Jatuh Cinta Lagi

Jatuh Cinta Lagi
Flashback 5 Tahun Lalu(Mulai Curiga)


__ADS_3

Sedari tadi kedua bola matanya terpaku pada satu subjek, yaitu wajah Fatur yang terlihat begitu pucat yang masih tertidur pulas pasca jatuh secara tiba-tiba. Karyawan cafe dan beberapa pengunjung cafe membantu Fatur untuk memindahkan ke tempat duduk yang lebih sepi di belakang.


Entah apa yang sedang terjadi kepada Fatur saat ini membuat Anggita sangat khawatir, karena sejak bersamanya lelaki itu biasa saja tidak ada keluhan sakit atau yang lain. Jujur Anggita begitu panik melihat keadaan Fatur saat ini yang masih juga belum sadar dari pingsannya. Ingin rasanya Anggita cepat melihat kedua bola mata indah Fatur terbuka secara perlahan, mata indahnya mengeluarkan air berwarna bening yang lama kelamaan jatuh menelusuri pipinya.


Fatur mencoba membuka mata lebih lama namun sepertinya rasa sakit kepala membuatnya kembali menutup matanya. Wajahnya menahan rasa sakit yang luar biasa, melihat ekspresi wajah Fatur yang menahan sakit membuat Anggita semakin khawatir.


"Fatur. Lo udah sadar? Lo kenapa? Lo sakit? Lo baik-baik aja, kan? Mau gue bawa ke rumah sakit?" Anggita terus menghujani Fatur dengan beberapa pertanyaan membuat Fatur merasa risih.


"Pertanyaan lo banyak banget sih, sampai gue bingung mau jawab yang mana dulu," ucap Fatur yang matanya masih terpejam menahan rasa sakit dengan suara sedikit bergetar dan terdengar parau.


Bagaimana Anggita tidak panik karena Fatur tiba-tiba saja pingsan tanpa sebab saat bersamanya.


"Gue tuh panik. Tiba-tiba aja lo pingsan di depan gue tanpa sebab."


"Tapi satu-satu lo tanya gue. Jangan borongan gitu."


Mengapa Fatur terkesan begitu santai padahal Anggita begitu sangat panik dibuatnya, tapi kali ini Fatur seakan menyembunyikan sesuatu dari Anggita.


"Lo tuh, ya! Tinggal dijawab pertanyaan gue." Anggita terlihat mulai kesal dan Fatur mencoba tersenyum ringan meskipun sedang merasakan sakit di kepalanya.


Bagaimanapun juga Anggita tidak boleh tahu jika penyakit vertigo Fatur sedang kumat. Jalan satu-satunya adalah Fatur harus segera pulang agar keadaanya tidak tambah parah dan merepotkan Anggita.


"Gue baik-baik aja, kok. Lo nggak perlu khawatir." Fatur mencoba menenangkan dan meyakinkan Anggita dengan ucapannya.


Meskipun wajah Fatur tidak bisa berbohong karena masih terlihat pucat dan keringat yang tiba-tiba saka keluar di dahinya. Fatur mencoba bangkit dan berusaha untuk duduk di samping Anggita. Gadis itu mencoba membantu Fatur yang masih terlihat menahan rasa sakitnya.

__ADS_1


"Lo nggak usah bohong sama gue. Lo lagi sakit?" tanya Anggita saat Fatur sudah duduk tepat di sampingnya.


Senyum simpul selalu terlukis di bibir Fatur untuk Anggita, sampai kapanpun juga Fatur tidak akan pernah memberitahu penyakitnya kepada orang yang baru dikenalnya.


"Serius, gue. Gue nggak kenapa-kenapa tadi kayanya gue lapar belum makan." Fatur terus mencoba menyakinkan Anggita yang masih panik dibuatnya.


Kini Anggita mulai menaruh rasa curiga kepada Fatur, karena sedari tadi mereka berdua begitu menikmati makanan yang dijual di pinggir jalan. Jadi mana mungkin Fatur bilang jika dirinya lapar dan belum makan. Apa sebenarnya yang sedang ditutupi oleh lelaki itu.


"Lo bohong sama gue," tandas Anggita tidak percaya menatap Fatur dengan apa yang diucapkan lelaki itu kepadanya.


"Gue serius. Gue cuma lagi nggak enak badan karena semalam kehujanan terus gue tidur di bawah." Fatur terus meyakinkan Anggita dengan menyambungkan kejadian-kejadian semalam.


Apa yang diucapkan oleh Fatur memang ada benarnya karena semalam sepulang dari diskotik mereka berdua terguyur air hujan yang sangat deras. Anggita mulai sedikit percaya dengan apa yang diucapkan oleh Fatur kepadanya, meskipun Anggita tidak percaya sepenuhnya karena ada yang janggal dari Fatur.


"Nggak. Gue nggak bohong sama lo, janji."


Mengapa Anggita begitu sangat mengkhawatirkan Fatur? Padahal dirinya baru saja mengenal Fatur tapi mengapa ia begitu khawatir kepada lelaki penyuka makanan Jung food. Di sisi lain Fatur begitu bahagia karena Anggita terlihat sangat khawatir kepadanya, apa Anggita mempunyai perasaan yang sama seperti Fatur?


"Kenapa lo khawatir banget sama gue? Lo takut kalau gue kenapa-kenapa?" tanya Fatur yang kembali mulai menggoda Anggita.


Mendadak wajah cantik Anggita kembali memerah lagi, seperti yang sudah-sudah jika Fatur menggodanya dan mengetahui bagaimana perasaan Anggita yang mulai peduli kepada Fatur. Hanya dengan cara seperti ini Fatur bisa mengalihkan perhatian dan pembicaraan Anggita kepadanya.


"Ng-ng-ng-ngak..." Anggita terbata-bata mulai gugup dibuatnya oleh pertanyaan Fatur.


Mengapa Anggita menjadi kaku dan kikuk, rasa gugup menyelimutinya kali ini. Dan mengapa juga Anggita selalu terlihat bodoh saat menyembunyikan perasaannya untuk Fatur.

__ADS_1


"Kenapa lo begitu panik sama gue?" tanya Fatur terus menatap Anggita dan menggodanya tiada henti.


"Karena gue takut disalahin sama Bokap lo," jawab Anggita singkat yang membuat Fatur tertawa ringan melihat tingkah lucu Anggita.


"Sorry ya, Git. Gue harus pulang dan kayanya gue nggak bisa anterin lo pulang, lo bisa pulang sendirian?"


Jujur Anggita merasa kecewa karena tidak bisa bersama Fatur lagi, wajah cantiknya mendadak sendu dan terlihat dingin. Untuk apa juga Anggita marah karena Fatur belum juga pulang ke rumahnya sejak semalam.


"Gue bisa pulang sendirian, kok. Lo tenang aja." Anggita mencoba meyakinkan Fatur.


Lega rasanya Fatur mendengar ucapan Anggita walaupun sebenarnya ada sedikit rasa khawatir membiarkan Anggita pergi sendirian. Entah mengapa Fatur selalu ingin menjaga dan melindungi Anggita selama gadis itu berada di sampingnya.


"Minta nomor ponsel lo." pinta Fatur sambil mengulurkan tangannya seakan meminta ponsel milik Anggita.


"Buat apa?" tanya Anggita kaget menatap Fatur.


"Biar gue tahu kalau lo sampai hotel dengan selamat, dan kalau ada apa-apa di jalan lo bisa telepon gue."


Mau tidak mau Anggita mengikuti permintaan Fatur, namun belum sempat Anggita memberikan nomor ponselnya kepada Fatur tiba-tiba saja lelaki itu merintih kesakitan. Anggita melihat Fatur kembali memegang kepalanya menahan rasa sakit, keringat kembali keluar dari dahi Fatur.


"Fatur! Lo kenapa lagi?" tanya Anggita memperhatikan wajah Fatur dengan seksama.


Fatur tidak menjawab sama sekali, kepalanya seakan berputar semakin hebat dan pandangannya sedikit kabur serta mual dirasakan oleh Fatur. Fatur hanya berharap jika tidak kembali pingsan dan jangan sampai Anggita tahu jika vertigo-nya sedang kumat.


Naas tanpa banyak bicara Fatur kembali jatuh pingsan dan tergeletak di atas sofa. Melihat Fatur yang kembali pingsan membuat Anggita semakin ketakutan, dan akhirnya Anggita memutuskan untuk membawa Fatur ke rumah sakit agar cepat ditangani oleh dokter di sana. Anggita hanya berharap jika Fatur akan baik-baik saja dan tidak terjadi apa-apa.

__ADS_1


__ADS_2