Jatuh Cinta Lagi

Jatuh Cinta Lagi
Flashback 5 Tahun Lalu(Perjodohan Mili dengan Putra)


__ADS_3

Sudah hampir setengah jam lebih Putra menunggu kedatangan Rudi di kantornya. Namun selama itu juga Rudi belum datang, padahal semalam Rudi sendiri yang meminta Putra untuk menemuinya.


Putra Adiyana Sutanto adalah putra dari teman seperjuangannya di sekolah akademi kepolisian dulu. Ternyata Putra kuliah di tempat yang sama dengan Mili. Semua memang sudah direncanakan oleh Rudi sejak lama, karena Rudi dan papanya Putra sudah merencanakan untuk menjodohkan Putra dengan Mili.


Putra sengaja kuliah di tempat yang sama dan masuk di jurusan yang sama juga dengan Mili agar mereka berdua bisa selalu dekat, tanpa Mili tahu jika Putra adalah anak dari sahabat papanya.


"Kamu sudah lama datang?" tanya Rudi sambil menggeser kan teh panas kearah Putra yang duduk di sampingnya.


Wajahnya tampak tenang setenang hati dan kepribadiannya. Putra memang lelaki yang bisa mengontrol emosi dan tenang, sikapnya yang pendiam dan kalem membuat Mili kadang senang berada di sisinya. Mili memang selama ini sudah dekat dengan dekat tanpa ia tahu siapa Putra sebenarnya.


"Sudah, Om," jawab Putra singkat sambil mengambil teh yang diberikan oleh Rudi.


"Bagaimana perkembangan hubunganmu dengan Mili? Apa dia sudah mulai menyukaimu?"


Putra terdiam sesaat sambil menarik napas, sangat sulit baginya untuk bisa mendekati Mili. Dia adalah perempuan yang sangat dingin dan tertutup. Entah apa yang harus diucapkan dan dilaporkan kepada Rudi, karena apa yang terjadi masih tetap sama walaupun Putra sudah bisa mulai dekat dengan Mili.


"Masih sama. Dia bukan tipe perempuan yang mudah di dekati seperti yang aku bayangkan," kata Putra dengan nada pesimis menatap Rudi yang begitu sangat percaya diri jika semua rencananya akan berhasil dengan mudah.


Ada sedikit rasa kecewa di hati Rudi karena tidak sesuai dengan ekspetasinya, tapi di sisi lain Rudi juga senang karena Putra sudah mulai dekat dengan Mili setelah hampir satu tahun setengah mereka satu kelas.


"Aku hampir frustasi mendekatinya karena dia sangat sulit didekati oleh lelaki," tambah Putra lagi mulai bercerita tentang Mili.


Memang mantan istrinya pernah bercerita jika Mili belum mempunyai seseorang yang istimewa di hatinya, seperti seorang kekasih. Berbeda dengan Fatur yang mulai bisa membuka hati dan mencoba memulai hubungan dengan perempuan. Namun Mili sampai saat ini belum bisa mencoba menjalin hubungan dengan makhluk dengan namanya lelaki.

__ADS_1


"Apa dia sudah mempunyai seorang kekasih?"


"Belum. Bahkan dia nggak punya yang seseorang spesial selama ini. Sepertinya dia memang nggak tertarik untuk menjalin suatu hubungan serius."


Mungkin Rudi harus banyak bersabar untuk bisa menjodohkan Putra dengan Mili. Namun yang pasti saat ini Putra sudah berada di dekat putrinya.


"Aku mohon jaga dia, karena dia nggak pernah percaya dengan siapapun," pinta Rudi memohon kepada Putra.


"Om nggak perlu khawatir karena aku akan menjaganya."


"Dan jangan sampai dia tahu tentang kamu."


"Iya, Om. Aku pastikan itu."


Jika saja Putra tidak menyukai Mili mungkin dirinya sudah mundur sejak lama. Sejak papanya menunjukkan foto Mili saat itu juga Putra sudah mulai menyukainya, ternyata Mili adalah teman masa SD nya. Tanpa Mili tahu sampai saat ini Putra adalah lelaki yang pernah diselamatkan oleh Mili, saat Putra dipukuli oleh beberapa teman sekelasnya.


Saat itu Mili dan Putra teman satu kelas namun Mili tidak sadar jika Putra adalah teman masa kecilnya. Luka yang ditinggalkan papanya membuat Mili melupakan semua kejadian indah saat bersama papanya, termasuk bersama Putra. Dan saat Putra tahu jika dirinya akan dijodohkan dengan Mili hatinya senang bukan main. Apalagi saat bisa satu jurusan di tempat kuliah, di sana Putra bisa menjaga Mili dengan baik.


Rasanya Mili sudah hampir dititik rasa penasaran yang luar biasa karena surat yang sering menghampirinya. Semua kata-kata yang ditulis orang misterius membuat pikiran Mili terganggu. Beberapa hari terakhir Mili terlihat banyak melamun, dan mamanya menyadari ada sedikit perubahan kepada putrinya.


"Kamu kenapa, Mil?" tanya Tias Ayu saat melihat Mili melamun membiarkan TV menyala namun pandangannya entah kemana.


Deg, Mili tersadar akan suara Tias Ayu yang menghampiri dirinya. Wajah Mili sedikit gugup saat mamanya duduk di samping Mili dan menatapnya dengan lekat.

__ADS_1


"Kamu sakit?" tanya Tias Ayu sambil memegang kening Mili memastikan suhu tubuh putrinya.


"Nggak, Ma," jawab Mili mencoba tenang meskipun hatinya sedang dilanda pertanyaan besar.


Tias Ayu adalah seorang ibu yang sangat hebat bagi Fatur dan Mili, walaupun ia menghidupi dan membesarkan kedua buah hatinya tidak pernah sedikitpun mengeluh atau Mili melihat mamanya menangis. Mili yakin jika mamanya sering menangis tanpa sepengetahuan dirinya dan Fatur.


"Fatur kemana?" Tias Ayu mencoba percaya dengan apa yang diucapkan oleh Mili dan mengganti pertanyaan tentang keberadaan putranya.


"Keluar dengan Anggita. Besok katanya Anggita mau pulang, jadi dia menemani Anggita untuk hari terakhir di sini."


Tias Ayu kembali menatap Mili dengan lekat dan tatapan Tias Ayu membuat Mili sedikit gugup, apalagi senyum simpul yang terlukis di bibir mamanya membuat Mili mempunyai firasat tidak enak.


"Adikmu sudah mempunyai seseorang yang bisa diajak bercerita dan berbagi keluh kesah. Kamu memang nggak punya seseorang yang bisa kamu ajak berbagi cerita?"


Tepat dugaan Mili ternyata mamanya menyinggung tentang seseorang yang spesial baginya. Mata Mili mulai melirik ke kiri dan ke kana seakan mencari alasan, dan menghindari pertanyaan lebih banyak lagi dari mamanya.


"Lelaki mana lagi yang harus aku percaya, Ma. Apa masih ada lelaki yang bisa aku percaya selain Fatur?"


Mimik wajah Tias Ayu yang tadinya dipenuhi senyuman untuk menggoda putrinya, kini berubah seketika saat mendengar ucapan Mili. Bagai ditusuk pisau Tias Ayu mendengarnya, mengapa Mili tiba-tiba saja berbicara seperti itu?


Terlihat perubahan wajah Mili yang mendadak sendu jika Tias Ayu menyinggung tentang lelaki, karena Mili merasa nyaman dengan keadaannya saat ini. Apalagi keadaan kedua orang tuanya yang membuat Mili enggan untuk menjalin hubungan bersama lelaki.


Rasa trauma itu masih terasa membekas di hati Mili, bagaimana rasanya kehilangan cinta pertamanya, bagaimana rasanya dikhianati dan ditinggalkan begitu saja. Semua masih terasa sangat jelas di pikiran Mili.

__ADS_1


"Sampai kapan kamu akan menutup diri?" tanya Tias Ayu dengan nada lirih menatap putrinya.


Bola mata Mili berubah warna menjadi kemerahan dengan air berwarna bening mulai memenuhi area retinanya, pelupuk matanya lama-kelamaan banyak menampung buliran bening yang disebut air mata. Perasaan Mili saat ini tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, hanya tangisan yang bisa diungkapkan olehnya.


__ADS_2