Jatuh Cinta Lagi

Jatuh Cinta Lagi
Flashback 5 Tahun Lalu(Pertemuan Anggita Dengan Damar Part 2)


__ADS_3

Anggita menatap sinis Damar yang tersenyum ringan kepadanya. Anggita sedang duduk di bangku terdiam mengantri untuk dipanggil dan dimintai keterangan rasanya ingin sekali cepat pulang dari sini dan tidak mau bertemu dengan Damar lagi.


"Mbak, mereka semua juga bilang kalau mereka perempuan baik-baik sepertimu. Tapi karena keadaan yang memaksa mereka menjadi seperti ini, lagian aku sudah banyak menemui yang seperti kamu," tukas Damar.


Anggita semakin tersinggung dengan ucapan Damar, ingin rasanya Anggita meluapkan emosinya tapi ini bukan tempat yang tepat bagi Anggita memarahi Damar. Jika Anggita marah di sini sama saja semakin membuat masalah yang sangat besar.


"Tapi gue memang bukan perempuan malam! Gue lagi jaga nyokap yang dirawat!" Anggita terus membela dirinya.


Tapi sayang Damar sudah tidak percaya kepada Anggita, walaupun pakaian Anggita tidak sama seseksi dan menantang seperti perempuan yang ada di dalam ruangan itu tetap saja Damar tidak mempercayai Anggita jika dirinya adalah perempuan baik-baik.


"Wah, berarti sama dong alasannya seperti dia." tunjuk Damar kearah perempuan yang sedang duduk diperiksa oleh salah satu temannya.


Seketika kedua bola mata Anggita menoleh mengikuti arah telunjuk Damar pada salah satu perempuan. Ya, perempuan muda yang mempunyai alasan jika dirinya berbuat seperti ini karena ibunya sedang dirawat di rumah sakit dan membutuhkan biaya.


"Membutuhkan biaya buat bunya yang sedang dirawat," tambah Damar lagi dengan nada tegas menatap Anggita begitu lekat.


"Dengar ya. Gue itu bukan perempuan malam seperti yang lo tuduhkan!" tegas Anggita dengan nada sinis tetapi Damar hanya tersenyum ringan dan pergi meninggalkan Anggita tanpa pamit.


"Anggita." seorang polisi memanggil namanya disalah satu meja yang sudah selesai memeriksa perempuan malam.


Anggita menoleh saat namanya dipanggil dan langsung menghampiri polisi tadi dan duduk, polisi itu sudah bersiap-siap mendata dan mengintrogasi Anggita di mejanya. Dengan tatapan dingin terkesan acuh menatap Anggita sikapnya cuek dan masa bodoh seakan tidak menghargai Anggita karena seorang perempuan malam di dalam pikirannya.


"Kamu baru? Aku baru melihat?" tanya polisi ketika memperhatikan wajah Anggita yang sangat asing sekali baginya.


"Baru apa, Pak?" Anggita balik bertanya tidak mengerti.


"Jadi perempuan malam," jelasnya singkat.


Semua sudah menganggap Anggita adalah perempuan malam, dan tidak ada gunanya juga dia menjelaskan karena mereka tetap tidak akan ada yang percaya. Bagaimana caranya Anggita bisa cepat keluar dari tepat ini yang sudah membuatnya tidak nyaman. Sementara Anggita sedang diperiksa oleh salah satu polisi, Damar yang melangkahkan kakinya menuju sebuah meja kerja, dimana di sana ada seorang temannya yang sedang duduk mendata para perempuan malam.


"Siapa dia? Cantik benget, nemu dari mana?" tanya seorang teman baiknya Damar yang bernama Indra yang ternyata sedari tadi telah memperhatikan kedekatan antara Damar dan Anggita.


"Yang mana?" Damar balik bertanya seraya ikut mencari sosok siapa yang Indra maksud.


"Tuh, yang lagi diperiksa sama Pak Ketut," tunjuk Indra kepada Anggita yang saat itu memakai hoodie putih.


"Baru sepertinya," tebak Danar singkat sambil terus memperhatikan Anggita sedari tadi.


"Yakin lo kalau dia perempuan malam? Gue sih ragu kalau dia perempuan malam. Soalnya nggak kaya perempuan malam yang suka gue temui. Jangan-jangan lo salah ambil lagi," kata Indra ragu.


"Masa gue salah ambil? Jangan sampai tertipu sama pakaian dan muka polosnya."


"Bukan begitu. Maksudnya dia bukan perempuan malam, dia hanya datang di waktu yang salah dan jangan-jangan lo salah tangkap orang lagi," jelas Indra.


Damar terdiam menatap Indra dengan lekat, apa benar yang dikatakan oleh Indra? Mana mungkin Damar bisa salah tangkap dan jika memang Anggita bukan perempuan malam untuk apa dia keluar malam-malam? Apa benar yang diucapkan oleh Anggita kepada dirinya bahwa dia sedang mencari makanan karena kelaparan saat menjaga ibunya yang sedang dirawat di rumah sakit samping mini market tempat Damar menangkap Anggita?

__ADS_1


Rasa ragu menghampiri Damar saat ucapan Indra mampu menghipnotisnya, kata-kata Indra terus menghantui pikiran Damar apa memang benar jika dirinya salah menangkap Anggita. Memang Damar sejak awal merasa jika Anggita bukanlah perempuan malam, namun gadis cantik bermata indah itu berkeliaran pada jam yang tidak seharusnya bagi gadis lain pada umumnya.


Damar menghampiri Anggita saat selesai diperiksa, kehadiran Damar tidak digubris oleh Anggita yang sedang duduk termenung dengan pikirannya melayang memikirkan mamanya yang sedang berada di rumah sakit. Malam ini Anggita tidak bisa pulang lebih cepat karena jika dirinya ingin cepat pulang dan bukan perempuan malam seperti yang diucapkan olehnya, Anggita harus mempunyai penjamin untuk menjemputnya pulang. Namun siapa yang akan menjemputnya? Siapa yang akan menjamin dirinya?


"Sudah selesai?" tanya Damar saat duduk di samping Anggita yang terdiam termenung mengabaikan kehadirannya sesaat.


Sadar akan suara Damar membuat Anggita menoleh dengan menatap sinis melihat lelaki yang sudah membuatnya berada di sini. Jika saja bukan karena Damar mungkin Anggita sekarang berada bersama mamanya.


"Gara-gara lo semua urusan jadi kacau!" Anggita mulai marah kepada Damar yang terlihat begitu ramah saat menyapanya.


Sikap Anggita yang tadinya diam dan kebingungan berubah menjadi marah saat Damar menghampirinya, sebenarnya Damar menghampiri Anggita untuk memastikan sekali lagi kepada Anggita tentang keberadaannya di mini market tadi. Tapi sikap Anggita yang mulai emosi membuat Damar menjadi enggan untuk bertanya.


Damar tahu semua ini gara-gara dirinya tapi Damar juga tidak bisa memastikan jika Anggita adalah perempuan baik-baik. Yang ada dipikiran Damar jika Anggita itu adalah perempuan malam.


"Gara-gara lo juga gue nggak bisa pulang buat nemenin nyokap gue! Lo tahu pasti sekarang nyokap gue lagi nyariin gue kemana! Gara-gara lo juga gue harus terjebak sama mereka!" tambah Anggita lagi yang emosinya mulai meluap dengan matanya yang mulai berkaca-kaca seperti hendak menangis.


Melihat air mata yang hendak keluar dari mata indah Anggita membuat Damar merasa sangat bersalah. Mungkin memang benar yang diucapkan oleh Indra jika Anggita bukan perempuan malam, dia adalah perempuan yang datang di waktu yang salah. Damar masih terdiam membiarkan Anggita meluapkan emosinya kepada dirinya.


"Gue nggak bisa pulang sekarang karena harus ada penjamin kalau gue mau pulang. Biar gue bisa membuktikan kalau gue bukan perempuan malam kaya yang lo bayangkan. Sementara gue harus minta tolong siapa? Nyokap gue lagi dirawat sementara bokap gue lagi kerja di luar kota," jelas Anggita lagi yang membuat Damar semakin terdiam membisu dan merasa semakin bersalah seakan tidak bisa memaafkan dirinya.


Tanpa pikir panjang masih dengan masker yang belum dibuka, Damar menghampiri temannya dan meminta agar Anggita dibebaskan tanpa syarat dan Damar yang akan menjadi penjaminnya karena dirinya yang salah karena telah tangkap.


Mendengar dirinya boleh pulang membuat Anggita merasa senang dan lega, akhirnya dirinya bisa kembali menemani mamanya di rumah sakit. Walaupun haru sudah mulai pagi menunjukkan pukul 02:00 AM. Bagaimana caranya Anggita bisa pulang ke rumah sakit?


Sikap baik Damar lagi-lagi mendapatkan penolakan dari Anggita, rasanya walaupun Damar sudah membantunya Anggita tidak serta merta bisa memaafkan Damar begitu saja. Tatapan Anggita begitu sangat tajam menatap Damar, mengapa sikap Damar sekarang menjadi baik kepadanya? Membuat Anggita sangat kesal.


"Nggak perlu, gue bisa sendiri." tolak Anggita dengan nada ketus dan sinis.


"Kamu mau pulang naik apa? Jam segini nggak ada kendaraan."


"Jalan kaki!" jawab Anggita sinis dan Damar hanya tersenyum ringan melihat sikap Anggita yang saat ini mulai membuat Damar menyukainya.


Akhirnya mau tidak mau Anggita diantar oleh Damar tidak ada pilihan lagi karena sudah jam 2 pagi. Selama di dalam mobil Anggita banyak diam saat Damar mengajukan beberapa pertanyaan karena Anggita masih kesal kepada lelaki yang sudah mengantarnya pulang. Semua pertanyaan Damar diabaikan sampai akhirnya Anggita turun hanya ucapan terimakasih yang terlontar dari mulutnya.


"Terimakasih," kata Anggita sambil turun dari mobil patroli Damar tanpa menatapnya hanya menutup pintu mobil.


Anggita terus berjalan masuk ke dalam rumah sakit sementara Damar hanya tersenyum menatapnya. Jadi memang benar jika Anggita sedang menunggu mamanya yang sedang dirawat.


Keesokan harinya tanpa sepengetahuan Anggita, Damar menemui bagian administrasi rumah sakit dimana mamanya Anggita dirawat. Berdasarkan hasil laporan semalam Damar mendapat nama asli mamanya Anggita. Karena rasa ingin tahunya luar biasa membuat Damar memutuskan untuk mencari tahu siapa Anggita sebenarnya.


"Permisi, Mbak. Boleh tanya ruangan pasien yang bernama Ratih Nirmala Sari?" tanya Damar kepada bagian administrasi.


"Sebentar ya, Pak," kata salah satu penjaga bagian administrasi yang langsung mengarah ke komputer dan mencari pasien yang dimaksud oleh Damar.


"Lantai 4 ruangan lavender 2," ucapnya ramah kepada Damar saat mendapatkan nama pasien yang Damar cari.

__ADS_1


"Terimakasih ya." kata terakhir Damar sambil pergi menuju ruangan mamanya Anggita dirawat.


Tanpa membuang waktu dengan cepat Damar menaiki lift ke lantai 4 sesuai yang diucapkan bagian administrasi, Damar berharap jika Anggita juga berada di sana agar dirinya bisa meminta maaf secara langsung.


Sesampainya di lantai 4 Damar mencari ruangan yang dituju, saat bersamaan Damar melihat kamar yang dituju lantai 4 ruangan lavender 2. Damar dengan langkah yang sedikit ragu akhirnya membuka pintu kamar dan melihat ada seorang suster yang hendak keluar dari kamar itu.


"Permisi, Sus. Ny Ratih dirawat di ruangan ini?" tanya Damar ramah menatap suster itu.


"Betul, Pak. Itu yang di pojok kiri tempatnya," jawab suster itu menunjuk ke tempat yang ditutupi tirai berwarna coklat.


"Terimakasih."


"Sama-sama."


Damar melihat ada dua buah tempat yang ditutupi tirai, berarti ruangan ini hanya diisi oleh dua orang pasien saja. Damar membuka tirai yang dituju dan melihat sesosok separuh baya sedang tertidur di atas tempat tidur dengan selang infus yang menempel di tangannya.


Hati Damar merasa iba dan tidak tega, jadi benar Anggita bukan perempuan malam seperti yang dituduhkan olehnya. Anggita harus meninggalkan mamanya sendirian di rumah sakit. Lalu Damar teringat akan Anggita, matanya mencari sosok Anggita yang tidak ada di sana.


Tiba-tiba saja mamanya Anggita terbangun dari tidurnya, dan melihat ada sesosok laki-laki tampan di kamarnya, siapa dia? Begitulah yang ada di pikiran mamanya Anggita. Damar kaget bukan main saat tahu mamanya Anggita terbangun dan langsung menatapnya hati Damar gugup seketika.


"Siang tante," sapa Damar ramah kepada mamanya Anggita dengan nada sedikit gugup.


"Siang, kamu siapa?" tanya mamanya Anggita kepada Damar yang masih terdiam berdiri.


Apa yang harus Damar jawab, saat ini Damar bingung bukan main saat mamanya Anggita bertanya tentang siapa dirinya.


"Aku temannya Anggita," jawab Damar berbohong dengan ekspresi gugup dan sedikit bingung.


"Oh temannya Anggita. Silahkan duduk."


"Iya, terimakasih. Anggita kemana tante?" tanya Damar basa-basi sambil duduk di kursi yang sudah disediakan dari pihak rumah sakit.


"Sedang keluar tadi pamit mau mencari makan siang," jawab mamanya Anggita yang masih memperhatikan sosok wajah tampan lelaki yang mencari putrinya.


"Oh begitu."


"Kamu teman kerja? Sekolah? Atau kuliah?" tanya mamanya Anggita lagi terus memberikan pertanyaan kepada Damar.


Lagi-lagi Damar bingung bukan main saat harus menjawab pertanyaan dari mamanya Anggita, sebisa mungkin Damar harus terlihat meyakinkan jika dirinya adalah temannya Anggita dan jangan sampai Damar memberitahukan tentang kejadian semalam.


"Teman sekolah tante. Aku baru bertemu Anggita lagi semalam," jawab Damar kembali berbohong.


"Oh pantas saja semalam Anggita lama sekali ke mini marketnya ternyata bertemu dengan kamu," ucap mamanya Anggita seraya tersenyum manis.


Deg, Damar menatap lekat mamanya Anggita ternyata Apa yang diucapkan oleh Anggita benar jika dirinya bukan perempuan malam.

__ADS_1


__ADS_2