
Sepertinya hari ini Anggita harus kembali lagi menemui Fatur yang masih berada di rumah sakit, bukan untuk menjawab atas ungkapan perasaan Fatur, bukan juga sengaja untuk menengoknya. Tapi untuk mengembalikan jaket Fatur yang tertinggal saat dipinjam olehnya. Petugas hotel semalam mengantarkan jaket milik Fatur yang tertinggal di tempat laundry, mau tidak mau Anggita harus mengantarkannya kepada Fatur.
Meskipun sebenarnya Anggita enggan untuk bertemu tapi apa boleh buat, Anggita harus bertemu dengan Fatur sekaligus berpamitan jika dirinya akan kembali ke Jakarta besok pagi. Ucapan Fatur kemarin masih membuat Anggita gugup dan kebingungan terlihat mereka berdua tidak banyak bicara saat bertemu.
"Ini jaket lo yang tertinggal. Semalam pegawai hotel mengantarkannya, jadi gue ke sini mau balikin jaket lo," jelas Anggita saat sudah sampai di kamar rawat inap Fatur.
Saat itu kebetulan sekali jika di kamar rawat inap Fatur tidak ada siapa-siapa, Erik baru saja pulang untuk kuliah dan mamanya Fatur belum datang.
Mengapa sikap Fatur saat ini menjadi berbeda tidak seperti biasanya, sedikit kalem dan pendiam ketika Anggita datang.
"Makasih," jawab Fatur singkat sambil mengambil jaket yang diberikan Anggita.
Keduanya kembali terdiam sesaat ada banyak pertanyaan di dalam pikiran Fatur dan Anggita, salah satunya adalah mereka ingin sekali membahas tentang soal kemarin namun sangat malu untuk dimulai.
"Gue sekalian mau pamit sama lo." Anggita memulai pembicaraan setelah mereka beberapa saat terdiam.
"Mau kemana?" tanya Fatur yang mulai panik mendengar Anggita hendak pamit meninggalkannya.
Anggapan Fatur adalah jika Anggita hendak pergi dari kamarnya, namun nyatanya Anggita hendak kembali ke Jakarta. Terlihat dari wajah Anggita begitu enggan untuk memberitahu Fatur karena bagi Anggita sendiri sedikit berat untuk kembali ke Jakarta.
__ADS_1
Jujur Anggita sudah mulai menyukai kebersamaannya bersama Fatur, keberadaan Fatur sangat dirindukan oleh Anggita. Bahkan perasaan sukanya mulai muncul akhir-akhir ini. Tapi Anggita ragu jika mereka berdua sanggup menjalani hubungan jarak jauh atau biasa disebut LDR. Jakarta-Batam bukankah jarak yang dekat, jika mereka rindu ingin bertemu harus menyebrangi lautan luas dan bermil-mil jaraknya.
"Besok gue mau balik ke Jakarta."
Deg, wajah Fatur terdiam membisu terlihat sangat datar dan dingin menatap Anggita. Apa yang baru didengar oleh Fatur membuat dirinya sangat kecewa, apa benar jika Anggita akan kembali besok ke Jakarta? Itu tandanya mereka tidak akan bertemu lagi.
Rasanya saat Anggita datang wajah Fatur terlihat begitu sangat bahagia, namun ketika mendengar besok Anggita akan pulang membuat Fatur kecewa. Senyum di bibirnya hilang seketika dengan wajah datar terkesan dingin, dan Anggita bisa melihat kekecewaan Fatur yang terlukis di wajah tampannya. Mulut Fatur terkunci rapat tidak bicara, berdiam diri sudah melukiskan rasa kekecewaannya kepada Anggita yang pulang mendadak. Sebenarnya bukan pulang mendadak hanya saja dimajukan sehari lebih awal.
"Makasih, ya buat semuanya," sambung Anggita lagi mencoba mengajak Fatur berbicara karena sedari tadi lelaki itu hanya terdiam membisu.
"Iya," jawab Fatur singkat dengan nada terdengar datar tanpa senyum yang terlukis dan tidak menatap Anggita sedikitpun yang berdiri tepat di sampingnya.
"Sampai ketemu lagi, Tur." Anggita pamit karena suasana di sana membuat dirinya mulai tidak nyaman.
Perasaan Anggita sangat gugup saat menatap kedua bola mata Fatur, tatapan matanya tidak seteduh kemarin. Tatapan matanya tidak senyaman dan sedamai kemarin, tatapan mata itu bukanlah tatapan mata yang sangat Anggita sukai.
"Iya," jawab Fatur masih dengan nada dingin dan datar hanya sepatah kata saja.
Langkah kaki Anggita mulai meninggalkan Fatur yang masih terdiam tidak banyak bicara, sebenarnya Anggita ingin sekali berbicara banyak dengan Fatur. Tentang apapun saat dirinya masih ada waktu di Batam. Bukan perpisahan seperti ini, apa Fatur marah kepadanya? Belum sempat Anggita melangkah lebih jauh dari tempat Fatur, tiba-tiba saja suara Fatur menahan langkah kaki Anggita.
__ADS_1
"Lalu bagaimana sama jawaban perasaan gue? Apa lo akan membiarkannya begitu aja?" tanya Fatur masih dengan nada terdengar tegas membuat langkah kaki Anggita terhenti.
Deg, Fatur kembali mempertanyakan tentang pernyataan perasannya yang belum dijawab oleh Anggita. Tubuh Anggita terdiam membeku tanpa menoleh kearah Fatur. Apa yang harus Anggita katakan kepada Fatur tentang jawabannya? Sesaat Anggita terdiam memikirkan jawaban apa yang akan dikatakan olehnya kepada Fatur.
Anggita tidak bisa berbohong jika sebenarnya juga menyukai sosok Fatur yang baru saja dikenalnya beberapa hari ini. Namun Anggita berpikir realistis jika tidak ada hubungan yang awet dalam menjalani LDR. Anggita hanya tidak mau membuang waktu dan energi untuk hubungan yang belum pasti dan sering kandas di tengah jalan.
Walaupun Anggita tahu tidak semua yang menjalani hubungan LDR akan kandas di tegah jalan dan berakhir sia-sia, ada juga beberapa dari mereka yang berhasil namun hanya beberapa persen saja. Alasan Anggita tidak ingin menjalani LDR karena dirinya tidak bisa jauh dari pasangannya. Tubuh Anggita berbalik menatap Fatur yang sedari tadi menunggu jawabannya sambil terus menatap dirinya. Di wajahnya menyiratkan harapan kepada Anggita.
"Gue paling nggak bisa LDR, tapi gue juga nggak bisa bohong kalau gue juga suka sama lo," ucap Anggita mengungkapkan perasannya.
Hati Fatur senang bukan main mendengarnya walaupun ada sisi kecewa namun itu tertutup dengan perasan Anggita yang juga menyukainya. Senyum kini merekah di bibir Fatur saat mendengarnya seperti ada kupu-kupu dan bunga-bunga yang bermekaran di hati Fatur. Wajah tampannya tidak terlihat datar lagi, senyumnya tidak terlihat dingin lagi, tatapannya tidak terlihat sinis lagi kepadanya.
Jujur Anggita sangat bahagia melihat semua perubahan di wajah Fatur membuat hatinya tenang, dan Anggita juga tidak berbohong tentang perasannya kepada Fatur. Selama ini dirinya merasakan bahagia saat bersama dengan Fatur.
"Jadi lo nggak mau coba LDR?" tanya Fatur meyakinkan Anggita yang terlihat sangat ragu.
Gadis itu menundukkan kepalanya seraya berpikir akan pertanyaan Fatur. Sejurus kemudian kembali menatap Fatur dengan lekat entah mengapa bayangan saat-saat bersama Fatur kembali terulang, terlihat secara nyata di pikiran Anggita.
"Gue tahu kita jauh bermil-mil jaraknya, Batam-Jakarta bukanlah jarak dekat yang bisa ditempuh dalam setengah jam. Aku akan berusaha membuat hubungan ini tidak sia-sia." Fatur mencoba meyakinkan Anggita agar dirinya berubah pikiran.
__ADS_1
Jujur Anggita sangat bingung apa yang harus dilakukannya saat ini, dirinya juga tidak mau membuang waktu dan kesempatan bersama dengan Fatur.