
Entah mengapa Anggita bisa merasakan kekecewaan Fatur kepada papanya, walupun sebenarnya Anggita tidak tahu apa inti permasalahannya. Yang Anggita tahu adalah bahwa Fatur sangat terluka akan sikap papanya. Sedari tadi Anggita terus menatap Fatur dengan lekat, amarah, emosi begitu terlihat sangat nyata.
"Fatur lebih baik sekarang kita kembali ke kamar," pinta Anggita mencoba menenangkan Fatur yang semakin emosi.
Detak jantung dan napas Fatur masih belum beraturan, apalagi tatapan matanya masih menajamkan menghardik papanya. Apa yang Fatur ucapkan bukanlah main-main, itu adalah ucapan nyata yang ingin sekali dilakukan olehnya sejak lama.
"Iy, Tur. Kita balik ke kamar, lo masih sakit," sambung Erik mencoba menenangkan Fatur dan membujuknya untuk mengikuti ucapan Anggita.
"Jangan pernah dekati Anggita lagi! Atau hanya bertanya tentang aku kepadanya, jangan pernah ikut campur tentang urusan pribadiku lagi. Paham!" tegas Fatur sambil pergi meninggalkan papanya yang masih duduk sendirian.
Melihat kepergian Fatur Anggita mengikutinya dari belakang disusul oleh Erik sahabatnya. Air mata Fatur menetas saat melangkahkan kakinya menuju kamar rawat inapnya, sekuat tenaga Fatur bergelut dengan perasaan dan emosinya agar tidak pecah di depan Anggita karena Fatur tidak ingin Anggita tahu saat ini semua tentangnya.
Tiba-tiba saja kepala Fatur kembali mengalami sakit yang luar biasa, langkah kakinya terhenti dan tangan kanannya memegang kepala matanya terpejam karena menahan sakit. Anggita dan Erik yang melihatnya kembali panik, segera mereka berdua menghampiri Fatur yang jalan lebih dulu di depan.
"Fatur!" teriak Anggita dan Erik secara bersamaan menghampiri Fatur yang sedikit membungkukkan tubuhnya karena menahan sakit.
"Lo kenapa lagi?" tanya Erik memegang kedua pundak Fatur berusaha menatap wajahnya yang tidak begitu terlihat jelas.
Tidak ada jawaban dari Fatur karena dirinya sedang merasakan sakit kepala yang luar biasa.
"Kenapa juga lo harus ke kantin? Kenapa nggak diam di kamar?" sela Anggita yang terlihat panik memegang tangan kanan Fatur yang sedang memegang kepalanya.
Sebenarnya Fatur sudah sangat kesal kepada Anggita, sejak awal Fatur sudah bilang jangan pernah dekat dan mau berbicara dengan papanya. Namun sekarang Anggita melupakan apa yang Fatur ucapakan kepadanya.
__ADS_1
"Gue udah bilang sama lo jangan deket sama Bokap gue!" bentak Fatur melepaskan tangannya yang sedari tadi memegang kepalanya, dan hasilnya tangan Anggita ikut terhempas oleh Fatur.
Deg, bentakan Fatur membuat Anggita kaget dan menggema di lorong rumah sakit, untung saja keadaan sangat sepi hanya mereka bertiga. Mengapa sikap Fatur menjadi kasar seperti ini? Sangat berbeda dengan Fatur yang dirinya kenal selalu menggodanya. Bagi Erik melihat sikap Fatur seperti ini sudah paham, karena setiap kali Fatur membahas soal papanya emosinya akan meluap-luap.
Kecewa, sedih itu yang dirasakan oleh Anggita. Entah mengapa bentakan Fatur membuat bola matanya berkaca-kaca dan dadanya terasa sesak, padahal jika oran lain atau lelaki yang pernah dikenalnya membentak dirinya tidak membuat Anggita sampai seperti ini. Tapi kali ini bentakan Fatur membuat Anggita sakit hati.
"Tur. Apaan sih lo marah-marah nggak jelas," celetuk Erik mencoba menghentikan rasa kesal Fatur kepada Anggita dan perempuan itu hanya menundukkan kepalanya menyembunyikan air mata yang mulai memenuhi pelupuk matanya.
Fatur hanya terdiam saat Erik berbicara seakan Fatur tersadar atas apa yang baru saja diucapkannya. Rasa menyesal kini menyelimuti Fatur melihat wajah Anggita yang terlihat sedih akan bentakannya, sebenarnya Fatur tidak berniat seperti itu. Tangan kanan Anggita sibuk mencegah air mata yang hendak jatuh ke pipinya, bagaimanapun air mata tidak boleh tumpah di depan Fatur dan Erik.
"Sorry, gue emosi. Tolong lupakan semua ucapan Bokap gue tadi." pinta Fatur dengan nada terdengar mulai melembut seraya menatap Anggita.
Namun kata-kata Fatur terlanjut menusuk hati Anggita, membuat napasnya sedikit sesak dan kecewa. Anggita juga heran mengapa Fatur begitu sangat marah kepadanya saat dirinya bertemu dengan papanya. Anggita terdiam sesaat sambil terus menahan air mata yang sudah memenuhi pelupuk matanya.
Deg, mengapa Anggita mengingat akan apa yang diucapkan oleh papanya tadi? Rasa amarah Fatur kini memudar sudah, tidak mungkin jika dirinya berbohong kepada Anggita tentang perasannya. Jika berbohong tidak akan mungkin lagi Fatur mendapatkan kesempatan berbicara seperti ini pada Anggita. Namun saat ini terlalu cepat jika Fatur menyatakan perasannya, Fatur takut Anggita tidak akan percaya kepadanya.
Sesekali Fatur mencoba menelan ludah yang terasa begitu sangat susah, kedua bola mata yang menatap Anggita kini berubah menatap ke sembarang arah. Fatur dilema apa yang akan dijawab olehnya. Begitu juga dengan Erik yang hanya menjadi penonton di antara mereka berdua.
"Kalau itu nggak termasuk, karena memang benar apa yang dibilang sama dia. Kalau gue suka sama lo," balas Fatur mode serius menatap Anggita dengan lekat tidak peduli dengan kehadiran Erik yang ada di sampingnya.
Mendengar pengakuan Fatur membuat Erik kaget bukan main, apa dirinya tidak salah dengar atas apa yang diucapkan oleh sahabatnya itu? Mengapa bisa Fatur mengakui perasaannya semudah itu? Begitu juga dengan Anggita yang tidak menyangka jika lelaki yang baru dikenalnya mengungkapkan perasaan kepada dirinya.
"What! Nih anak nggak pake intro main tembak aja," celetuk Erik keheranan secara spontan.
__ADS_1
"Jadi bener apa yang Bokap lo bilang?" tanya Anggita lagi tidak percaya memastikan.
"Iya. Sorry gue nggak tau gimana caranya mengungkapkan perasaan sama cewek." Fatur dengan lugunya berbicara tanpa memperdulikan kehadiran Erik yang hanya menjadi kambing conge.
"Wah, bener-bener nih anak nggak ada romantis-romantisnya banget. Nembak cewek dalam keadaan begini," protes Erik yang sedari tadi tanpa rasa bersalah terus masuk ke dalam percakapan antara Fatur dengan Anggita.
Merasa mengganggu romantisme antara dirinya dan Anggita membuat Fatur sangat geram kepada sahabatnya Erik.
"Lo bisa diam nggak sih! Protes mulu kerjaan lo!" semprot Fatur kesal.
Seketika mulut Erik tertutup rapat saat bentakan Fatur menghampirinya, dan Erik berharap jika sahabatnya tidak mengusirnya dari sana.
"Sorry," ucap Erik singkat merasa bersalah dan terdiam terpaku.
"Memangnya lo belum pernah pacaran?" tanya Anggita yang merasa terharu akan ungkapan perasaan Fatur.
"Pernah, tapi kalau nembak cewek baru ini pertama kalinya."
Bagaikan ada kupu-kupu yang menari di atas kepala Anggita, hatinya terasa terbang ke awan mendengarnya. Apa saat ini Fatur sedang menggombal kepadanya? Tapi dari tatapan mata Fatur terlihat jika lelaki itu tidak berbohong.
"Kebanyakan mereka yang mengungkapkan perasannya sama gue, jadi gue nggak tahu gimana caranya ungkapin perasaan sama cewek yang gue suka," jelas Fatur lagi yang membuat hati Anggita semakin tidak karuan.
Apa Anggita sedang bermimpi saat ini? Jika memang iya satu yang Anggita harapkan agar dirinya tidak cepat terbangun dari tidurnya.
__ADS_1