Jatuh Cinta Lagi

Jatuh Cinta Lagi
Flashback 5 Tahun Lalu(Kedekatan Antara Damar Dan Alya)


__ADS_3

JAKARTA.


Sepertinya Alya sudah mulai mengganggu pikiran Damar, meskipun tidak bisa dipungkiri jika Alya adalah perempuan yang sangat menarik. Pagi ini Damar melakukan lari pagi diwaktu luangnya, seperti biasa Gelora Bung Karno(GBU) menjadi pilihan Damar untuk menguras keringat lelaki berwajah tampan. Biasanya Anggita selalu ikut menemani Damar setiap kali Damar ingin lari, tapi kali ini lain ceritanya Damar harus sendirian tanpa Anggita.


Ponsel Damar berbunyi saat dirinya selesai berlari 2 putaran GBU. Ternyata itu dari Panca teman kerjanya, dengan cepat Damar mengambil ponsel yang berada di tas pocket miliknya. Damar melihat nama Panca dengan cepat mengangkatnya.


"Halo, Ca. Ada apa?" tanya Damar yang selesai meneguk air mineralnya.


"Lo dimana?" tanya Panca terdengar di ujung telepon sana.


"GBK."


"Kapan pulang?" Panca kembali bertanya.


"Jam 9 mungkin, kenapa?" Damar balik bertanya karena biasanya jika Damar sedang libur Panca selalu saja minta menukar jadwal libur Damar.


"Gue mau ajak lo jalan," jawab Panca singkat.


Seketika Damar terdiam sambil mengerutkan keningnya, tumben sekali Panca mau mengajaknya jalan.


"Jalan! Lo mau ajak gue jalan? Tumben?" Damar keheranan dengan ajakan Panca yang diluar nalarnya.


"Buka gue sih tapi sepupu Alya."


Deg, mendengar nama Alya membuat Damar tersenyum ringan. Mengapa Damar merasa sangat senang saat Alya mengajaknya bertemu, apa Alya juga merasakan apa yang Damar rasakan? Yang pasti untuk beberapa hari ini Damar akan lupa dengan sosok Anggita.


"Bukannya lo sama dia udah kenalan semalam?" Panca mencoba memastikan untuk Damar mengingatnya.


"Iya, inget gue. Kenapa dia ajak jalan gue? Memangnya lo nggak bisa?"


"Gue sibuk. Lo hari ini off jadi gue mau minta tolong sama lo," pinta Panca berharap dan penuh harapan.


Bukan hanya itu saja tapi Panca membantu Alya agar bisa dekat dengan Damar karena sepupunya itu mulai menyukai Damar.

__ADS_1


"Bukannya masih ada yang lain. Ada Indra, Rehan," ucap Damar menyebutkan temannya satu persatu.


"Katanya dia lebih nyaman sama lo. Jadi lo mau bantu gue, kan?" tanya Panca lagi mencoba merayu Damar yang sebenarnya sudah menerima ajakan Panca.


Tidak ada jawaban dari Damar beberapa saat karena Damar sedang berpikir apakan yang akan dilakukannya itu akan menyebabkan masalah? Mengingat hubungannya dengan Anggita sedang tidak baik-baik saja. Tapi jujur Damar merasa sangat kesepian sejak dirinya dan Anggita tidak saling berkomunikasi. Damar juga butuh seseorang pengganti Anggita.


"Woi! Lama banget sih mikirnya," kata Panca mengagetkan Damar saat tidak terdengar suara Damar dari ponselnya.


Sontak Damar kaget bukan main ketika Panca mengagetkannya. Dan tidak ada pilihan lain selain menerimanya.


"Iya, Ok. Gue mau." Damar mengiyakan ajakan Panca.


"Nah gitu dong, lama banget si tinggal jawab juga. Mau jemput jam berapa?"


"Jam 11 ya."


"Ok. Gue kasih tahu Alya," kata Panca yang terdengar bahagia di ujung telepon sana.


"Sampai ketemu nanti." Damar mematikan sakuran ponselnya secara sepihak.


Memakai kaos putih celana jeans hitam Damar terlihat lebih santai, apalagi sepatu bermerk berwarna senada dengan kaosnya membuat Damar terlihat semakin cool.


Begitu juga dengan Alya yang sangat cantik dengan baju dress di atas lutut berwarna coklat, sangat anggun berhasil membuat Damar terpesona.


"Kita mau kemana?" tanya Damar sambil menyetir saat barus saja menjemput Alya.


"Terserah kamu," jawab Alya yang duduk di samping Damar sesekali melempar senyum manisnya.


"Loh kok terserah aku? Kamu mau kemana?"


Alya terdiam sambil berpikir sejenak mau kemana mereka pergi. Bagi Alya tidak penting kemana mereka akan pergi, yang pasti bersama Damar membuat Alya sangat bahagia. Jantung Alya sedari tadi tidak karuan karena bisa duduk bersebelahan dengan lelaki yang sudah membuat dirinya tidak bisa tidur semalaman.


"Bagaimana kalau kita nonton?" usul Alya kembali menatap Damar yang belum mengalihkan pandangannya dari lelaki itu.

__ADS_1


"Nonton di bioskop?" Alya memperjelas ucapan Damar.


"Iya, masa mau nonton layar tancap," seru Damar menggoda Alya.


Entah mengapa tawa Alya kembali membuat hati Damar terguncang dan bimbang, tawa itu berhasil melupakan sosok Anggita perempuan yang sudah berada di samping Damar satu tahun ini. Apa yang sedang Damar rasakan saat ini kepada Alya? Mengapa setiap kali menatap Alya jantung Damar tidak karuan, apalagi sampai menatap matanya.


"Boleh. Mau nonton film apa?" tanya Alya mengiyakan ajakan Damar.


"Terserah kamu," jawab Damar singkat sambil menatap ke depan sana.


"Aku nggak tahu terserah kamu saja, asalkan pergi bersamamu sudah cukup senang buatku," ucap Alya yang berhasil membuat Damar kembali terdiam.


Ucapan Alya membuat Damar kaget dan langsung menatap gadis yang duduk di sampingnya, apa maksud ucapan Alya tadi kepada Damar? Apa maksudnya, apa Alya sudah mulai menyukai Damar? Damar hanya terdiam menatap Alya yang hanya tersenyum manis penuh arti sambil pandangannya menatap ke luar jendela kaca mobil.


Anggita sepertinya sudah mulai terbiasa tanpa kehadiran Damar, terbukti saat ini dirinya lebih intens berhubungan dengan Fatur. Sudah seperti orang minum obat Anggita dan Fatur memberi kabar lewat telepon. Memang tidak bisa dipungkiri jika Anggita juga sebenarnya menyukai Fatur saat berada di Batam.


Dan tekad Fatur sudah sangat bulat untuk menemui Anggita di Jakarta saat liburan kuliah nanti. Sejak itu juga Fatur terus merayu Erik sahabatnya agar bisa ikut ke rumahnya. Sejak awal Erik terus menolak permintaan Fatur mentah-mentah karena takut sahabatnya terluka.


"Lo yakin mau ketemu sama Anggita?" tanya Erik terus memastikan Fatur.


"Yakinlah, masa nggak yakin," ucap Fatur dengan optimis.


"Kalau misalnya dia udah punya pacar gimana?"


Pertanyaan Erik membuat Fatur terdiam dan terlihat jelas perubahan wajah Fatur yang mendadak dingin menatapnya. Tidak salah jika Erik berbicara seperti itu mengingat Anggita adalah gadis cantik yang sangat disukai kaum lelaki. Ucapan Erik membuat Fatur sangat kesal, mengapa Erik menghancurkan mood paginya seperti ini.


"Kenapa lo bicara kaya gitu?" tanya Fatur dengan nada terdengar sinis.


"Gue cuma tanya, apa salah?"


"Kalau lo nggak mau gue ikut sama lo ke Jakarta, seenggaknya jangan bicara kaya gitu." Fatur mulai tidak terima dengan sikap Erik.


"Bukannya gue nggak mau lo ikut, tapi gue takut perjalanan lo sia-sia." Erik mencoba menjelaskan agar Fatur tidak salah sangka.

__ADS_1


"Karena takut dia udah punya pacar? Kalau dia udah punya pacar nggak mungkin dia mau teleponan sama gue, kan?"


Memang benar kata orang jika seseorang sedang jatuh cinta pikirannya sedang tidak stabil dan terlihat sangat bodoh. Itu juga yang sedang Fatur alami saat ini.


__ADS_2