
Anggita masih tidak percaya jika hubungannya dengan Damar sudah berakhir. Hampir satu tahun setengah mereka bersama dan semua impian yang selama ini tersusun rapih kini sirna sudah. Hati Anggita sakit dan hancur karena Damar semudah itu berpaling dengan perempuan lain, meskipun hanya sebatas teman.
Mungkin ini adalah jalan terbaik bagi mereka berdua untuk berpisah walaupun Damar tidak mau menerima keputusan Anggita. Tapi Anggita sudah merasa sangat kecewa atas apa yang dilakukan Damar kepdanya.
Rasa bersalah juga dirasakan oleh Alya saat mengetahui jika Damar sudah mempunyai seorang kekasih. Alya baru saja mengetahuinya dari Indra karena Alya merasa aneh dengan kepergian Damar secara mendadak. Sedari tadi Alya melamun di kamarnya, gadis berambut panjang teringat akan ucapan Indra.
"Damar udah punya kekasih dan namanya Anggita," jelas Indra saat Alya tiba di rumahnya lalu memutuskan untuk menemui Indra di cafe terdekat.
Mendengar kabar itu membuat Alya kaget bukan main, jadi selama ini ia pergi dan dekat dengan kekasih orang lain. Tapi kenapa Damar tidak memberitahunya jika dirinya sudah mempunyai kekasih. Setidaknya Alya tidak akan merasa bersalah akan pertengkaran yang terjadi antara mereka berdua, dan Anggita juga tidak akan menganggap dirinya sebagai perebut kekasih orang.
"Apa! Jadi selama ini Damar udah mempunyai kekasih?" Alya kaget menatap Indra.
"Iya. Mereka sudah hampir satu tahun setengah bersama, tapi sudah hampir dua minggu ini mereka lagi nggak bersama karena ada suatu masalah yang harus mereka selesaikan," tambah Indra lagi sambil menatap Alya.
Mendengar penjelasan Indra membuat dada Alya tiba-tiba saja sakit dan sesak, mengapa saat dirinya mulai menyukai Damar malah terjadi seperti ini. Mata Alya mulai berkaca-kaca seolah tidak tahu harus berbuat apa.
"Tapi kenapa Damar nggak pernah cerita sama gue?" Alya semakin sedih dan merasa tidak bisa menerima kenyataan jika Damar sudah mempunyai kekasih.
"Memangnya lo pernah tanya sama dia?" Indra balik bertanya.
Salahnya Alya selama ini tidak bertanya kepada Damar apakah dirinya sudah mempunyai seorang kekasih atau tidak. Bukan tidak ingin bertanya, tapi Alya merasa enggan dan sungkan untuk menanyakan masalah itu. Tapi kini semuanya sudah terlanjur nasi sudah menjadi bubur dan Alya harus mengubur perasaannya kepada Damar.
"Gue nggak pernah bertanya dan Damar juga nggak pernah membicarakan tentang kekasihnya. Jadi gue pikir kalau dia lagi sendiri."
Indra tidak bisa menyalahkan Alya sepenuhnya karena Alya tidak tahu akan status Damar. Yang Indra sesali adalah mengapa sahabatnya tidak pernah membahas atau bercerita tentang Anggita kepada Alya. Kini Damar sudah menyakiti hati dua orang perempuan yang sangat menyukainya.
Terlihat wajah Alya sangat kecewa dan sedih dengan kejadian ini, mungkin untuk saat ini Alya tidak ingin bertemu dengan Damar karena lelaki itu sudah mengecewakannya.
"Gue paham apa yang lo ucapkan, ini buka salah lo sepenuhnya. Harusnya Damar memberitahu lo lebih dulu dan sebisa mungkin menjaga jarak sama lo."
__ADS_1
"Apa yang harus gue lakukan? Apa mungkin gue harus menemui Anggita dan menjelaskan semuanya?" tanya Alya kepada Indra meminta saran.
"Gue rasa untuk saat ini biarkan mereka berdua menyelesaikan masalahnya lebih dulu."
Akhirnya Alya mengikuti perintah Indra mungkin dengan cara ini semua akan baik-baik saja, dan hubungan antara Anggita dan Damar akan kembali seperti semula. Tapi jika mereka berdua bersama lagi Alya masih belum merasa rela karena perasaannya kepada Damar mulai tumbuh.
Sedari tadi Indra dapat melihat tatapan kosong Alya yang sedih jika sahabatnya kembali bersama, apa mungkin jika Alya menyimpan perasaan kepada Damar.
"Memangnya lo suka sama Damar?" tanya Indra mencoba mencari tahu isi hati Alya.
Tatapan Indra begitu lekat menatap Alya yang tengah kebingungan antara perasaannya bagi Damar, tidak bisa bohong jika Alya juga menyukai Damar sejak pertama kali mereka bertemu.
Sikap Damar juga sangat lembut dan hangat kepadanya, jadi wajar jika Alya menganggap jika Damar juga menyukainya. Ataukah memang Damar seperti itu kepada setiap orang selain dirinya.
Sikap diam Alya bisa ditebak oleh Indra tanpa Alya harus berbicara mengakui perasannya kepada Indra. Dari setiap tatapan mata Alya kepada Damar, Indra bisa menebaknya.
"Gue harap lo harus membuang perasaan lo sekarang," kata Indra lagi saat tidak mendapatkan jawaban dari Alya yang hanya terdiam membisu.
Sudah beberapa minggu ini Tias Ayu selalu memperhatikan sikap putra bungsunya Fatur. Entah mengapa akhir-akhir ini Fatur begitu sangat lembut dan selalu ceria, perubahan drastisnya mendapatkan perhatian dari Tias Ayu dan Mili.
Terlihat malam itu Fatur tertawa dan tersenyum sendiri saat memainkan ponsel miliknya di kamar, mereka berdua menganggap jika Fatur sudah berbaikan dengan papanya. Namun tebakan mereka berdua salah besar.
"Ehem." Tias Ayu mendeham saat hendak masuki kamar putranya yang sedang sibuk memainkan ponselnya sambil duduk di meja belajar.
Mendengar ada suara yang mengganggunya seketika Fatur menghentikan aktifitasnya dan menoleh ke ambang pintu. Fatur melihat wanita setengah baya sudah berdiri menatapnya sedari tadi dengan senyum manisnya. Siapa lagi kalau bukan mamanya tercinta.
"Mama," panggil Fatur sedikit terkejut dengan mimik wajah sedikit gugup.
"Kamu kenapa kok jadi gugup?" tanya Tias Ayu saat melihat perubahan di wajah Fatur.
__ADS_1
"Mama sejak kapan ada di sana?" Fatur balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan mamanya lebih dulu.
"Baru beberapa menit," jawabnya singkat masih setia berdiri sampai putranya mengizinkan dirinya untuk masuk.
Fatur terdiam sedikit bingung apa mungkin jika mamanya melihat dirinya tersenyum sendiri saat membalas pesan dari Anggita. Kedua bola mata Fatur melirik ke kiri dan ke kanan seakan mencari alasan untuk pertanyaan-pertanyaan mamanya nanti.
"Apa mama boleh masuk?" mamanya meminta izin kepada Fatur.
"Boleh dong masa nggak boleh," sambut Fatur dengan senyum manisnya.
Langkah kaki mamanya mulai berjalan menghampiri Fatur yang masih duduk di meja belajarnya, masih dengan sikap gugupnya menatap langkah kaki mamanya yang sudah mulai mendekatinya.
"Akhir-akhir ini mama perhatikan kamu selalu bahagia?" tanya mamanya yang kini sudah berdiri di samping Fatur dan mulai menyindir putranya.
Mimik wajah Fatur malu sambil menundukkan kepalanya, ternyata mamanya selama ini memperhatikan perubahan sikapnya.
"Masa sih, Ma?" Fatur balik bertanya sambil tersipu malu dan wajahnya mulai memerah karena mamanya selalu menggodanya.
"Iya. Mama lihat kamu bahagia sekali, sering senyum sendiri, tertawa sendiri saat melihat ponsel dan emosi kamu begitu stabil nggak biasanya. Memangnya ada angin surga dari mana yang buat kamu kaya ini?"
Rasanya Fatur tidak bisa berbohong lagi kepada mamanya tentang Anggita, dan ia harus memberitahu tetang sosok Anggita kepada mamanya. Perempuan yang mulai disukainya, meski dengan perasaan malu Fatur mencoba bercerita kepada mamanya.
"Apa ini karena papa? Apa hubunganmu dengan papa sudah mulai membaik?" tanya mamanya menebak.
Namun sial mimik wajah Fatur berubah saat mendengar nama papanya, mana mungkin bisa papanya membuat Fatur sebahagia ini. Dari perubahan wajah putranya Tias Ayu bisa menebak jika itu bukan karena mantan suaminya. Jika bukan karena mantan suaminya lalu karena siapa?
"Bukan, Ma. Bukan karena dia!" tampik Fatur dengan nada tegas dan mulai sinis.
"Lalu siapa?" tanya mamanya semakin penasaran.
__ADS_1
Fatur bercerita tentang sosok Anggita kepada mamanya, dari cara bicaranya, dari cara mengingat Anggita, terlihat jelas Fatur sangat menyukai Anggita. Mamanya paham betul jika putranya sedang jatuh cinta.