
Siang itu Mili mendapatkan telepon dari papanya jika ingin bertemu dengannya. Awalnya gadis berambut panjang lurus di bawah pundak itu sangat enggan menemui papanya pasca kedatangannya ke rumah. Namun ada sesuatu yang harus papanya tahu tentang dirinya dan Fatur selama ini, tepatnya selama papanya pergi meninggalkannya. Suatu perasaan dengan luka yang mendalam yang tak pernah terungkapkan selama ini kepada papanya, pertanyaan demi pertanyaan yang Mili kumpulkan selama papanya pergi, dan alasan papanya kembali lagi setelah mereka bertiga merasa bahagia tanpa kehadirannya. Meskipun papanya sudah membuat luka di hati Mili, tapi putri sulungnya tidak bisa berbohong jika dirinya sering merindukan sosok papanya.
"Kamu apa kabar?" tanya papanya saat mereka berdua memutuskan bertemu di rumah makan.
Sepertinya setelah gagal bertemu dengan Fatur, akhirnya Rudi mencoba mendekati Mili karena Rudi tahu jika Mili sangat dekat dengannya. Dan siapa tahu dari Mili juga Rudi bisa mendapatkan informasi tentang siapa perempuan yang bersama dengan Fatur tadi.
"Baik, Pa," jawab Mili agak gugup dan kaku yang duduk berhadapan dengan papanya.
Mereka berdua duduk saling berhadapan dan Mili terlihat begitu sangat gugup saat bertemu dengan papanya kembali setelah kurang lebih 6 tahun lamanya. 6 tahun bukanlah waktu yang sebentar bagi Mili, selama itu mungkin dirinya bisa mendapatkan kasih sayang yang lebih dari papanya. Hati Mili campur aduk tidak karuan, perasaannya membatin jika dirinya mengingat masa-masa itu. Masa dimana papanya meninggalkannya begitu saja tanpa kabar berita. Dan kini Mili harus bertemu lagi dengan orang yang sudah membuat dirinya patah hati dan terluka hebat.
"Bagaimana kuliahnya?" tanya papanya lagi terus menatap Mili yang sedari tadi menundukkan kepalanya menyembunyikan rasa sedih dari papanya.
"Alhamdulillah, Pa. Baik-baik saja."
"Papa dengar kamu selalu mendapat nilai terbaik di atas rata-rata?" papanya mencoba mencairkan suasana dengan mencari berbagai topik pembicaraan.
Ya, saat ini adalah waktunya bagi Rudi bertanya tentang putri sulungnya. Bagaimana dirinya selama ini hidup tanpa sosok seorang papa. Tidak perlu Rudi tanya, kehidupan Mili dan Fatur tidak baik-baik saja selama ditinggalkan olehnya.
"Iya, Pa. Alhamdulillah." Mili hanya menjawab pertanyaan papanya begitu sangat singkat dengan mimik wajah datar terkesan dingin.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Fatur? Apa dia masih seperti dulu?"
"Masih, Pa. Fatur masih seperti dulu." Mendadak suara Mili sedikit parau saat mulai bercerita masa lalunya yang sebenarnya ingin sekali dilupakannya.
"Papa minta maaf sama kamu..." papanya mencoba menyelesaikan ucapannya namun Mili lebih dulu memotong pembicaraannya.
"Sebenarnya Papa untuk apa datang kembali ke dalam kehidupan kami? Kehadiran Papa bagiku dan Fatur hanya membuat luka yang seharusnya ingin kami lupakan seumur hidup," tambah Mili yang kini mulai menatap wajah papanya.
Mata Mili terlihat sangat berkaca-kaca dan memerah, buliran berwarna putih memenuhi bola matanya dan menumpuk di pelupuk matanya. Terlihat jelas oleh Rudi jika putrinya itu sedang menahan air mata yang hendak turun ke pipinya.
Ucapan Mili membuat Rudi sangat sedih dan sakit hati, mengapa ucapan putrinya sangat menusuk ke hatinya dan membuat Rudi sedikit kesulitan bernapas. Rudi merasa bersalah atas apa yang pernah dilakukannya, meninggalkan Mili dan Fatur yang dalam situasi masih sangat membutuhkan kasih sayang dan biaya.
"Setiap hari aku dan Fatur selalu menanti kedatangan mu. Setiap hari kami sangat merindukanmu berharap datang tiba-tiba menemui kami, setiap hari aku berdoa agar Papa kembali dan selalu menunggumu untuk pulang dan berkumpul bersama kami lagi. Tapi kamu tidak pernah kembali, lagi." ungkapan perasaan Mili membuat bola mata papanya berkaca-kaca.
Rasa sakit yang Mili rasakan selama ini bisa dirasakan oleh Rudi lewat pengakuan perasaan Putrinya. Mungkin ini salah satu alasan Fatur tidak mau memaafkannya dan sangat membencinya. Kesalahan fatal yang sudah dibuat oleh Rudi tidak pernah bisa termaafkan oleh Fatur.
"Apa Papa tahu, kami sangat merindukanmu. Aku dan Fatur sangat membutuhkanmu. Fatur begitu frustasi sampai dia harus banting tulang menggantikan mu untuk biaya kuliah yang belum tercukupi, sampai dia sering kecelakaan yang membuat luka di kepalanya. Dan akhirnya gara-gara itu dia mempunyai penyakit vertigo," papar Mili menceritakan kisah Fatur sambil terus berurai air mata yang mulai jatuh ke pipinya.
Jahat, itulah yang melekat pada Rudi selama ini karena selama dirinya meninggalkan kedua buah hatinya ia tidak pernah mengirimkan uang sepeserpun bagi Fatur dan Mili. Tangis Mili berhasil membuat Rudi ikut menangis mendengar cerita kedua buah hatinya.
__ADS_1
"Fatur menjadi pribadi yang intovert. Dia menjadi pribadi yang pemarah, penyendiri, tertutup, dingin, serius, tempramen dan tegas semua itu karena Papa!"
Separah itukah Fatur? Jika memang iya untuk apa dirinya datang kembali ke dalam kehidupan kedua buah hatinya jika perasaan dan mental mereka sudah hancur berantakan. Saat ini Rudi adalah tersangka untuk masalah dan kesedihan yang sudah Fatur dan Mili lalui. Bagaiman Rudi bisa memperbaiki semuanya? Dari mana dirinya akan memulai semua itu jika semua sudah terlambat baginya.
"Apa Papa nggak pernah merindukanku dan Fatur? Apa Papa nggak pernah terpikirkan tentang aku dan Fatur? Bagaimana perasaan aku dan Fatur selama ini? Apa Papa pernah berpikir bagaimana hancurnya kami saat kamu pergi? Karena keegoisan mu saat itu juga kamu telah mengorbankan aku dan Fatur!" ucap Mili dengan nada sedikit meninggi dan tegas meluapkan emosinya yang selama ini tersimpan di relung hatinya paling dalam.
"Papa tahu, aku dan Fatur sangat terpuruk. Hatiku dan Fatur hancur. Aku dan Fatur harus menahan gunjingan tetangga dan teman-teman kami karena mu." Mili terus bicara tiada hentinya seakan ini adalah kesempatan terakhirnya untuk bicara kepada papanya.
Kejadian itu tidak akan pernah Mili lupakan seumur hidupnya, bagi Mili semenjak papanya pergi meninggalkan dirinya seketika dunia miliknya hancur seketika. Kehilangan cinta pertamanya, kehilangan seseorang yang seharusnya menjaga mama dan dirinya, seseorang yang seharusnya menjadi sandaran hatinya. Hanya luka dan rasa sakit hati yang tidak akan pernah hilang sampai kapanpun juga.
"Apa Papa pernah memikirkan perasaan aku dan Fatur saat Papa meninggalkan kami?"
Papanya hanya bisa terdiam membisu mendengarkan semua luapan emosi dan isi hati Mili kepadanya selama ini. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.
"Dan sekarang Papa ingin bertemu kami untuk bertanya bagaimana kabar kami? Aku akan jawab, Pa. Kalau aku dan Fatur selama ini nggak baik-baik saja, karena hati kami selama ini terluka karena mu," tambah Mili lagi menuntaskan ucapan yang mengganjal selama ini.
Deg, bagai ditusuk pisau belati bermata tajam hati Rudi mendengar ucapan putri sulungnya. Hatinya menangis seakan terluka, napasnya terasa mulai berat dan sesak saat Mili terus mengungkapkan perasaan yang terpendamnya selama ini.
"Sebenarnya apa yang Papa cari selama ini? Kebahagiaan, kan? Bukannya selama ini Papa dan Mama menantikan lahirnya aku dan Fatur saat kalian menikah? Bukannya Papa bahagia saat aku dan Fatur tumbuh besar dan sukses? Apalagi yang Papa cari selama ini? Kebahagian seperti apa yang Papa cari? Apa aku dan Fatur tidak cukup membawa kebahagiaan untukmu, Pa? Sehingga kamu meninggalkan kami?"
__ADS_1
Amarah dan luapan emosi Mili membuat papanya semakin terluka, kebahagian apa yang sebenarnya yang dicari papanya selama ini?