagi Fatur saat ini Anggita adalah tempat bersandarnya.
"Sampai kapan kamu memaafkan papamu?" tanya Anggita yang ingin tahu apakah Fatur akan memaafkan papanya.
Mendengar pertanyaan Anggita membuat mimik wajah Fatur sedikit tidak bersahabat. Fatur terdiam beberapa saat menatap Anggita, sungguh ia tidak akan pernah memaafkan papanya jika Anggita ingin tahu.
"Nggak akan pernah, Anggita. Sampai kapanpun aku nggak akan pernah memaafkannya. Rasa sakit yang dia tinggalkan kepadaku terlalu dalam dan membekas bagiku." tegas Fatur menatap Anggita dengan lekat.
"Meskipun dia memohon kepadamu? memberikan semua fasilitas yang jamu mau? Apa kamu nggak akan pernah memaafkannya?" Anggita terus bertanya berharap jika Fatur mau memaafkan papanya.
"Nggak akan pernah!"
Sepertinya pintu maaf bagi papanya sudah tertutup rapat di hati Fatur. Anggita juga tidak bisa menyalahkan Fatur sepenuhnya karena Fatur hanyalah korban dari keegoisan orang tuanya.
"Fatur. Kalau seandainya aku meninggalkanmu dan membuat luka di hatimu, apakah kamu akan membenciku juga seperti kamu membenci papamu?" tanya Anggita yang membuat Fatur keheranan.
Mengapa Anggita berbicara seperti itu? Apakah dirinya berniat untuk meninggalkan Fatur, seperti papanya yang meninggalkan dirinya?
"Kenapa kamu bicara seperti itu Anggita? Apa kamu berniat pergi meninggalkanku?" Fatur balik bertanya menatap Anggita dengan lekat.
"Aku hanya bertanya saja."
__ADS_1
"Dan aku nggak suka kamu bicara seperti itu, karena aku yakin kamu nggak akan pernah meninggalkan aku," ucap Fatur yakin sambil memegang jemari Anggita yang berada tidak jauh dari tangannya.
Anggita tersenyum singkat menatap Fatur dengan penuh rasa cinta, Anggita hanya takut jika suatu hari nanti dirinya akan pergi meninggalkan Fatur. Dan saat itu juga Fatur akan membencinya. Anggita tidak bisa jika Fatur membencinya karena Anggita sudah mulai jatuh cinta kepada Fatur, tapi ia tidak lupa juga jika di hatinya masih ada Damar