
Di ruang IGD kini Anggita berada bersama dengan Fatur yang masih terbaring kaku tanpa sadarkan diri. Anggita terpaksa membawa Fatur ke rumah sakit terdekat karena begitu panik saat melihat Fatur kembali pingsan. Terlihat Anggita begitu sangat panik melihat keadaan Fatur saat ini, apa yang sedang terjadi kepadanya?
Tirai terbuka terlihat dua orang masuk menghampiri Fatur yang masih terbaring, lelaki berjas putih dengan tinggi badan yang sangat sempurna serta kacamata menempel di atas hidungnya. Wajah tampan dan kulit yang putih bersih. Dia adalah dokter IGD yang akan menangani Fatur saat ini, diikuti seorang suster perempuan berbaju hijau muda yang membuatnya sangat cantik.
"Selamat sore," sapa dokter dengan rambut spike yang terlihat masih muda.
"Sore, Dok," balas Anggita saat dokter berdiri di samping Fatur.
"Pasien pingsan secara tiba-tiba dua kali." suster itu menjelaskan apa yang sudah Anggita ceritakan kepada suster itu sebelum dokter memeriksanya.
"Apa pasien sedang sakit?" tanya dokter kepada Anggita masih setia berdiri di samping Fatur dengan mimik wajah terlihat sangat bingung.
"Aku nggak tahu dok." suara Anggita sedikit bergetar.
Anggita memang tipe perempuan yang mudah panik, setiap kali dihadapkan dalam situasi genting seperti ini membuat dirinya terlihat ketakutan entah harus berbuat apa.
"Apa Anda keluarganya?" tanya dokter lagi.
"Bukan. Aku temannya."
"Sepertinya kita harus menghubungi keluarganya," ucap dokter bernama dr. Alma yang bisa Anggita baca dengan jelas di jas putihnya.
Bagaimana caranya Anggita bisa menghubungi orang tuanya Fatur, darimana ia bisa memberitahu jika putranya sedang berada di IGD. Ups, tiba-tiba saja Anggita teringat akan ponsel milik Fatur, tapi percuma saja karena pasti ponselnya dikunci dengan sandi.
"Bisa Anda tunggu di luar karena kami akan memeriksanya," pinta dr. Alma saat Anggita tidak membalas ucapannya.
"Baik, Dok. Kalau ada apa-apa tolong beritahu aku."
"Pasti," balas dr. Alma dan Anggita melangkahkan kakinya keluar menunggu Fatur yang tengah diperiksa.
Apa yang harus Anggita lakukan saat ini? Bagaimana caranya menghubungi keluarga Fatur, itulah yang sedang Anggita pikirkan. Beberapa saat kemudian seorang perawat tadi menghampiri Anggita yang terlihat kebingungan.
"Maaf. Ini ponsel milik pasien, sepertinya ada yang menelepon karena sedari tadi berdering." perawat memberikan ponsel Fatur kepada Anggita.
Pasti itu dari mama atau papanya karena Fatur tidak pulang sejak semalam. Semoga saja mereka menelepon lagi agar Anggita bisa memberitahu jika putranya sedang berada di IGD.
"Terimakasih, Sus," balas Anggita yang mengambil ponsel Fatur dari suster.
"Aku permisi," pamit suster meninggalkan Anggita dan kembali masuk menemani dr. Alma.
__ADS_1
Ponsel hitam dengan harga sederhana kini berada di tangan Anggita. Ponsel milik Fatur bukanlah ponsel mahal yang banyak dipakai oleh orang-orang dengan harga puluhan juta. Ponsel milik Fatur terbilang ponsel biasa saja padahal papanya seorang abdi negara yang mempunyai pangkat di kota ini.
Saat Anggita terus memperhatikan ponsel Fatur tiba-tiba saja layarnya menyala, dan ada panggilan masuk. Anggita yang terdiam kini sedikit kaget apalagi membaca nama yang tertera di sana yaitu "Tarzan Kota". Sontak Anggita mengerutkan keningnya sejenak saat melihat nama yang berada dalam panggilan masuk ponsel milik Fatur.
Pasti itu dari temannya Fatur atau mungkin salah satu dari keluarganya, antara ragu dan takut Anggita begitu lama untuk mengangkatnya. Apa yang harus diucapkan oleh Anggita kepada orang yang dinamakan "Tarzan Kota" oleh Fatur?
Beberapa saat Anggita mencoba mengumpulkan tenaga untuk bisa mengangkat panggil masuk dari ponsel Fatur, dihembuskan napasnya secara perlahan dan Anggita memejamkan matanya sesaat.
"Halo, Tur! Lo kemana aja sih! Nyokap lo pusing dari semaleman cari lo nggak pulang-pulang. Lo dimana sekarang?" suara lelaki dengan nada tegas yang terdengar sedikit marah dan ketus.
Deg, detak jantung Anggita mulai bergemuruh begitu cepat. Sepertinya Anggita salah memilih untuk mengangkat panggilan masuk. Mendengar dari nada bicaranya saja sudah membuat Anggita ketakutan, apalagi jika orang itu tahu jika Fatur sedang berada di rumah sakit.
"Halo, Tur!" panggilnya lagi terdengar di telinga Anggita.
"Ha-ha-halo," balas Anggita dengan nada gugup dan ketakutan.
Sesaat tidak terdengar suara di ujung telepon sana, apa orang itu kaget jika yang mengangkat adalah seorang perempuan bukan Fatur.
"Lo siapa? Mana Fatur?"
"Fatur lagi berada di rumah sakit, dia masuk IGD gara-gara pingsan."
"Di rumah sakit mana?"
"Mitra Medika, dan Fatur masih ada di IGD."
"Tunggu gue ke sana sekarang," kata terkahir orang itu mematikan teleponnya secara sepihak yang tidak lain dia adalah Erik sahabat baiknya.
Sesuai permintaan orang tadi jika Anggita akan menunggu kedatangannya di IGD. Entah itu siapa yang diberi nama "Tarzan Kota" oleh Fatur, yang pasti lelaki itu akan membantunya untuk memberitahukan keadaan Fatur kepada keluarganya.
Hampir 15 menit Anggita menunggu orang yang baru saja meneleponnya tadi, dan barusan juga suster memberitahu Anggita jika Fatur sudah siuman dan suster itu juga bilang jika Fatur harus dirawat beberapa hari. Penyakit apa yang sedang Fatur alami sehingga dirinya harus dirawat beberapa hari.
Tidak lama seorang lelaki dengan tinggi 165 cm dengan setelah kaos berwana coklat, dipadukan jaket berwarna hitam serta celana jeans hitam menghampiri Anggita. Sepertinya Erik sudah tahu jika yang bersama dengan Fatur di IGD adalah perempuan yang pernah ditemuinya beberapa hari lalu.
"Lo cewek yang waktu itu, kan?" tanya Erik saat menghampiri Anggita ketika perempuan itu menatap Erik terasa tidak asing.
Tidak butuh waktu lama bagi Anggita untuk mengenali siapa lelaki yang ada dihadapannya itu. Dia adalah Erik sahabatnya Fatur, jadi yang menelepon Fatur tadi adalah Erik.
"Tarzan kota?" Anggita spontan mengucapkan nama yang tertulis di layar ponsel Fatur saat Erik menghampirinya.
__ADS_1
Hanya tawa ringan dan senyum simpul yang terlukis di bibir Erik, memang itu adalah panggilan untuk Erik dari sahabatnya. Ada arti dari nama itu, nama yang diberikan oleh Fatur.
"Fatur mana?" Erik balik tanya tanpa menjelaskan atau menjawab akan apa yang diucapkan oleh Anggita membuat gadis itu begitu penasaran mengapa Fatur menamai Tarzan kota di kontak ponselnya.
"Dokter bilang dia harus dirawat beberapa hari. Memang dia sakit apa?"
Sepertinya Fatur belum memberitahu Anggita tentang penyakitnya itu, tapi ada pertanyaan yang menarik perhatian Erik daripada pertanyaan-pertanyaan yang Anggita ajukan kepadanya. Mengapa bisa Fatur bersama dengan Anggita? Bukankah mereka berdua tidak saling menyukai sejak pertana bertemu? Tapi mengapa sekarang Anggita sampai mengantar Fatur ke IGD.
"Kenapa bisa lo sama Fatur?"
Mimik wajah Anggita sedikit kesal karena Erik selalu saja menghindari akan pertanyaan-pertanyaan yang diberikan untuknya.
"Ceritanya panjang," jawab Anggita dengan nada sedikit keki.
"Gue siap dengerin, kok. Mau lo cerita sepanjang apa dan sampai pagi juga gue siap dengerin," ucap Erik seakan sedikit menggoda Anggita yang terlihat kesal kepada dirinya.
Sebenarnya niat Erik hanya untuk menghibur Anggita saja, agar Anggita lupa akan rasa ingin tahunya tentang pertanyaannya kepada Fatur. Karena Fatur adalah sosok lelaki intovert dengan gengsi yang sangat tinggi, tentang penyakitnya tidak ada yang tahu selian mama, Mili, dan juga Erik.
Mendengar godaan Erik membuat Anggita mulai kesal dengan lelaki yang disebut dengan Tarzan kota oleh Fatur. Ternyata kedua lelaki itu sama saja mempunyai sifat ganjen dan playboy.
"Ternyata lo sama aja kaya temen lo!" Anggita mulai sinis berbicara dengan Erik yang memasang wajah manisnya.
Ucapan Anggita membuat Erik sedikit kebingungan akan apa arti ucapannya. Mengapa Anggita menganggap jika mereka berdua sama?
"Sama kaya gimana?" Erik bertanya semakin tidak mengerti.
"Sama-sama tukang gombal."
Betapa kagetnya Erik saat mengetahuinya ternyata baru kali ini Fatur bersikap seperti itu kepada seorang perempuan, dan itu tandanya Fatur menyukai perempuan yang ada di depan matanya.
Tidak akan banyak bicara dan bertanya yang pasti Erik sudah mengetahui jika Fatur telah menyukai Anggita. Setelah sekian lama sahabatnya menutup pintu hatinya, dan kini es batu telah mencair.
"Gue mau menemui dokter dulu dan gue harap lo nggak kemana-mana," kata Erik yang hendak pergi meninggalkan Anggita sendirian.
"Lo mau ninggalin gue sendirian?" tanya Anggita kaget melihat kepergian Erik yang baru beberapa langkah.
"Temani Fatur karena dia sangat membutuhkan lo," balas Erik saat menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Anggita.
Sebenarnya Anggita tidak mengerti akan apa yang diucapkan oleh Erik, tapi perasannya begitu khawatir kepada lelaki yang bernama Fatur. Lelaki yang selalu membuat hatinya bahagia.
__ADS_1