Jatuh Cinta Lagi

Jatuh Cinta Lagi
PENYELAMATAN


__ADS_3

Dengan mengandalkan cahaya ponsel, Gama dan Lucas berjalan menembus rerumputan liar yang tingginya sampai betis mereka.


"Hey Lu, apa kau yakin dengan sumber cahaya itu kalau itu mata hantu bagaimana?"Kata Gama yang sekarang merapat dan memegang lengan Lucas.


"Lepaskan kau ini pria, kenapa begitu penakut huh?"Lucas mengibaskan tangan Gama.


"Dan apa kau yakin kalau Vania disana, bagaimana kalau ternyata mereka telah melempar Vania ke jurang yang tadi?"


KLTAKK.


"Aww"pekik Gama.


Lucas menyentil jidat Gama."Jangan berkata sembarangan atau aku akan memukulmu hingga mati disini!"


"Iya iyaa, itu kan hanya hipotesisku kenapa kau malah marah padaku?"


"Sssssssst!!!"Lucas mengisyaratkan agar Gama diam."Kita sudah makin dekat jangan berisik lagi dan matikan saja ponselmu!"


"Kenapa dimatikan? Bagaimana kalau aku menginjak ular?"


"Kau ikuti saja langkahku! Dan apakah kau membawa kamera?"


"Kau bisa lihat sendiri Lu, kamera ini selalu stand by di leherku, hehehe."


"Baguslah, ayo kita selamatkan Vania!"


Mereka berjalan perlahan mendekat, kini sumber cahaya itu terlihat lebih terang setelah jarak mereka cukup dekat.Lucas dan Gama tidak menyangka kalau ada bangunan sebesar ini di tengah hutan.Bangunan itu terlihat cukup kokoh meski di semua sudutnya sudah ditumbuhi lumut yang membuat bangunan itu terlihat berwarna hijau.


Lucas dan Gama bersembunyi di dekat mobil Heru.


"Lu bagaimana selanjutnya?"


"Ayo kita lebih mendekat lagi, dan kau nyalakan saja kameramu!"Pinta Lucas."Kali ini aku akan benar-benar menghancurkan Heru."


"Baiklah ayo."


Mereka berdua berjalan dengan sangat hati-hati.Setelah dirasa cukup dekat,mereka mengambil posisi masing-masing.Lucas berjongkok tepat di bawah sebuah jendela,sementara Gama mencoba merekam apa yang terjadi didalam sana, ia menempatkan lensa kameranya ke sebuah celah yang tak terlalu besar.


Gama dan Lucas sama-sama memasang telinga mereka baik-baik.


Terlihat Vania didudukkan di sebuah kursi, tangannya di ikat ke belakang.Sementara Heru, ia duduk di kursi depan Vania dan menghadap ke Vania.


"Nona Vania, sekarang katakan padaku siapa yang memerintahmu melakukan ini?"Tanya Heru.


"Aku tidak tau!"Jawab Vania dengan ketusnya.


"Sekali lagi aku bertanya kepadamu, siapa yang ada dibalik semua dramamu ini dan apa tujuannya melakukan ini?"


"Apa kau tuli ya, aku kan sudah bilang aku tidak tau ya tidak tau, kenapa kau terus menanyaiku!"

__ADS_1


Karena geram dengan jawaban Vania, Heru pun mengambil tindakan.Ia mencium bibir Vania dengan kasar, ia tak memberi Vania kesempatan untuk bernapas.


Melihat itu, Lucas nampak terbakar cemburu.Ia ingin segera masuk kedalam namun tangannya segera dicekal oleh Gama.


"Sabar saja dulu, kita lihat apa yang bisa dilakukan Heru!"Kata Gama."Kalau melampaui batas, baru kita masuk."


Lucas pun tidak menyahuti Gama, tapi ia menuruti apa kata Gama.Ia kembali ke posisi semula.


Melihat Vania kesulitan bernapas, Heru pun segera melepaskan Vania.


Vania terlihat amat ketakutan, ia berusaha menggerakkan kursi yang ia duduki agar menjau dari Heru.Akan tetapi Heru segera mencegahnya dan menarik kursi itu ke posisi semula bahkan saat ini lebih posisinya menjadi lebih dekat dengan Heru daripada sebelumnya.


"Jangan kau anggap aku tidak bisa melakukan lebih dari itu Nona!"Bisik Heru di telinga Vania.


Apa yang akan dilakukannya padaku? Oh Tuhan selamatkanlah aku.


Tangan kanan Heru meraba paha putih Vania, ia menyingkap dress yang dipakai Vania lalu merobeknya sehingga membuat bagian bawah perut Vania terlihat.Heru terlihat menelan salivanya, wajahnya memerah melihat pemandangan itu.


"Nona Vania, ini yang kau inginkan bukan?"Bisik Heru lagi.


Kini kedua tangan Heru meremas paha putih Vania, ia sepertinya ingin membuat Vania terangsang.Ia menciumi leher Vania dan meninggalkan bekas merah gelap disana.Saat Heru berusaha mencium bibir Vania lagi, Vania secara spontan bertindak.Ia meludahi wajah Heru dan menendang kaki Heru menggunakan sepatu hak tingginya.


"AAAAAARGH KURANGAJAR!!!"Teriak Heru.


Ia mengepalkan tangannya, karena sangat emosi Heru pun menampar Vania lagi dengan keras sampai membuat kursi yang diduduki Vania roboh ke arah samping.Vania terlihat meringis kesakitan, tangisannya pun pecah.


Heru berjongkok dan memegang dagu Vania dengan satu tangannya.


"CUKUP!!!"Teriak Lucas.


Heru pun menoleh ke belakang, ia begitu terkejut dengan kedatangan Lucas.Ia kemudian berdiri dan menghadap kearah Lucas.


Heru bertepuk tangan menyambut kedatangan Lucas."Wah waaah, lihat siapa yang datang huh,"Heru tersenyum sinis."Ternyata kau ya dalang dibalik semua ini, berani sekali kau ya!"


"Lepaskan wanita itu, atau aku akan menghajarmu habis-habisan!"


Mendengar itu, Heru melirik kearah kedua asistennya dan menganggukkan kepalanya pelan.Kedua pria itu pun mengerti apa yang dimaksudkan Heru.Mereka berdua langsung menyerang Lucas.Dan dengan sigap Lucas menangkis serangan demi serangan kedua pria itu.


Lucas yang mempunyai latar belakang keahlian bela diri dengan mudah mengalahkan kedua pria itu hingga membuat mereka tersungkur di lantai.


"Boleh juga kemampuanmu ya!"Sindir Heru.


Ia pun juga melancarkan serangannya pada Lucas tanpa ampun.Ia menonjok tepat di perut Lucas hingga membuat Lucas terjatuh.


"Hanya itu kemampuanmu?"Kata Heru dengan berbangga diri.


Lucas terlihat semakin geram, ia mengepalkan tangannya dan langsung berdiri.Ia menangkis tangan Heru yang akan menonjok wajahnya.Ia menggenggam tangan Heru lalu menguncinya dan membuat Heru tak bisa berkutik lagi.


Lucas mengangkat dan membanting tubuh Heru ke lantai.Ia lalu menduduki tubuh Heru, ia yang sangat kalap berusaha mencekik leher Heru tapi Gama segera datang untuk mencegahnya.

__ADS_1


"LUCAS JANGAN!!!"Teriak Gama.


"Jangan mencegahku karena aku akan menghabisinya sekarang juga!"Lucas mencekik leher Heru.


"Stop Lu, dengarkan aku kalau kau membunuhnya sekarang maka kau akan berakhir di penjara!"Kata Gama seraya memegang tangan Lucas."Kau ingin membutnya menderita kan? Maka ayo kita yang penjarakan dia!"


Lucas menuruti kata Gama ia melepaskan tangannya dari leher Heru.Namun ia mengangkat tangan kanannya dan menonjok wajah Heru dengan keras hingga membuat hidung Heru mengeluarkan darah dan tak sadarkan diri lagi.


Kini ia beralih kepada Vania, ia membetulkan posisi kursi itu dan sesegera mungkin melepas ikatan tali yang mengekang tangan Vania.


"Vania maafkan aku!"Ucap Lucas yang kemudian menarik Vania kedalam pelukannya.


Lucas kemudian mengangkat tubuh Vania, ia menggendong Vania ala bridal style.


Ia membawa Vania keluar dari bangunan itu.Gama berjalan di belakang Lucas, ia menyalakan ponselnya dan menerangi jalan.


Setelah sampai di dekat mobil, Lucas meminta Gama yang mengemudikan mobil sementara dirinya menemani Vania di belakang.


Gama mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Lu apa tidak sebaiknya kita bawa Vania ke rumah sakit ya?"


"Tidak tidak usah, aku sudah mengirim pesan kepada Dokter pribadiku untuk datang ke rumahmu karena Vania saat ini menjadi incaran media jadi lebih baik kita hindari pergi ke tempat umum."


"Baiklah aku mengerti."


Mata Gama kembali fokus ke jalanan.Ia menyetir dengan tenang walaupun saat ini sedang turun hujan dan penglihatannya sangat minim.Gama tetap melajukan mobilnya dengan cepat.


Akhirnya sampailah mereka dirumah Gama.Setelah mobil berhenti,Lucas pun bergegas membawa Vania masuk ke kamarnya.


Ia menidurkan tubuh Vania di atar ranjang dengan perlahan.Lucas hatinya begitu sakit melihat keadaan wajah Vania.Ia menatap nanar wajah Vania yang pipinya biru lebam bekas tamparan Heru, dan pelipis yang terluka saat terjatuh tadi.


"Maafkan aku Vania!"Ucap Lucas sambil menitihkan air matanya.


Gama datang mengantar Dokter pribadi Lucas.Gama juga tak lupa membawa kotak P3K.


"Kenapa bisa seperti ini Tuan?"Tanya sang Dokter pada Lucas sembari memeriksa Vania.


"Nona ini korban penculikan, Dokter apakah lukanya cukup fatal dan bisakah kau sembuhkan dia!"Pinta Lucas.


"Lukanya tidak terlalu fatal, dan ini hanya luka luar saja aku akan membersihkannya agar tidak terjadi infeksi,"Jawab sang Dokter."Dan mungkin pipinya akan memar sekitar dua hari paling lama, jangan lupa oleskan ini agar bekas memarnya segera memudar!"Perintah sang Dokter sembari memberikan sebuah salep pada Lucas.


"Baik Dok, Terima kasih!"


"Iya sama-sama, kalau nanti Nona ini mengeluh ada gejala lain segera hubungi saya karena saya takut ada luka dalam juga!"Kata sang Dokter seraya membereskan peralatannya.


"Baik Dok, saya pasti akan menghubungi anda."


Dokter itu pun beranjak pergi dan diantar keluar oleh Gama.

__ADS_1


Vania sekali lagi maafkan atas keegoisanku, karena aku kau jadi seperti ini.Percayalah padaku, aku akan memenjarakan Heru setelah ini.


Gumam Lucas dalam hati sambil membelai rambut Vania yang saat ini tengah tertidur pulas.


__ADS_2