Jatuh Cinta Lagi

Jatuh Cinta Lagi
Flashback 5 Tahun Lalu(Kebohongan Damar)


__ADS_3

Sepertinya Damar serius akan ucapannya untuk menyuruh Anggita resign menjadi kedi, padahal selama ini Anggita selalu melakukan pekerjaannya dengan baik. Anggita tidak pernah macam-macam atau melakukan hal negatif yang menghancurkan nama baiknya.


Waktu berlalu sudah hampir dua minggu Damar mengabaikannya begitu juga sebaliknya, Anggita tidak mencoba untuk menghubungi kekasihnya karena menurutnya Damar begitu egois tidak mau mengerti akan pekerjaannya.


"Udah baikan sama Damar?" tanya Lara menatap keheranan saat melihat Anggita tersenyum manis saat menerima pesan sewaktu jam pulang kerja.


Selesai membalas pesan dari Fatur, Anggita langsung menoleh menatap Lara yang ada di sampingnya, senyumnya masih merekah terlihat bahagia dengan matanya yang berbinar-binar. Tentu saja itu bukan pesan dari Damar tapi dari seseorang yang membuatnya salah tingkah beberapa waktu terakhir ini.


"Belum," jawab Anggita singkat seraya memasukan ponselnya ke dalam tas selempang.


Lara menatap Anggita dengan lekat sedikit kebingungan, jika sahabatnya belum berbaikan dengan kekasihnya lalu siapa yang membuat Anggita tersenyum bahagia saat mendapatkan pesan?


"Terus kenapa lo senyum-senyum sendiri? Chat dari siapa sampai lo kaya orang gila senyum sendiri?" Lara semakin penasaran mendekati Anggita.


Sepertinya Anggita harus memberitahu Lara tentang Fatur, kedekatan mereka hanya sebatas teman tidak lebih.


"Fatur."


"Anak Batam?" Lara kaget saat ingat sosok Fatur yang mereka temui di Batam.


"Iya," angguk Anggita masih dengan senyuman manisnya.


"Lo hubungan sama dia?" Lara semakin mendekati Anggita dengan mimik wajah semakin terkejut.


"Cuman sebatas teman, nggak ada salahnya kan?"


"Nggak ada sih, jangan sampai Damar salah paham tentang ini." Lara memberitahukan tentang hubungannya dengan Damar yang belum juga membaik.


Mimik wajah Anggita berubah sedikit sendu saat Lara menyinggung soal Damar, bagaimana tidak sedih sampai saat ini Damar belum juga menunjukkan itikad baiknya untuk menghubunginya. Sebenarnya Anggita sangat kecewa apa begitu fatal pilihan yang Anggita buat, apa Damar tidak mengerti akan dirinya.


"Dia nggak akan salah paham. Sampai sekarang aja dia belum ada niat buat chat gue," celetuk Anggita sedikit sedih.


"Kenapa nggak lo yang coba chat dia dan berbaikan, gue yakin kalau dibicarakan secara baik-baik akan ada titik temunya.


Rasanya Anggita sudah sangat malas untuk membahas tentang itu dengan Damar, hasilnya akan tetap sama. Anggita menghela napas saat mengingat jika perselisihan antara dirinya dengan Damar yang selalu dengan topik yang sama.


"Kayanya lebih baik kita masing-masing dulu," kata Anggita dengan nada pasrah.


"Udahan gitu maksud lo?" Lara memperjelas ucapan Anggita dan Anggita membalas pertanyaan Lara hanya dengan Anggukan kepala saja.


"Lo serius?"

__ADS_1


"Backstreet dulu mungkin," jelas Anggita dengan nada terdengar lemas dan sedih menatap Lara dengan tatapan sendu.


Lara tidak dapat bicara apa-apa karena itu adalah privasi antara Anggita dan Damar, yang pasti Lara berharap jika mereka berdua dapat bersama lagi.


Seperti biasa jika Anggita dan Lara dapat shif pagi pasti pulang kerja mereka mampir ke cafe langganannya, hanya untuk mengobrol ringan atau menikmati waktu menjelang senja. Hanya es capuciino dan caramel machiato panas yang menemani kedua gadis cantik yang duduk di bagian luar cafe bernuansa outdoor.


Anggita masih saja sibuk membalas pesan dari Fatur yang sedari tadi terus mengirimkan pesan, dan Lara hanya bisa diam melihat kebahagian kecil Anggita saat ini. Rasanya Lara sedikit berbeda saat ini, tidak biasanya gadis dengan tinggi 165 cm memakai sepatu flat shoes. Lara mengerutkan keningnya keheranan sambil memfokuskan pandangannya kearah sepatu yang Anggita pakai.


Benar yang dilihat oleh Lara jika Anggita memakai sepatu Flat shoes, memang Lara tidak begitu memperhatikannya. Tapi sejak kapan Anggita merubah gaya sepatunya.


"Sejak kapan lo pakai flat shoes?" tanya Lara menatap sepatu Anggita dengan sangat lekat.


Anggita menoleh menatap Lara yang begitu lekat menatap sepatunya, mengapa Lara bisa sadar jika Anggita akhir-akhir ini selalu memakai Flat shoes.


"Baru beberapa hari," jawab Anggita singkat.


"Tumben? Kenapa?"


"Rahasia," jawab Anggita kembali memainkan ponselnya untuk membalas pesan dari Fatur yang tertunda.


"Main rahasia-rahasiaan lo sama gue," Lara mulai kesal dan Anggita hanya tersenyum manis.


Semua itu karena Fatur yang membelikan flat shoes untuknya, sejak pulang dari Batam Anggita mulai terbiasa memakai flat shoes. Bahkan sepatu yang diberikan oleh Fatur disimpan dengan baik, hanya dipakai saat tertentu saja jika Anggita merasakan rindu kepada lelaki asal Batam.


Awalnya Lara ragu jika yang dilihat itu adalah orang yang dikenalnya, namun beberapa kali Lara menegaskan tatapan matanya pada objek yang menarik perhatiannya. Dan benar saja yang dilihat Lara adalah Damar, kekasih sahabatnya sendiri.


Lara kaget bukan main saat Damar datang tidak sendirian melainkan ada seseorang yang berjalan bersisian di sampingnya. Seorang perempuan yang tidak Lara kenal, siapa dia? Tidak biasanya jika Damar jalan berduaan dengan seorang perempuan selain Anggita, karena Damar adalah bukan tipe lelaki yang senang jalan bersama perempuan walaupun sahabatnya.


Damar terlihat begitu bahagia berbincang dengan perempuan berambut panjang, senyumnya merekah begitu juga dengan perempuan yang bersama dengan Damar. Seperti mempunyai hubungan yang spesial antara mereka berdua. Lara tidak mungkin menyembunyikan keberadaan Damar yang jelas-jelas ada di sana. Mau tidak mau Anggita harus mengetahuinya.


"Git," panggil Lara yang kedua bola matanya masih memperhatikan gerak gerik Damar yang sedang mencari tempat duduk.


"Apa," balas Anggita yang fokus menatap ponselnya karena sedang membalas pesan Fatur.


"Lo lihat siapa yang ada di sana." Lara mulai memberitahu Anggita akan keberadaan Damar.


"Siapa?" Anggita mulai menatap Lara dengan lekat.


Saat melihat wajah Lara ada rasa heran di pikiran Anggita, mengapa wajah sahabatnya mendadak terlihat sangat gundah.


"Itu." tunjuk Lara kearah Damar yang sedang duduk bersama dengan Alya menunggu pesanan datang.

__ADS_1


Spontan Anggita mengikuti gerakan telunjuk Lara yang menunjukkan sesuatu, betapa kaget dan terkejutnya Anggita saat telunjuk Lara terhenti tepat pada Damar. Mata Anggita terbelalak seakan tidak percaya jika yang dilihatnya itu adalah kekasihnya yang tengah berduaan dengan seorang perempuan.


Apa Anggita salah melihat? Tapi benar memang kekasihnya Damar dengan seorang perempuan yang tidak dikenalnya. Siapa dia? Anggita bertanya-tanya di dalam hati seraya memperhatikan mereka berdua yang sedang tertawa sambil mengobrol, seakan nyaman sekali Damar bersama perempuan itu.


Dada Anggita sesak seperti kehabisan oksigen sehingga sulit untuk bernapas, amarah di hatinya mulai muncul, pikirannya berantakan. Jadi ini alasan Damar tidak menghubunginya beberapa minggu ini. Tanpa banyak bicara Anggita menelepon Damar yang seharusnya tidak dilakukan olehnya.


Dengan tatapan tajam memperhatikan Damar yang tidak jauh di sana, Anggita mencoba menelepon Damar. Lama sekali bunyi panggilan masuk ponsel Damar yang belum diangkat. Ponsel Damar berbunyi membuat lelaki itu segera mengambilnya dari saku celana.


Damar kaget karena yang dilihatnya adalah panggilan masuk dari Anggita, setelah sekian lama akhirnya Anggita menghubunginya juga. Ada rasa bahagia yang dirasakan oleh Damar karena sangat rindu sekali dengan kekasihnya. Namun saat ini bukan waktu yang tepat karena ada Alya bersamanya. Lama Damar mengangkat telepon membuat Alya begitu penasaran karena Damar hanya melihatnya saja.


"Kenapa nggak diangkat?" tanya Alya penasaran dan menyadarkan Damar yang terlihat mulai gugup.


"Boleh gue angkat?" Damar meminta izin kepada Alya agar tidak tersinggung.


"Angkat aja."


Tatapan Anggita sedari tadi menatap Damar sangat sinis karena lama sekali mengangkatnya, rasa amarah mulai bergejolak di hati Anggita.


"Halo." Damar mengangkat telepon dari Anggita di depan Alya yang sedari tadi menatapnya.


"Halo." suara Anggita mulai terdengar di telinga Damar.


Akhirnya Damar bisa mendengar suara Anggita lagi setelah beberapa minggu mereka tidak berkomunikasi.


"Apa kabar?" tanya Damar yang terdengar kaku dan kikuk karena di depannya ada Alya.


"Kamu dimana?" tanya Anggita tanpa menjawab pertanyaan Damar lebih dulu.


"Diluar," jawab Damar singkat mencoba mengendalikan rasa gugupnya.


"Sama Indra?" tebak Anggita bertanya.


"Iya," jawab Damar berbohong.


Deg, Anggita kaget dan kecewa mendengar kebohongan Damar. Mengapa kekasihnya berbohong kepadanya saat ini, air mata mulai memenuhi pelupuk matanya seakan Anggita menahan rasa amarah. Dan Lara begitu khawatir melihat keadaan Anggita saat ini.


Ada rasa bersalah di hati Lara karena tidak seharusnya juga Lara memberitahukan keberadaan Damar yang bersama dengan seorang perempuan. Tapi Lara merasa jika Anggita berhak tahu.


"Kamu lagi apa?" Damar balik bertanya mencoba memperbaiki hubungannya dengan Anggita.


"Lagi lihat kamu duduk berdua dengan perempuan," jawab Anggita dengan nada tegas.

__ADS_1


Damar kaget bukan main dengan cepat kedua bola matanya menyapu cafe itu dengan teliti, sikap Damar membuat Alya kebingungan mengapa mata Damar melihat kesemua sudut cafe seolah sedang mencari sesuatu.


Tatapan Damar terpaku pada sebuah bangku dimana Anggita sedang duduk bersama dengan Lara sambil menatap dirinya dengan tajam.


__ADS_2